Thursday, 30 June 2022


Menjaga Stabilisasi Pasokan Bawang Merah

17 May 2022, 16:00 WIBEditor : Yulianto

Webinar Bawang Merah yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT. Agricon | Sumber Foto:Sinar Tani

TABLOIDISINARTANI.COM, Jakarta---Bawang merah menjadi salah satu komoditas strategis yang menjadi perhatian utama pemerintah. Pasalnya, gejolak harga komoditas tersebut akan berdampak pada perekonomian nasional.

Karena itulah berbagai cara dilakukan untuk menyiasati agar pasokan bawang merah tetap stabil, khususnya produksi di petani. Namun salah satu kendala yang kerap dialami petani adalah hama dan penyakit (organisme pengganggu tumbuhan/OPT) bawang merah.

“Masalah ulat bawang merah pada bawang merah saat ini masih tinggi,” kata Dave Bengardi, CEO Agricon Group saat Webinar Bawang Merah, Sukses Budidaya hingga Menembus Pasar Ekspor yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Selasa (17/5).

Dave menilai, hingga kini persoalan hama dan penyakit dalam budidaya bawang merah di petani Indonesia belum sepenuhnya bisa tertangani. Bahkan telah menurunkan hasil panen. “Dalam lima tahun kami melihat telah terjadi resisten hama dan penyakit terhadap produk pengendali, sehingga tidak optimal,” katanya.

Sementara itu, Sugeng Pramono, Technical dan Marketing Manager PT. Agricon Group mengatakan, untuk sukses budidaya bawang merah tidak lepas dua hal yakni harga dan produktivitas. Bicara harga, data di pasar Ibukota DKI Jakarta harga cukup menarik yakni di atas Rp 40 ribu/kg.

“Kita harapkan harga cukup stabil agar petani terus termotivasi dalam budidaya bawang merah. Bawang merah ini sangat sensitif dalam harga. Namun demikian ada peluang bisnis ekspor yang terbuka,” katanya.

Dalam produktivitas bawang merah, Sugeng mengatakan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi yakni, luas lahan, penanganan OPT, kualitas benih, jumlah dan kompetensi tenaga kerja. Khusus untuk OPT, penyakit tanaman bawang merah utama adalah spodotera exigua (ulat grayak/beet army worm).

Sugeng mengingatkan, hama tersebut patut diwaspadai karena berkembang dengan cepat dalam satu tanaman ke tanaman lain. Apalagi hama ‘tentara’ tersebut bisa berkembang hingga 3-4 generasi atau 30 hari siklus ulat tersebut selama masa tanam bawang merah.

Dari sekian fase menurut Sugeng yang paling berbahaya adalah fase larva, karena akan ada 1.000-1.500 telur. “Ini cukup kritikal dalam penanganan, karena setelah menetas, larva akan masuk daun bisa melalui lubang yang ada di daun maupun membuat lubang sendiri,” tuturnya.

Sugeng melihat, potensi kehilangan produksi akibat serangan ulat bisa mencapai 32-42 persen. Jika petani membiarkan, maka akan gagal panen dan kerugiannya cukup besar.

Hitungan Sugeng, apabila produksi bawang merah 4 ton/ha dan harga sebesar Rp 1.000/kg, dan produktvitas turun 40 persen, maka petani akan kehilangan Rp 25 ribu/kg atau totalnya mencapai Rp 100 juta/ha. “Bagaimana kalau petani memiliki lahan lebih dari 1 ha,” tegasnya.

Karena ini Sugeng menilai, persoalan hama ulat harus menjadi perhatian utama, karena sudah menjadi endemis di Indonesia. Sedangkan petani masih kesulitan mengatasi hama tersebut. “Yang petani butuhkan sekarang adalah produk yang mampu mengatasi hama ulat dan biayanya ekonomis,” tambahnya.

Untuk itu, PT Agricon menawarkan produk Brofreya 53SC yang mampu mengendalikan hama ulat. Dalam aplikasi cukup dua kali selama musim tanam yakni 10 dan 24 hari setelah tanam. “Pada musim Februari-Maret lalu petani di beberapa sentra produksi sudah merasakan manfaat Brofreya 53SC,” ujarnya.

Sementara itu, Juwari, Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) mengatakan, budidaya bawang merah sangat unik dan perlu perhatian khusus. Karena komoditas ini sangat sensitif, sehingga perlu strategi dalam budidaya. “Menanam bawang merah itu perlu perhatian seperti kita memelihara bayi,” ujarnya.

Juwari mengatakan, bawang merah termasuk komoditas yang sangat rentan, baik karena serangan OPT maupun cuaca ekstrem akibat banjir dan kekeringan. Karena itu, jika tidak dikendalikan, maka bisa berakibat fatal, bahkan puso. “Kalau tidak diperhitungkan bisa rugikan petani,” kata Ketua Kelompk Tani Sido Makmur, Brebes ini.

Sementara itu Abdul Rahman, Analisa Perkarantinaan Tumbuhan Madya, Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati mengingatkan agar petani tidak berlebihan dalam menggunakan pestisida. Apalagi jika Indonesia akan mengekspor bawang merah.

“Negara Eropa sangat konsen terhadap keamanan hayati. Misalnya, kasus kopi Indonesia yang ditolak Jepang karena mengandung herbisida berlebihan,” katanya.

Program pemerintah Gerakan Ekspor Tiga Kali Lipat (Gratieks) menurut Rahman, harus dimulai dari on farm. Jika target ekspor tiga kali lipat, maka produksi juga harus berlipat tiga kali juga. Selain itu, pemenuhan standar mutu produksi pertanian. Baik implementasi Good Agriculture Practices (GAP), Good Handling Practices (GHP) dan Good Manjemen. “Produksi juga harus kontinyu,” ujarnya.

Bagi Sobat Tani yang akan mendapatkan materi dan e-sertifikat bisa diunduh dilink bawah ini.

Link Materi : Materi WEBINAR: BAWANG MERAH, SUKSES BUDIDAYA HINGGA MENEMBUS PASAR EKSPOR

Link e Sertifikat : Klik Disini

TV SINTA :

Reporter : julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018