Thursday, 30 June 2022


Jitu Kendalikan Penggerek Batang Padi

09 Jun 2022, 15:46 WIBEditor : Yulianto

webinar Kiat Jitu Kendalikan Penggerek Batang Padi | Sumber Foto:Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Hama Penggerek Batang Padi (PBP) menjadi salah satu organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang kerap menjadi tamu petani saat musim tanam. Sayangnya pengendalian yang petani lakukan tak sepenuhnya mampu mengatasi hama tersebut.

Dampak serangan hama PBP, bukan hanya menurunkan produktivitas tanaman, tapi juga bisa membuat gagal panen. Patut diwaspadai PBP ini akan menyerang seluruh stadia tanaman. Dari persemaian hingga masa vegetatif dan generatif. Bahkan hama ini juga bisa menyerap dua kali dalam satu musim tanam.

Saat webinar Kiat Jitu Kendalikan Penggerek Batang Padi kerjasama Tabloid Sinar Tani dan FMC di Jakarta, Kamis (9/6), Ketua Kelompok KTNA Jawa Barat, Otong Wiranta mengakui, dalam usaha tani banyak sekali tantangan. Salah satunya hama dan penyakit yang meningkat tiap tahunnya.

“Berdasarkan pengalaman cara penanggulangan hama yang sulit, pertama adalah tikus, selanjutnya hama penggerek batang padi, setelah itu wereng batang padi,” kata Otong yang juga Ketua IX Kelompok KTNA Pusat.

Menurut Otong, sulitnya pengendalian hama PBP, karena hama tersebut mempunyai siklus metamorfosis sempurna. Dari mulai telur, larva, pupa dan ngengat berlangsung cepat. Satu siklus hidup hama PBP hanya 50-60 hari. “Jika umur padi 115 hari, maka padi bisa terserang dua kali. Ini harus diperhatikan petani,” katanya.

Patut diwaspadai juga ngengat PBP bisa bermigrasi jauh, apalagi jika dibantu cahaya. Khususnya di wilayah Pantai Utara Jawa, ngengat PBP bisa terbawa cahaya lampu kendaraan. “Meski ngengat PBB akan mati dalam 5-7 hari, tapi bisa bertelur cukup banyak. Dalam kelompok telur ada 200-300 telur. Ini sangat membahayakan,” ujarnya.

Larva PBP menurut Otong juga sangat berbahaya. Pasalnya, larva akan menyerang tidak hanya satu batang padi dan bisa pindah ke tanaman lain. “PBP perlu dideteksi dini, sehingga penganggulangan sedini mungkin dari mulai pembibitan. Kalau ada serangan berarti sudah sangat telat,” katanya.

Kenali Gejala Serangan

Guru Besar Poteksi Tanaman IPB University, Prof. Dadang Hermana mengatakan, perubahan iklim membuat OPT meningkat. Hama dapat berkembang ada dua faktor yakni internal (siklus hidup, jumlah telur dan perbandingan jantan betina).

“Kalau siklus hidup pendek, jumlah telur banyak dan betina lebih banyak, maka serangan hama akan besar. Apalagi kalau ada didukung faktor eksternal seperti makanan hama cukup banyak dan faktor lingkungan,” kata Dadang.

Karena itu menurut Dadang, untuk mengatasi hama petani harus mengetahui gejala yang terlihat. Kemudian jenis hamanya. Lalu fase terjadi serangan. Jika fase vegetatif yakni sundep, sedangkan fase generatif yakni beluk.  “Tindakan pengendalian perlu dilakukan untuk mencegah kerugian lebih besar,” katanya.

Mengapa hama PBP perlu mendapat perhatian serius? Dadang mengatakan, karena serangan pada fase vegetatif dapat mengurangi anakan produktif, lalu mengurangi jumlah malai. Sedangkan serangan pada fase generatif mengurangi pembentukan malai. Selain itu imago dapat menyebar jauh, baik aktif dan pasif.

Dalam pengendalian hama, menurut Dadang bisa dilakukan dengan proses pemantauan yang dilakukan baik langsung melalui pengamatan pada persemaian dan pada pertanaman padi. Sedangkan pengamatan tidak langsung dari informasi dari petani lainnya dan media sosial. “Setelah itu dilakukan pencegahan dan pengendalian,” ujarnya.

Sementara itu, Senior Manager FMC, Agus Suryanto mengingatkan dalam pengendalian hama penyakit, khususnya menggunakan pestisida harus tepat sejak awal agar terhindar dari kerugian. Apalagi pemerintah memprogramkan IP 300-400 justru menjadi tantangan karena makanan hama ada terus menerus.

Hama PBP menurut Agus, merupakan salah satu hama utama tanaman padi, karena menyerang dihampir semua stadia tanaman. Lebih dikhawatirkan lagi serangannya dapat menyebabkan pengurangan jumlah produksi dan kematian tunas. “Serangan Penggerek Batang Padi menyebabkan kehilangan hasil yang lebih tinggi,” tegasnya.

Namun Agus melihat, ketika serangan PBP tinggi, petani salah dalam melakukan pengendalian. Misalnya menggunakan insektisida kimia berlebihan, menggunakan pestisida tidak resmi, bahkan mencampur berbagai pestisida. Padahal cara tersebut justru merugikan petani dan menimbulkan dampak kurang baik bagi lingkungan.

Artinya petani harus bijaksana dan cerdas dalam menggunakan pengendalian hama penyakit. Nah, bagi sobat Sinar Tani yang akan mendapatkan meteri dan E Sertifikat bisa mengunduh di link bawah ini.

Link Materi : Klik Disini

Link E Sertifikat : Klik Disini

 

Reporter : julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018