Sunday, 24 January 2021


Pola Tertutup Bantuan Benih

26 Nov 2013, 15:15 WIBEditor : Ahmad Soim

‘Pengalaman adalah sebuah pelajaran berharga’. Pepatah ini ternyata berlaku untuk menggambarkan kebijakan pemerintah dalam penyaluran benih bersubsidi.

Kisruh bantuan benih subsidi tanaman pangan yang sempat terjadi pada tahun 2012 memberikan pelajaran tersendiri bagi pemerintah. Kebijakan mengubah pola bantuan benih yang semula dengan PSO (public service obligation) hanya kepada perusahaan negara menjadi lelang terbuka untuk semua perusahaan (BUMN dan swasta) ternyata menimbulkan masalah.
Apa yang terjadi? Salah satu perusahaan swasta yang mendapat kesempatan menyalurkan benih tanaman pangan di wilayah Sumatera, kecuali Lampung ternya­ta tak memenuhi kewajibannya. Inspektorat Jenderal, Kementerian Pertanian, R. Azis Hidajat menga­takan, akibatnya negara menderita kerugian hingga Rp 9,7 miliar. 
Dari hasil pemeriksaan auditor Itjen ternyata tidak ada benih yang diserahkan petani. Padahal pemerintah sudah membayarkan subsidi benih ke perusahaan tersebut. “Ini menjadi pelajaran bahwa penyaluran benih dengan mekanisme lelang akan menyulitkan. Karena itu rekomendasi Itjen adalah agar penyaluran benih padi kembali dengan PSO,” katanya kepada Sinar Tani di sela-sela Forum SPIP di Ciloto, Cianjur, beberapa waktu lalu.
Azis mengatakan, dengan mekanisme penyaluran benih tanaman pangan subsidi dengan PSO melalui BUMN, pemerintah akan mudah mengawasi. Sebab, perusahaan pelat merah selalu diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Jadi tidak ada penyaluran benih yang fiktif, karena akan selalu diperiksa aparat kabupaten dan provinsi,” katanya. 
Sebaliknya dengan sistem lelang, menurut Azis, justru menyulitkan, karena perlu waktu. Untuk proses lelang akan memakan waktu cukup lama, bahkan satu musim tanam bisa terlewati. Belum lagi harus menunggu turunnya DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). 
Kasus yang terjadi pada tahun 2012 lalu, penyaluran benih sangat terlambat karena baru mulai pada Juni. Padahal musim tanam sudah mulai sejak Januari-Februari. Akibat keterlambatan itu, penyerapan benih subsidi hanya mencapai 40-45%. “Karena itu pada tahun 2014 sebaiknya penyaluran benih subsidi tetap dengan pola PSO agar bisa diawasi lebih ketat,” kata Azis.

Untuk informasi yang lebih lengkap baca EDISI CETAK TABLOID SINAR TANI (berlangganan Tabloid SINAR TANI.  SMS ke : 0813175

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018