Pemerintah telah mencanangkan percepatan tanam padi pada musim tanam (MT) 2015-2016 pada 13 Desember 2015 lalu menyusul mulai datangnya hujan. Gerakan tersebut untuk mengejar luas tanam yang telah ditargetkan, karena kemunduran tanam selama dua bulan pada Oktober dan November 2015.
Dalam surat tanggal 10 Desember 2015 No. 4895/TP.010/A/12/2015 tentang Gerakan Percepatan Tanam Serentak yang ditujukan kepada Bupati/Walikota wilayah Upsus Pajale dan Kepala Dinas Pertanian, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman meminta kepada Bupati/Walikota dan Kepala Dinas Pertanian Provinsi/Kabupaten/Kota untuk melakukan Gerakan Percepatan Tanam secara serentak di wilayahnya musim tanam MH 2015/2016.
Gerakan tanam tersebut agar dilaksanakan hingga tingkat desa dengan menggerakkan semua tenaga penyuluh dan petugas lapangan lainnya dibantu para Babinsa. Melalui Gerakan Percepatan Tanam, pemerintah berharap petani setelah kemarau panjang dapat berusahatani kembali. Dalam surat tersebut, Amran juga meminta penyuluh menggerakkan petani melakukan tanam padi serentak desa dibantu Babinsa.
Kementerian Pertanian menargetkan selama periode Oktober 2015-Maret 2016 ada sekitar 9 juta hektar (ha) luas tanam padi. Sedangkan selama periode Oktober-Desember sekitar 4-5 juta ha. Namun upaya pemerintah menggerakkan percepatan tak semudah membalikkan telapak tangan.
Sejak Oktober-Desember 2015, sejumlah daerah yang menjadi target percepatan tanam seperti di Pantai Utara Jawa (Pantura) belum semuanya tanam, karena belum turun hujan. Bahkan, ada sejumlah daerah lainnya, baik di Jawa maupun di luar Jawa curah hujannya relatif rendah.
Lahan Irigasi
Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir mengatakan, memang pada Oktober 2015 sudah ada percepatan tanam sampai Desember 2015. Bahkan pemerintah telah membantu sejumlah daerah yang melakukan percepatan tanam untuk mengebor tanah dan membeli pompa air.
Tapi meski sudah ada bantuan alat pertanian, tapi setiap daerah memiliki karakteristik sendiri. Sehingga ada daerah yang sudah optimal dan ada juga yang belum optimal melakukan percepatan tanam.
Winarno mencatat, pada Oktober 2015 lalu yang bisa melakukan percepatan tanam padi sebagian besar terjadi di daerah irigasi teknis. Luasnya hanya sekitar 1 juta ha, terutama sawah yang telah dilengkapi irigasi teknis dengan kapasitas besar. Itupun hanya tersebar di Karawang, Subang, dan sebagian Indramayu, karena airnya sudah dijamin irigasi teknis dari Waduk Jatiluhur.
“Kalau percepatan tanam yang telah dilakukan pada Oktober 2015, praktis berlangsung di perwasahan yang memiliki irigasi teknis. Di luar itu, seperti di area pertanian lainnya seluas 8,1 juta ha umumnya berupa sawah tadah hujan, pasang surut, dan irigasi semi teknis,” papar Winarno.
Winarno tak menepis memang ada sejumlah daerah tadah hujan seperti di Aceh, Sumatera Utara, dan Riau sudah tanam padi pada November 2015. Hanya saja, percepatan tanam padi yang dilakukan di kawasan tersebut masih parsial, luasnya diperkirakan sekitar 500 ribu ha. “Ada daerah yang memiliki sawah irigasi non teknis dan pada saat itu (November, red) telah memasuki musim hujan,” katanya.
Memasuki Desember 2015 hingga Januari 2016 ada sebagian daerah yang belum memasuki musim penghujan, seperti di kawasan Pantura Jawa. Untuk bertanam padi, sejumlah petani di Pantura Jawa masih mengandalkan air dari saluran. Di beberapa kawasan lainnya, hanya sawah yang berada di saluran tersier (golongan 1) yang bisa teraliri air. Sedangkan sawah golongan 2 (lebih ke dalam lagi) belum tersentuh. Apalagi sawah golongan 3 belum tersentuh air sama sekali.
Winarno mengatakan, petani di Pantura Jawa, seperti di Indramayu sebelum Desember 2015 memang sudah tanam. Namun, setelah itu hujan tak turun lagi. Jika ada hujan, maka curahnya belum tinggi. Pada Januari 2016, rata-rata hujan hanya 2-3 kali per minggu. “Karena rekahan tanah di sejumlah daerah seperti di Indramayu cukup besar, sehingga ketika hujan, air langsung terserap ke tanah,” katanya.