Tuesday, 28 June 2022


Mengapa Pertanian Masa Depan Harus Smart Farming? Ini Alasannnya

03 Mar 2020, 12:38 WIBEditor : Yulianto

Smart farming yang telah diterapkan di Ethiopia | Sumber Foto:Dok. Sudradjat

Precission agriculture atau smart farming berarti setiap individu tanaman mendapatkan perlakuan tepat sesuai yang dibutuhkan, ditentukan dengan sangat akurat karena adanya teknologi terbaru

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta—Dengan segala persoalan yang menyelimuti pertanian di Indonesia, ke depan strategi pengembangan haruslah mengembangan smart farming. Mengapa harus smart farming? Ini alasannya.

Guru Besar IPB, Sudradjat mengatakan, precission agriculture atau smart farming berarti setiap individu tanaman mendapatkan perlakuan tepat sesuai yang dibutuhkan, ditentukan dengan sangat akurat karena adanya teknologi terbaru.

Berbagai bentuk teknologi untuk tujuan ini seperti GPS, teknologi sensor, ICT dan robotik. Dengan teknologi dapat membantu dalam pengambilan keputusan strategis di tingkat petani, serta dengan tindakan operasional di industri. Selain itu, memungkinkan produksi dioptimalkan, sehingga pertanian dapat berkelanjutan.

“Jika pada pertanian konvensional tindakan yang dilakukan adalah pada satu bidang lahan, maka pada smart farming memungkinkan tindakan yang dilakukan ditentukan per meter persegi atau bahkan per tanaman,” tuturnya saat diskusi dalam Forum PPSN (Pusat Pengkajian Startegis Nasional) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Mengapa harus smart farming? Sudradjat mengatakan, akan memaksimalkan keuntungan, mengurangi input, meningkatkan hasil, kemungkinan overlap aktivitas lebih sedikit, mengurangi stress tanaman dan manusia, melindungi lingkungan dan menjamin penyediaan pangan 7 miliar penduduk dunia (260 juta penduduk Indonesia).

Ada beberapa keuntungan smart farming. Pertama ungkap Sudradjat, big data, dikumpulkan oleh sensor pertanian pintar. Misalnya, kondisi cuaca, kualitas tanah, kemajuan pertumbuhan tanaman. Data ini dapat digunakan melacak kondisi satuan usaha secara umum serta kinerja pelaku usaha, efisiensi peralatan, dan lainnya,” katanya.

Keuntungan kedua, kontrol yang lebih baik atas proses internal, sehingga menurunkan risiko produksi. Bahkan kemampuan memperkirakan output dari produksi yang memungkinkan untuk merencanakan distribusi produk yang lebih baik.

Ketiga, pengurangan biaya manajemen dan pengurangan limbah karena peningkatan kontrol atas produksi. Keempat, mampu melihat anomali dalam pertumbuhan tanaman, akan dapat mengurangi risiko kehilangan hasil panen.

Kelima, peningkatan efisiensi bisnis melalui otomatisasi proses. Dengan menggunakan perangkat pintar, dapat mengotomatiskan banyak proses di seluruh siklus produksi (irigasi, pemupukan, atau pengendalian hama).

Keenam, akan terjadi peningkatan kualitas dan volume produk. Sebab, proses produksi mendapatkan kontrol yang lebih baik. Termasuk dalam mempertahankan standar kualitas tanaman dan kapasitas pertumbuhan yang lebih tinggi melalui otomatisasi.

Menurut Sudradjat, industri pertanian masa depan orientasinya memiliki keterkaitan ke belakang (backward linkage) dan keterkaitan ke depan (forward linkage). Agroindustri harus memiliki kemampuan sebagai motor penggerak tingkat pertumbuhan yang tinggi.

Agroindustri juga harus dapat memanfaatkan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif sumberdaya alam/SDM yang khas wilayah, serta dikembangkan berbasiskan pada sumberdaya alam yang terbarukan,” tuturnya

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018