Sabtu, 14 Desember 2019


Kurangi Kerugian Petani dengan Teknologi Pascapanen

02 Des 2019, 05:37 WIBEditor : Gesha

Penanganan dan Pengolahan pascapanen, mutlak diketahui oleh petani | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Makassar --- Dengan penanganan pascapanen yang tepat, tingkat kerugian petani sebenarnya bisa ditekan semaksimal mungkin. Karenanya, kemampuan dan pengetahuan pascapanen petani harus ditingkatkan.

Sering kali kita temukan di pasar tradisional bertumpuknya sampah sayuran atau buah-buahan hasil jualan yang membusuk atau rusak, dan itu tidak hanya mengganggu pemandangan, juga mengganggu indera penciuman.

Bisa dibayangkan, berapa banyak hasil alam yang terbuang begitu saja hanya karena tidak diterapkannya penanganan pascapanen yang benar. Padahal, jika penanganan pascapanennya tepat, tingkat kerugian karena pembusukan, kerusakan saat pengangkutan atau kehilangan saat penyimpanan dapat ditekan 15% hingga 40%.

 "Jika kita bisa mengatasi loses hanya pada komoditas padi saja sebesar 10,8%, itu sama dengan kita bisa menjamin kebutuhan pangan sebanyak 39 juta jiwa, apalagi jika kita bisa mengatasi loses hortikultura," beber Kepala BB Pascapanen, Prayudi Syamsuri, pada Seminar Nasional Pengembangan Produk Pascapanen Unggulan Daerah di Makasar, Sabtu (30/11).

Hal inilah yang harus disadari oleh masyarakat, sehingga setiap orang bisa berperan aktif dalam mengurangi kehilangan pascapanen produk pertanian. Mengurangi kehilangan pada produk pertanian bisa diatasi dengan dua cara, yang pertama dengan penanganan pascapanen yang baik dan yang kedua dengan pengolahan pascapanen.

Berbeda dengan penanganan, pengolahan pascapanen adalah tindakan mengubah hasil pertanian ke bentuk yang lain dengan tujuan dapat tahan lebih lama, mudah disimpan dan dapat dimanfaatkan kembali menjadi barang yang berdaya guna. Jika kedua cara tersebut diterapkan oleh petani maka pendapatan atau keuntungan yang diperoleh akan lebih besar.

Selain membahas pentingnya sentuhan teknologi pascapanen, Prayudi juga mengajak peserta seminar untuk mengkonsumsi kembali pangan lokal yang ada di daerah masing-masing. "Indonesia itu kaya akan pangan lokal, sagu misalnya, di Makasar dulu banyak yang suka kapurung apakah anak sekarang mau mengkonsumsi juga?," tanyanya.

Karenanya, untuk bisa masuk ke pasar milenial, pangan lokal harus diberikan inovasi dan disesuaikan dengan kebutuhan zamannya. "Misalnya kita bisa sajikan sagu dalam bentuk mi dengan kuah tom yam, ini pasti menarik bagi mereka," pungkas Prayudi.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018