Minggu, 20 Oktober 2019


Menjelang Hujan, Ayo Petani Lakukan Remediasi Lahan

07 Okt 2019, 13:22 WIBEditor : Gesha

Menjelang musim penghujan, petani bisa mengolah lahannya dengan menggunakan dolomit dan pupuk organik sehingga terjadi proses remediasi lahan | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Musim kemarau diperkirakan akan berakhir di bulan Oktober ini dan musim penghujan pun sudah ada di depan mata. Memasuki musim penghujan ini sebenarnya petani bisa melakukan remediasi lahan agar mampu berproduksi optimal dalam pertanaman. Seperti apa?.

"Teknologi remediasi lahan sesungguhnya rangkaian kegiatan yang mutlak harus dilakukan oleh petani. Mengingat lahan kita ibaratnya sedang sakit harus disehatkan kembali dengan remediasi tersebut. Lahan kita juga sedang kurus c organik, hara makro mikro dan hayati yang semuanya sangat butuh dikembalikan agar gemuk dengan remediasi," ungkap salah satu tokoh petani sukses, Wayan Supadno kepada tabloidsinartani.com.

Apalagi, dalam pertanaman nantinya pH tanah harus netral agar pemupukan yang dilakukan nanti tidak sia-sia. "Jika pH rendah (masam) maka itulah sumber pemborosan ekstrim besarnya dari pupuk," bebernya.

Wayan menuturkan penyebab utama dari sakitnya tanah adalah ulah petani sendiri. "Misal saja karena pemakaian pupuk kimia NPK saja berlebihan jangka panjang tanpa berimbang dengan organik maupun hayati. Dampaknya tidak terpenuhi azas neraca haranya. Begitu juga pemakaian pestisida kimia berlogam berat berlebihan dengan emosi tanpa logika itu sesungguhnya membunuh secara massal apapaun yang hidup di lahan. Bukan hanya hama penyakit saja yang mati," jelasnya.

Wayan menambahkan banyak tanda-tanda yang bisa diamati oleh petani yang menunjukkan lahan sakit, tercemar bahan kimia dan hayati perusak pembunuh tanaman. Misalnya, lahan menjadi masam karena pH rendah sebagai akibat dari tergenang atau pemberian urea atau za berlebihan di saat musim hujan. "Kemudian lahan jadi kurus karena tanpa pupuk organik hayati (mikroba) yang perannya sangat banyak, di antaranya sebagai penambah kadar c organik media biak mikroba, penambat N, pelarut P dan K, biopestisida dan lainnya," tuturnya.

Nah, fase menjelang musim hujan adalah kesempatan emas mengukir prestasi emas dengan teknologi remediasi.  Petani bisa memulainya dengan mengolah lahan yang ditabur dolomit dan pupuk organik kotoran hewan.

"Kemudian tabur/semprot biangnya mikroba (pupuk hayati) agar berbiak massal. Aduk rata pada lahan agar homogen peningkatan mutu lahannya. Sebulan lagi saat hujan tinggal tanam. Baru diamati perbandingannya dengan lahan tanpa remediasi," tuturnya.

Hal mudah yang bisa dilakukan adalah menanam jagung sebagai indikator N. "Jika tanpa pupuk kimia sudah hijau, pertanda lahan tersebut sudah gemuk bahan  c organik yang mampu membiakkan mikroba penambat N yaitu Azospirilum, Rhizobium, Azotobacter dan lainnya," jelasnya.

Proses remediasi lahan ini sudah banyak yang melakukan ujicoba langsung di lahannya. "Saya selaku petani turut bersyukur sejak setahun lalu beberapa kali edukasi hal remediasi. Ternyata banyak petani yang langsung mempraktekkan di lahannya. Walaupun skala demplot lahan kecil uji coba mencari ilmu hikmah di lapangan. Kini banyak petani telah tahu betapa besar manfaat dari upaya remediasi lahan," bebernya.

Wayan juga yakin semua terjadi karena mulai banyak petani mau jadi " Insan Pembelajar " di lapangan. "Dampaknya produktivitas naik tajam, biaya rendah, omset maupun laba naik tajam. Petani, konsumen dan hasilpun sehat. Ujungnya kemakmuran didapat karena cepat tingkat pengembalian investasi (Return on Investment/ROI)," jelasnya.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018