Thursday, 03 December 2020


Produksi Anjlok, Petani Cabai Terpaksa Naikkan Harga Jual

17 Apr 2013, 05:28 WIBEditor : administrator
Jakarta - Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) menyatakan produksi cabai tahun ini anjlok akibat banjir dan perubahan cuaca ekstrem. Ketua Umum AACI Dadi Sudiyana memperkirakan produksi cabai anjlok hingga 70 persen. 
Menurut Dadi, anjloknya produksi cabai membuat petani terpaksa menaikkan harga jual cabai. “Biasanya panen cabai pada Februari sampai April, tapi banyak petani yang gagal panen dan harga memang akan menjadi tinggi,” kata Dadi kepada Tempo, Sabtu, 16 Februari 2013.

Ia menambahkan, seharusnya harga cabai turun pada saat memasuki musim panen. Namun, karena diperkirakan banyak yang gagal panen, harga terus naik di tingkat petani. Harga cabai rata-rata saat ini di tingkat petani berkisar Rp 8.000-Rp 15.000 per kilogram. Padahal, jika tidak mengalami gagal panen, biasanya harga cabai di tingkat petani sebesar Rp 6.000 per kilogram.

Petani, kata dia, terpaksa menaikkan harga jual cabai untuk menutupi biaya produksi. Pasalnya, biaya produksi cabai sekitar Rp 60 juta per hektare. Karena itulah, dia menambahkan, harga cabai di tingkat petani tidak boleh di bawah Rp 7.000 per kilogram.

“Karena biasanya satu hektare bisa produksi 10 sampai 15 ton, tapi karena banjir ini produksi hanya 5 sampai 8 ton per hektare. Berarti supaya biaya bisa kembali, harga cabai rata-rata harus di kisaran itu.”

Ia mengatakan, banjir telah membuat hampir sebagian besar sentra produksi cabai mengalami gagal panen. Beberapa wilayah yang terkena banjir dan menyebabkan anjloknya produksi di antaranya Jawa Timur (Jember, Banyuwangi, Kediri), Jawa Barat (Ciamis, Tasikmalaya, Bandung, Cianjur, Sukabumi), dan Jawa Tengah (Sragen, Brebes). 

“Pulau Jawa ini menyumbang sekitar 60 persen dari total produksi nasional,” ucapnya. 


Dadi meminta pemerintah segera tanggap mengatasi permasalahan petani cabai ini. Pemerintah diminta melindungi petani dengan memberikan kucuran modal agar bisa menanam kembali. Atau memberikan kemudahan bagi petani untuk mengakses kredit seperti KUR (kredit usaha rakyat) dan KKPR (kredit ketahanan pangan dan energi). “Petani juga membutuhkan pendampingan setelah produksinya gagal panen.”

Di Pasar Induk Kramat Jati, harga cabai keriting tercatat Rp 17.000 per kilogram, harga cabai merah naik tipis dari Rp 17.500 per kilogram menjadi Rp 18 ribu per kilogram. Sementara itu, harga cabai rawit juga naik dari Rp 18 ribu menjadi Rp 20 ribu per kilogram.

ROSALINA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018