Kakao menjadi salah satu komoditi perkebunan yang berperan mengisi kocek negara melalui devisa ekspornya. Bahkan Indonesia menjadi tiga terbesar penghasil kakao dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.
Sayangnya, kondisi di dalam negeri justru kurang menggembirakan. Produksi bahan baku cokelat ini kini tengah menghadapi ancaman. Di lapangan, banyak petani yang sudah tidak tepat dalam menerapkan budidaya yang baik, baik dalam pemeliharaan dan pemupukan tanaman.
Jika kondisi tersebut dibiarkan, maka ancaman terhadap produksi kakao Indonesia benar-benar ada di depan mata. Apalagi di sisi lain, program gerakan nasional kakao atau yang dikenal dengan Gernas Kakao yang bertujuan memperbaiki produktivitas tanaman dan meningkatkan mutu kakao telah dihentikan pada tahun 2013.
Menurut Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Gamal Nasir, salah satu penyebab terjadinya penurunan produktivitas tanaman kakao karena petani mulai mengabaikan cara budidaya dengan baik. Misalnya dalam penggunaan dan menaburkan pupuk sudah tidak tepat lagi, bahkan ada yang tidak memberikan pupuk.
“Petani perlu diajari dan dibimbing di lapangan. Belum ada tata kelola dalam budidaya dan kesuburan tanah,” kata Gamal saat membuka Workshop Manajemen Berkelanjutan Kesuburan Tanah dan Pemupukan Kakao di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Karena itu menurut Gamal, petani perlu mendapat penyuluhan dan pendampingan. Tanpa adanya penyuluhan, maka bantuan yang pemerintah berikan baik pupuk dan benih tidak akan terlihat keberhasilannya. “Jadi di lapangan banyak perlu dibenahi dalam budidaya kakao di tingkat petani,” ujarnya.
Laporan dari BPKP, ungkap Gamal, petani banyak yang menggunakan pupuk tidak sesuai formula. Bahkan di lapangan tidak terlihat lagi pupuk formula yang sesuai dengan kondisi tanah. Kondisi tersebut membuat produktivitas tanaman kakao makin menurun.
Minim Perawatan
Ketua Dewan Kakao Indonesia, Soetanto Abdoellah juga mengakui, menurunnya produksi kakao di dalam negeri karena faktor berkurangnya kesuburan tanah. Hal ini karena banyak lahan yang tak lagi diberikan pupuk oleh petani. Akibatnya tanaman tidak optimal dalam memproduksi kakao.
Padahal salah satu cara untuk meningkatkan produksi tanaman adalah dengan pemupukan. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember, menurut Soetanto, sebenarnya sudah mengeluarkan formula pupuk untuk berbagai lahan di Indonesia. Formula tersebut mengandung kadar N, P dan K yang berbeda-beda untuk tiap sentra kakao.
“Karena formula N, P dan K berbeda-beda, produksi enggan memproduksi pupuk karena volumenya kecil,” ujarnya. Kondisi tersebut ungkap Soetanto, membuat petani dalam memberikan pupuk tidak sesuai dosis lagi. “Petani perlu mendapat pendampingan kembali dalam pemupukan,” tambahnya.
Sementara itu Ketua Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Zulhefi Sikumbang menilai, faktor lainnya yang membuat produktivitas tanaman kakao terus menurun karena petani malas merawat tanaman. Bahkan, ada sejumlah tanaman ditinggalkan tanpa dirawat. Sebagian petani malahan membuka perkebunan lainnya seperti jagung, sawit, cengkeh, merica dan lain-lain yang dinilai lebih kompetitif.
Perlakuan tanaman kakao dengan sawit menurut Zulhefi sangat berbeda. Tanaman sawit yang sudah tua (tak produktif) bisa di-replanting (remajakan), tapi tanaman kakao yang usianya 25-30 tahun tak perlu peremajaan. “Di Afrika, tanaman kakao yang usianya sudah mencapai 40 tahun masih produktif. Kuncinya adalah perawatan secara intensif,” ujarnya.
Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066
Editor : Ahmad Soim