Kamis, 22 Januari 2026


Antisipasi Kekeringan Sejak Dini

06 Jul 2015, 19:58 WIBEditor : Ahmad Soim

Ancaman kekeringan mulai melanda sejumlah sentra produksi pangan. Selama ini setidaknya ada 96 kabupaten diprediksi mengalami kekeringan, dengan luas lahan yang endemis kekeringan 189 ribu ha.

Badan Meteorologi, Klimato­logi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi akan terjadi fenomena El-Nino moderat yang menyebabkan kemarau panjang pada Juli hingga November. El-Nino moderat ditandai dengan berkurangnya intensitas hujan saat tengah memasuki musim kemarau.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengakui, memang ada wilayah Indonesia yang endemis kekeringan setidaknya luasnya mencapai 200 ribu ha. Dengan data tersebut pemerintah telah melakukan antisipasi sejak awal. Misalnya, sejak Januari lalu ada program perbaikan irigasi, pembuatan embung dan pemberian pompa air, serta bantuan alat mesin pertanian agar petani bisa mempercepat tanam saat masih ada hujan.
“Setelah melihat beberapa tempat yang terancam kekeringan seperti di Bojonegoro, Jawa Timur; Demak, Grobogan, Pati di Jawa Tengah; serta Indramayu dan Cirebon di Jawa Barat, kami langsung mendistribusikan pompa air. Alhamdulillah, lahan yang sebelumnya terancam kekeringan bisa terselamatkan,” kata Amran usai menutup Sidang Regional Dewan Ketahanan Pangan di Bogor, Jumat (3/7).
Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Hasil Sembiring mengatakan, dengan peringatan El Nino tersebut menjadi bahan untuk mengantisipasi sejak dini ancaman kekerinan.  “Kami bersama teman-teman daerah sudah bersiap menghadapi El nino moderat. Mudah-mudahan tidak terjadi, Kalau pun terjadi, kami sudah menyiapkan diri seperti menyediakan pompa, melakukan advokasi ke daerah,” ujarnya.
Meski telah menyiapkan langkah antisipasi, Hasil menga­ku khawatir terjadi gagal panen. Pasalnya, banyak petani yang sudah mengetahui terjadi keke­ringan, tapi masih menanam padi dengan mengharapkan keberuntungan turunnya hujan. Karena itu, advokasi ke berbagai daerah sangat diperlukan.
Berdasarkan data dari Direk­torat Perlindungan Tanaman Pangan Kementan, tanaman padi yang terkena kekeringan pada musim kemarau (MK) 2015 (April-Mei) seluas 5.773 ha (puso 70 ha). Dibandingkan luas tanam MK 2015 (2.764.064 ha), luas terkena yang terkena kekeringan sebesar 0,21% sedangkan puso sebesar 0,003%. 
Luas tersebut lebih rendah dibandingkan MK 2014 seluas 5.884 ha (puso: 2.046 ha). Kekeringan terutama terjadi di Provinsi Jawa Timur 4.550 ha dan puso 5 ha, Sumatera Utara 570 ha dan puso 49 ha, Sulawesi Selatan 369 ha, tidak ada puso. Sementara di Sulawesi Barat  lahan padi yang kekeringan seluas 140 ha dan Aceh 118 ha dengan; puso 16 ha.
Untuk tanaman jagung yang terkena kekeringan pada MK 2015 (April-Mei) seluas 30 ha (tidak ada puso). Dibandingkan MK 2015 (308.305 ha), luas terkena kekeringan sebesar 0,01%. Luas tersebut lebih tinggi dibandingkan MK 2014 seluas 216 ha (puso 7 ha). Kekeringan terjadi di Provinsi Sumatera Utara (30 ha; tidak ada puso).
Sedangkan tanaman kedelai yang terkena kekeringan pada MK 2015 (April-Mei) seluas 179 ha (tidak ada puso). Dibandingkan MK 2015 (352.090 ha), luas terkena serangan kekeringan sebesar 0,05%. Luas tersebut lebih rendah dibandingkan MK 2014 seluas 630 ha (puso 15 ha). Kekeringan terjadi di Provinsi Aceh (179 ha, tapi tidak ada puso).
Ke depan menurut Hasil, perlu inovasi baru dalam menghadapi kekeringan. Misalnya, pompa mobile yang bisa dimobilisir kemana-mana. Idealnya ke depan daerah-daerah yang endemis kekeringan harus diberikan pompa dalam. “Jika diberikan pompa kecil airnya susah atau terbatas. Kalau pakai pompa dalam seperti di Madiun, Ngawi, Sragen, Kediri, Bojonegoro pompanya besar-besar sehingga air yang diperoleh deras. Hal tersebut merupakan salah satu upaya penanggulangan jangka panjang,” tuturnya. 
Kedua, menurut Hasil, bagai­mana memanfaatkan kalen­der tanam dengan baik. Untuk daerah yang endemis kekeringan agar didorong penanaman pala­wija. Namun jika ingin tetap menanam padi sebaiknya yang berumur pendek seperti Silu­gonggo, Dodokan, Inpari 1, 2 dan 13.
Namun masalahnya kadang memproduksi benih di sekitar yang sulit. Karena itu, pemerintah membangun 1.000 Desa Mandiri Benih, sehingga benih yang dihasilkan  lokal spesifik. “Desa mandiri benih itu diharapkan mendorong pengembangan benih spesifik lokasi dan varietas yang tidak dapat diproduksi massal bisa diproduksi kelompok petani,” katanya.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018