Saat musim kemarau, kekeringan menjadi langganan tiap tahun bagi sentra produksi pangan. Sayangnya, bencana yang cukup merugikan petani tersebut tak pernah bisa diselesaikan. Karena itu harus ada solusi permanen mengatasi, paling tidak mengurangi kerugian dampak kekeringan.
Data Kementerian Pertanian, dalam lima tahun terakhir (2009-2013) hampir 182.521 (ha) lahan sawah padi yang terkena kekeringan dan yang puso (rusak berat) 28.920 ha. Pada tahun 2014, luas areal yang kekeringan justru meningkat hingga 216.345 ha dengan lahan yang puso seluas 35.423 ha. Bahkan pada tahun ini, diprediksi luas kekeringan makin meluas. Sejak Januari-Juli sudah mencapai 264.103 ha dan yang puso sekitar 17.892 ha.
Untuk antisipasi kekeringan Kementerian Pertanian telah mempersiapkan skenario terburuk mengantisipasi dampak kekeringan 2015. Bahkan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengaku optimistis produksi pangan aman. Jadi meski beberapa sentra produksi pangan terkena kekeringan, tapi tidak semua kering.
Apalagi selama periode Oktober 2014 - Maret 2015 ada penambahan tanam padi hingga 400 ribu ha. Sementara, total lahan tanam padi se-Indonesia seluas 14 juta ha. Hingga Agustus telah ada panen padi seluas 12,5 juta ha. Jadi, tinggal 1,5 juta ha yang belum panen. “Standing crop inilah yang harus kita selamat,” ujarnya.
Bangun Embung
Meski luas lahan yang terkena kekeringan relatif lebih sedikit dibandingkan luas tanam, tapi menurut Amran, harus ada solusi permanen untuk mengatasi kekeringan di daerah pertanian. Di antaranya dengan pembangunan embung, sumur dalam, dan sumur dangkal. Dengan demikian lahan tadah hujan yang kerap dilanda kekeringan pada musim kemarau tetap produktif.
“Pemerintah mengatasi lahan tadah hujan pada musim kemarau saat ini, dengan solusi permanen yakni program pembangunan embung, sumur dalam dan dangkal," kata Amran.
Dengan solusi permanen tersebut diharapkan lahan pertanian, khususnya tadah hujan yang ‘tidur’ selama musim kemarau bisa ‘bangun’. Tahun ini pemerintah telah memprogramkan pembangunan sebanyak 10-20 ribu embung, sumur dangkal di seluruh Indonesia.
“Pemerintah telah menyiapkan pembangunan embung untuk lahan seluas 3,3 juta ha lahan tadah hujan di Indonesia. Jika ini bisa optimal, maka lahan selama enam bulan yang seharusnya tidak ditanami akan bangun,” katanya.
Untuk pembangunan embung dan sumur dangkal tersebut, pemerintah tahun depan telah menyiapkan anggaran sebanyak Rp 2,2 triliun. Anggaran itu, dari dua sumber yakni diambil langsung dari Kementerian Pertanian dan dana alokasi khusus (DAK).
“Kami siapkan anggaran untuk mengatasi daerah kekeringan tahun ini sebanyak Rp 800 miliar. Tahun depan disiapkan sekitar Rp 2 triliun untuk pembangunan embung seluruh Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementerian Pertanian, Soemardjo Gatot Irianto mengatakan, hingga kini pemerintah telah mendistribusikan 36 ribu pompa air ke beberapa daerah. Misalnya, Jawa, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan dan Lampung. “Melalui bantuan pompa para petani bisa memanfaatkan sumber-sumber air sungai dan air tanah dangkal untuk pengairan lahan,” katanya.
Namun lanjut Gatot, dalam kondisi musim kemarau yang diperlukan petani bukan lagi pompa air. Sebab, sejauh ini sudah ribuan bantuan pompa air disalurkan ke petani. “Yang paling dibutuhkan petani adalah ketersediaan airnya,” ujar dia.
Gatot berharap, pada tahun 2016 pemerintah menyediakan anggaran sebesar Rp 4 triliun untuk mengatasi dampak kekeringan. Di antaranya dengan membangun sebanyak mungkin embung sebagai sarana penampungan air. “Langkah-langkah antisipasi untuk bisa berburu air, sangat penting dilakukan sedini mungkin karena bisa mengurangi dampak negatif yang dihadapi petani,” katanya.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Ahmad Soim