Saturday, 16 January 2021


Menerobos Pasar Ekspor

07 Oct 2013, 13:59 WIBEditor : Ahmad Soim

Salak menjadi salahsatu komoditi hortikultura yang berpotensi besar di pasar ekspor. Bukan hanya pasar Asia, beberapa negara Eropa, Amerika Serikat juga mempunyai minat tinggi terhadap buah yang kerap disebut sebagai snake fruit, karena kulitnya seperti sisik ular.

Sebagai buah eksotik, salak merupakan buah meja yang sangat populer. Bangsa China sangat menyukai buah ini karena percaya dengan memakan salak membuat kulit menjadi bersih dan sehat. Bahkan dapat menyembuhkan penyakit diare.
Dari hasil penelitian, buah yang banyak terdapat di Pulau Jawa ini memiliki kandungan gizi cukup tinggi. Hasil kajian Pusat Penelitian Gizi dan Makanan, Kementerian Kesehatan, kandungan betakaroten salak cukup tinggi, sehingga buah ini dapat menggantikan wortel untuk menjaga kesehatan mata.
Menteri Pertanian, Suswono mengatakan, peluang pasar produk hortikultura cukup besar. Bukan hanya pasar dalam negeri, tapi juga mancanegara. Salahsatu produk hortikultura yang sangat banyak peminatnya di luar negeri adalah buah salak. Beberapa negara seperti China dan Jepang sudah menerima salak Indonesia.
“Buah seperti salak bisa terus dikembangkan ke pasar ekspor yang lebih luas, asalkan persyaratan mutu ekspor bisa dipenuhi,” katanya saat meresmikan Pekan Flori dan Fauna Nasional (PF2N) di Yogyakarta, Rabu (2/10) lalu. 
Namun yang menjadi persoalannya, sejauh mana kemampuan produksi dalam negeri memasok permintaan tersebut. Bukan hanya dari sisi kontinuitasnya, tapi juga kualitas buah salak tersebut. Karena itu, Suswono meminta petani salak menjaga kualitas buah yang dihasilkan. 
“Jangan sampai meningkatnya permintaan, justru melemahkan seleksi buah yang akan diekspor. Saya minta petani meningkatkan produksi, tapi tetap menjaga kualitas. Pemerintah akan memberikan dukungan,” tegas Suswono.
Ke depan, Suswono mengakui, tantangan dan tuntutan masyarakat terhadap buah berkualitas makin tinggi. Kementerian Pertanian telah membuat menetapkan standar Good Agriculture Practices (GAP) dan Good Handling Practices (GHP). “Jadi harus kita bisa hilangkan stigma yang mengatakan produk hortikultura kita tidak stabil produksinya dan mutunya belum terstandar,” katanya.

Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 0813175

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018