Tuesday, 17 May 2022


Intip Peluang Bisnis Urban Farming di Tengah Perubahan Iklim

12 Jan 2022, 13:50 WIBEditor : Yulianto

Webinar Urban Farming di tengah Perubahan Iklim | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Urban farming kini menjadi alternatif usaha pertanian di tengah keterbatasan lahan di perkotaan. Bukan hanya menambah segar udara perkotaan, urban farming juga bisa menjadi penyangga pangan masyarakat saat pandemi Covid-19.

Bahkan jika ditekuni dengan serius, maka kegiatan urban farming bisa menjadi ladang bisnis menggiurkan. Apalagi umumnya budidaya pertanian dilakukan secara hidroponik yang bebas penggunaan pupuk dan pestisida kimia, sehingga harga bisa masuk kategori premium.

Kepala BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) DKI Jakarta, Nurhayati mengatakan, beberapa teknologi urban farming yang dapat digunakan adalah dengan budidaya tanaman vertikal, budidaya tanaman media air (hidroponik, akuaponik dan aeroponik).

“Saat ini berkembang budidaya tanaman di rooftop, microgreen dan foot square gardening,” katanya saat Webinar Urban Farming di Tengah Perubahan Iklim yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (12/1).

Bagi yang berminat melakukan usaha hidroponik, Nurhayati mengatakan, bisa dilakukan secara sederhana. Misalnya, menggunakan botol bekas dan barang-barang bekas lainnya. Saat ini yang potensial dikembangkan di perkotaan adalah rooftop farming yakni budidaya tanaman di atas atap gedung. Kelebihannya sinar matahari langsung tanpa penghalang.

“Cara ini bermanfaat sebagai penghasil bahan pangan, kontrol suhu, manfaat hidrologi, peningkatan arsitektur, habitat atau koridor untuk satwa liar dan sarana rekreasi,” tuturnya.

Sementara itu sebagai pusat pemerintahan dan bisnis nasional, Pemerintah DKI Jakarta kini aktif mengembangkan urban farming. Sebagai kota metropolitan, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta telah menyasar beberapa lokasi sebagai pengembangan pertanian kota.

Kepala DKPKP, Suharini Eliawati mengatakan, ada beberapa sasaran yang pihaknya  garap untuk pengembangan urban farming. Misalnya lahan di rumah susun, lahan kosong dan tidur, pekarangan dan gang, sekolah, gedung-gedung dan RPTRA (Ruang Publik Terbuka Ramah Anak).

“Jangan sampai gara-gara tidak punya lahan kita tidak bisa bertani. Bahkan kami sekarang membangun akademi urban farming untuk tempat belajar masyarakat. Materinya nanti tergantung permintaan masyarakat,” tuturnya.

Untuk perluasan urban farming, Eliawati mengatakan, pihaknya mengajak masyarakat memanfaatkan rooftop bangunan, bukan hanya di gedung tapi juga di rumah untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Pemda DKI menargetkan 30 persen ruang terbuka hijau produktif dan peningkatan 30 persen produksi pertanian, peternakan dan perikanan, termasuk produk olahan.

Perhatikan Hal ini

Sementara itu Acting Business  Development Manager PT. East West Seed Indonesia (EWSI), Ridho Bilhaq mengatakan, meski dalam usaha pertanian, termasuk urban farming komponen benih hanya 3-5 persen dari total biaya produksi., namun perlakuan benih harus menjadi perhatian utama.

“Kunci sukses usaha tani adalah benih. Meski komponennya kecil tapi perannya cukup besar dalam keberhasilan produksi,” ujarnya. Karena itu saat kondisi iklim yang kerap berubah, ia mengingatkan pemilihan benih yang cocok harus diperhatikan, baik saat musim hujan maupun kemarau. 

"Untuk itu, kita perlu membuat kalender tanam dalam budidaya urban farming. Yang diperlukan adalah berkesinambungan. Jangan tanam serentak, panen serentak, setelah itu pasokan tidak ada,” katanya.

Adapun Irda Nur Ismi, penggiat urban farming Jakarta Barat mengakui, persoalan dalam urban farming adalah pemasaran. Jika hasil produksi hanya dibagikan, maka tidak menjadi solusi untuk usaha hidroponik. “Banyak yang tidak kuat modal akhirnya hanya bisa sampai empat kali tanam,” kata Sekretaris Ikonik (Ikatan Hidroponik Jakarta) itu.

Irda mengajak penggiat urban farming di DKI Jakarta dan sekitarnya untuk bergabung dalam Ikonik. Kami mengajak penggiat hidroponik bergabung dalam Ikonik. Kami juga bisa saling sharing informasi dalam budidaya,” ujarnya.

Di Ikonik menurut Irda, penggiat hidroponik akan dibantu pemasaran hasil panen. Dalam pemasaran, pihaknya sudah bekerjasama dengan tiga offtaker yakni, Hydrofarm, PT. Linotani dan EdenFarm.

“Kehadiran Ikonik juga memberikan alternatif bagi off taker menekan biaya transfortasi yang selama ini pasokannya berasal dari luar Jakarta,” katanya. Saat ini Ikonik mempunyai 48.500 lubang tanam dengan produksi 1.500 kg sayuran. Jenis sayuran yakni, kangkung, bayam, pakcoy, caisim, kailan, kale, selada dan samhong.

Bagi Sahabat Sinar Tani yang ingin mendapatkan materi dan sertifikat webinar bisa mengunduh di link bawah ini. Begitu juga jika ingin melihat siaran ulang di SINTATV.

SERTIFIKAT WEBINAR URBAN FARMING DI TENGAH PERUBAHAN IKLIM

MATERI WEBINAR URBAN FARMING DI TENGAH PERUBAHAN IKLIM

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018