Sunday, 24 January 2021


Menuju Sawit Ramah Lingkungan

23 Oct 2013, 10:32 WIBEditor : Ahmad Soim

Status produk ramah lingkungan ternyata tidak begitu mudah bisa diraih oleh minyak sawit mentah (CPO) yang dihasilkan di Indonesia. Pemerintah RI kembali gagal memperjuangkan masuknya komoditas ekspor tersebut dalam daftar produk ramah lingkungan (environmental goods) pada event KTT APEC 2013 di Bali.

Mengecewakan, sudah tentu. Karena dengan kegagalan tersebut berarti CPO asal Indonesia tidak mendapat keringanan tarif bea masuk (BM) maksimal 5 persen. Sebagai solusinya, pemerintah RI mengajukan sawit bersama karet, rotan dan beras sebagai produk yang berkontribusi terhadap pertumbuhan berkelanjutan, pengentasan kemiskinan dan pembangunan pedesaan.
Melalui mekanisme tersebut pemerintah berharap komoditas-komoditas andalan Indonesia itu juga akan mendapatkan keringanan BM maksimal 5 persen mulai tahun 2015. Prakarsa tersebut masih harus dibahas lebih lanjut dalam dialog kebijakan perdagangan tahun depan.
Apapun hasilnya nanti, kalangan pengusaha minyak sawit nasional serta pihak-pihak terkait lainnya pada dasarnya tetap mengharapkan CPO bisa masuk daftar produk ramah lingkungan. Mereka beralasan, jika bisa masuk dalam daftar produk ramah lingkungan akses pasar CPO akan semakin mudah karena komoditas pangan yang penting ini tidak lagi menjadi sasaran tembak kampanye negatif sebagai produk yang merusak lingkungan. 
Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa menegaskan, adanya isu negatif mengenai minyak sawit Indonesia tidak ramah lingkungan, tentu saja mengganggu kestabilan perekonomian negara. Dengan adanya isu ini, Indonesia yang merupakan produsen terbesar kelapa sawit terus mencoba untuk meyakinkan dunia bahwa isu itu tidak benar. 
Harus bisa ditunjukkan bukti bahwa Indonesia sudah masuk ke dalam tahap pengembangan perkebunan berkelanjutan yang mengarah kepada isu sosial dan lingkungan. 
Dari segi sosial, dengan adanya perkebunan sawit yang berkelanjutan maka pendapatan daerah akan meningkat. Pengangguran berkurang karena terciptanya lapangan pekerjaan. Sedangkan dari segi lingkungan, limbah yang mengandung gas metan, dapat dimanfaatkan sebagai sumber tenaga listrik di mana dari 6 ton TBS (tandan buah segar) dapat dihasilkan listrik 2 megawatt. 
 “Kalau aspek positif ini lebih gencar disosialisasikan maka isu-isu negatif mengenai minyak sawit Indonesia otomatis akan hilang,” kata Hatta di acara Palm Oil Industry Development Conference 2013 yang berlangsung di Jakarta belum lama berselang.
Menurut Nusa Eka, dari Direktorat Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan RI, pemerintah telah secara nyata meningkatkan intensitas promosi dan advokasi yang terintegrasi dalam menghadapi kampanye negatif terhadap sawit Indonesia, antara lain melalui kegiatan Green Campaign ke negara-negara konsumen kelapa sawit Indonesia yang bertujuan untuk meluruskan persepsi yang salah terhadap kelapa sawit RI.
Bentuk kegiatan ini adalah workshop, seminar, diskusi dan berbagai kegiatan promosi serta advokasi lain dengan melibatkan seluruh stakeholder perkelapasawitan nasional bersama dengan perwakilan RI di luar negeri. Dalam hal ini digunakan pula skema Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai alat promosi, advokasi dan kampanye publik untuk memperkuat posisi tawar kelapa sawit Indonesia.

Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 0813175

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018