Tuesday, 22 September 2020


Teknologi Grafting, Naikkan Produksi Jambu Mete Tiga Kali Lipat

24 Mar 2020, 19:31 WIBEditor : Gesha

Dengan grafting, produksi jambu mete bisa meningkat | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Apa penyebab mengapa produksi jambu mete kini rendah? Sebabnya, dulu kebanyakan komoditi ini ditanam dari biji dan kini sudah berumur tua. Untuk itu, sekarang telah berhasilnya dikembangkan teknologi penyambungan (Grafting) yang mampu naikkan produksi tiga kali lipat.

Jambu mete merupakan komoditas penting terutama di Kawasan Timur Indonesia. Luas areal perkebunan jambu mete di Indonesia 99.79 persen  adalah perkebunan rakyat dengan sentra produksi di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Timur. 

Pengembangan tanaman jambu mete mengalami peningkatan yang sangat pesat, yaitu pada tahaun 1975 dari 58.381 ha dengan produksi 9.123 ton meningkat tajam menjadi 514.491 ha dengan tingkat produksi 137.026 ton pada tahun 2016.

Begitu pula dengan volume ekspor dari 23 ton dengan nilai US$ 90.000 tahun 1977 menjadi 70.326 ton dengan nilai US$ 166.066.000 di tahun 2016 berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2017.

Pesatnya pengembangan jambu mete tidak diiringi dengan peningkatan produktivitas yang signifikan, tingkat produktivitas masih rendah yaitu 430 kg gelondong/ha/tahun., jauh dibawah produktivitas mete India yang telah mencapai 900 kg gelondong/ha/tahundan Nigeria 2.286 kg gelondong/ha/tahun.

Rendahnya produktivitas tanaman jambu mete salah satunya disebabkan oleh bahan tanaman yang digunakan untuk pengembangan berasal dari biji dengan kualitas genetik rendah. Selain itu banyaknya tanaman yang sudah tua dan rusak. Pertanaman jambu mete yang sudah tua dan rusak pada tahun 2016 mencapai 82.054 ha atau 15,98 persen dari total luas pertanaman jambu mete. 

Upaya untuk meningkatkan produktivitas jambu mete adalah melalui kegiatan pengembangan, peremajaan dan rehabilitasi pertanaman jambu mete yang sudah tua ( lebih dari 30 tahun) dan rusak dengan penerapan teknologi penyambungan menggunakan varietas unggul yang disertai dengan penerapan teknologi budidaya yang baik dan benar sesuai Good Agriculture Practices (GAP). 

Penelitian penyambungan sudah banyak dihasilkan, baik penyambungan di pembibitan maupun langsung di lapang (top working). Tingkat keberhasilan penyambungan di pembibitan antara 80 – 90 persen, dan penyambungan langsung di lapang berkisar 70 – 86 persen.

Di India upaya untuk meningkatkan produktivitas jambu mete adalah dengan mengganti tanaman yang produktivitasnya rendah dengan benih dari varietas unggul hasil grafting, sehingga dapat meningkatkan produktivitas sebesar 100-140  persen.

Saat ini sudah dilepas 9 varietas unggul jambu mete dengan potensi produksi antara 5,97 sampai 37,44 kg gelondong/pohon/tahun atau rata-rata 16,70 kg gelondong/pohon/tahun. 

Apabila kegiatan pengembangan, peremajaan dan rehabilitasi menerapkan teknologi penyambungan menggunakan entres dari varietas unggul dengan populasi 100 tanaman/ha, maka produktivitas jambu mete dapat ditingkatkan menjadi 1.670 kg gelondong/ha/tahun atau meningkat 300 persen dari produktivitas saat ini yang baru mencapai 430 kg gelondong/ha/tahun.

Reporter : Rudi Suryadi
Sumber : Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018