Sunday, 05 July 2020


Peneliti : Vetiver Bisa Cegah Erosi dan Longsor, Tapi Jangka Pendek !

08 Jan 2020, 13:47 WIBEditor : GESHA

Kondisi terkini longsor di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor | Sumber Foto:FIRMAN

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---  Tanaman Vetiver atau dikenal dengan nama akar wangi maupun sereh wangi, dalam dua hari ini mencuat begitu Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Monardo mengusulkan kepada Presiden Joko Widodo di dalam helikopter yang akan mendarat di Kecamatan Sukajaya Bogor. Benarkah vetiver bisa mencegah erosi?.

“Bioteknologi vetiver sudah diujicoba dan mendapat pengakuan World Bank bahkan PBB. Di banyak tempat dan negara, tanaman ini sudah dikenal luas sebagai tanaman pencegah longsor,” ujar Doni kepada Presiden Jokowi.

Vetiver adalah jenis tanaman yang kita kenal dengan nama akar wangi atau narwastu. Tanaman ini adalah sejenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Poaceae, dan masih sekeluarga dengan sereh atau padi. 

Sekalipun berjenis rumput, tetapi  memiliki akar yang menghunjam hingga kedalaman dua sampai dua-setengah meter. Tak pelak, vetiver menjadi pilihan terbaik untuk ditanam di lahan bekas HGU yang telah digunduli, tanpa reboisasi.  "Ribuan lokasi bekas HGU, pohonnya sudah ditebangi dan ditinggal begitu saja," ungkap Doni.

Selain menanam vetiver, pemerintah juga akan menanami aneka tanaman keras seperti sukun, aren, dan alpukat di sela-sela tanaman vetiver. "Selain punya nilai ekologis, juga punya nilai ekonomis,” ujar Doni.

Sejurus kemudian, Presiden memerintahkan Doni Monardo segera melakukan penanaman vetiver di area gundul, utamanya di lereng-lereng pegunungan. Untuk itu, Doni diminta melibatkan anggota TNI yang punya kualifikasi panjat tebing, termasuk kelompok Wanadri kelompok pendaki gunung yang memiliki keahlian mendaki. “Tahap awal saya siapkan seratus-ribu bibit akar wangi, Bapak Presiden,” ujarnya. 

Pohon Keras

Menanggapi hal tersebut, peneliti tumbuhan senior dari Southeast Asian Region Center for Tropical Biology (SEAMEO Biotrop), Supriyanto menuturkan bahwa penanaman vetiver untuk mencegah erosi dan longsor hanya bisa dilakukan untuk jangka pendek. "Tetap jangka panjangnya harus ditanam pohon keras," tukasnya.

Karenanya, pertanaman vetiver yang diintegrasikan dengan tanaman keras bernilai ekonomis sangat diharapkan bisa diterapkan. "Tetap penahan laju erosinya dari pohon berkayu keras itu. Tapi sama-sama dapat manfaat secara ekonominya," tuturnya.

Supriyanto melanjutkan di lahan bebas hambatan seperti sungai, akar vetiver memang bisa menghujam hingga kedalaman 6 meter. Namun, jika Vetiver ditanam dengan media tanah, kedalamannya hanya 1,5 meter dengan menggunakan polybag

"Akar vetiver memang memiliki kekuatan menahan longsor setara dengan 1/6 kawat baja. Tapi setelahnya (usia 9 bulan) tanaman akan mati. Karena itu, perlu penahan akar dari tanaman keras yang sanggup menghujam kebih dalam lagi untuk menahan laju erosi," bebernya.

Lebih lanjut Supriyanto membeberkan bahwa peristiwa erosi yang terjadi di Indonesia, khususnya di Kecamatan Sukajaya adalah erosi yang disertai landsliding (longsor). "Longsor terjadi karena adanya erosi pada lapisan kedap yang memisahkan lapisan tanah dan batu. Makanya kita butuh tanaman yang akarnya mampu menerobos bebatuan untuk memperkuat tanah," jelasnya.

Setidaknya ada tanaman petai cina, jengkol dan nangka yang bisa menjadi pilihan pemerintah, sebab memiliki akar yang mampu menghujam jauh dan menembus bebatuan. 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018