Thursday, 16 July 2026


Mengungkit Produksi Pangan

24 Nov 2014, 07:02 WIBEditor : Ahmad Soim

Swasembada pangan tetap menjadi fokus target Pemerintahan Jokowi. Untuk mengungkit produksi pangan, khususnya padi, jagung dan kedelai, pada awal kerja pemerintah bergegas menyelesaikan tiga pekerjaan rumah (PR) besar. Yakni, penyaluran benih dan pupuk, perbaikan infrastruktur khususnya jaringan irigasi dan mengatasi menurunnya jumlah tenaga kerja petani.

Untuk benih, pemerintah akan memperbaiki sistem penyaluran benih subsidi agar tepat sasaran sampai ke petani. Saat ini tengah dikaji, penyaluran benih subsidi melalui perusahaan pelat merah alias BUMN. Tidak dilakukan secara tender, tapi penunjukan langsung.
PR kedua adalah infrastruktur irigasi. Pemerintah telah menca­nang­kan perbaikan jaringan irigasi seluas 3 juta hekhar (ha) dan perbaikan 25 waduk hingga tahun 2017. PR ketiga adalah makin menurunnya tenaga kerja petani. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah akan mendorong mekanisasi pertanian.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil saat Rakernas Pembangunan Pertanian di Jakarta, pekan lalu mengatakan, pemerintah akan tetap memberikan subsidi benih kepada petani. Untuk mempercepat penyaluran benih subsidi tersebut pemerintah akan menunjuk langsung kepada perusahaan.
“Kami akan menunjuk lang­sung perusahaan yang menya­lurkan benih subsidi. Ini agar benih subsidi cepat sampai ke petani. Apalagi kita akan masuk musim tanam. Tapi siapanya? Kami belum putuskan,” tegasnya.
Selain mempercepat penya­luran benih ke petani, Sofyan mengatakan, pemerintah juga akan mempercepat perbaikan iri­gasi. Saat ini menurutnya, yang dibutuhkan dalam pertanian ada­lah memaksimalkan lahan yang sudah ada, bukan penambahan areal lahan pertanian. Dengan perbaikan irigasi, diharapkan, produktivitas padi bisa meningkat. Dari yang rata-rata hanya 5,1 ton/ha naik menjadi 6 ton/ha,
Untuk mengungkit produk­si pangan, pemerintah juga mendorong penggunaan mekani­sasi pertanian. Hal ini mengingat jumlah tenaga kerja petani yang makin menyusut. Penggunaan teknologi juga dapat menekan kehilangan hasil panen.
“Sekarang ini kehilangan hasil sungguh tinggi. Diperkirakan setiap panen kehilangan hasil sebanyak 20-30%. Itu harus dite­kan. Dengan cara apa? Ya dengan penggunaan teknologi. Intinya untuk mencapai kedaulatan pangan harus membuat kebijakan per­tanian yang konstitusional. Itu kunci keberhasilannya,” tutur Sofyan.

Rehabilitasi Irigasi

Harus diakui, untuk mewujud­kan kedaulatan pangan memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak persoalan yang menjadi kendala. Antara lain, konversi lahan pertanian ke non pertanian sebesar 100-110 ribu ha/tahun, jaringan irigasi yang rusak hingga 3,3 juta ha, jumlah rumah tangga petani yang makin menurun dan kehilangan hasil hingga 10,82%.
Belum lagi, perubahan iklim yang membuat makin sulit di­prediksi, akses pembiayaan peta­ni terbatas, kelembagaan yang belum optimal, serta koordinasi antar instansi terkait belum maksimal.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, untuk men­capai swasembada pangan, pertama kali yang akan pemerintah benahi adalah rehabilitasi jaringan irigasi 1 juta ha/tahun, penyediaan benih, alsintan, pupuk, dan optimalisasi penyuluhan. “Faktor-faktor kunci swasembada dalam jangka 3-4 tahun ke depan adalah memperbaiki irigasi,” katanya.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018