Saturday, 06 June 2020


Mengenal Sistem Informasi Standing Crop dari Sentinel-2

03 Apr 2020, 21:21 WIBEditor : Gesha

Sistem Informasi Standing Corp dari Sentinel 2 | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Informasi standing crop menjadi komponen penting dalam Sistem Informasi (SI) Katam Terpadu yang digunakan oleh Kostratani di tingkat Kecamatan. Sekarang ini, informasi standing crop menggunakan data citra dari Sentinel-2. Seperti apakah itu?.

Sistem informasi standing crop menyajikan gambaran real time fase pertumbuhan di lapangan yang diterjemahkan melalui data satelit.  Saat ini terdapat data satelit Sentinel-2 dengan resolusi 10 meter X 10 meter dengan frekuensi 5-harian. Data citra tersebut sangat potensial diterjemahkan menjadi informasi standing crop dengan resolusi lebih tinggi, hingga level desa di seluruh Indonesia.  

Adapun klasifikasi fase tegakan padi di lahan sawah meliputi 4 fase (berdasarkan klasifikasi IRRI) yaitu Fase Penggenangan/Vegetatif (0-45 hari setelah tanam), Fase Generatif (45-90 hari setelah tanam), Fase Pematangan (91-110 hari setelah tanam), hingga Fase Bera.

Hingga kini, verifikasi dari informasi standing crop sudah mencakup 8 Provinsi, yaitu Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Kalimatan Selatan dan Sulawesi Selatan dengan persentase rata-rata sebesar 83,715 persen.

Sistem Informasi Standing crop ini menampilkan luasan dari masing-masing fase pertumbuhan tanaman padi di lahan seluruh Indonesia dan memiliki ruang lingkup (cakupan) dengan Luas Baku Sawah (LBS)  yang sudah ditetapkan bersama oleh BPS, BIG, LAPAN dan Kementan seluas 7,4 juta hektar yang akan terbagi ke dalam masing-masing level Provinsi, Kabupaten, Kecamatan hingga tingkat Desa dengan mengacu pada peta administrasi terbaru.

Tabel 1. Pemanfaatan informasi standing crop Oktober 2019 untuk menduga luas panen dan produksi beras pada November, Desember 2019 dan Januari 2020.

 

Dari data standing crop tersebut, bisa diprediksi luasan panen di suatu wilayah selama tiga bulan kedepan. Misalnya, informasi standing crop pada bulan Oktober bisa memprediksikan luasan panen pada November, Desember dan Januari. 

Begitupula hasil prediksi luas panen ini kemudian dikalikan dengan rata-rata produktivitas masing-masing provinsi, faktor penyusutan, dan faktor konversi padi menjadi beras, kemudian menghasilkan prediksi produksi beras November, Desember dan Januari.

Sinkronisasi data luas baku sawah dengan luas cakupan sawah dalam SI Katam Standing Crops ini harus selalu dilakukan agar akurasi pengukuran luasan tegakan padi di lahan seluruh Indonesia menjadi lebih presisi dan akurat.

SI KATAM SC

Kini, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) tengah mengembangkan dua jenis Sistem Informasi (SI) KATAM Standing Crop Sentinel 2 yaitu Prototipe SI berbasis website dan berbasia Android.

Standing Crop berbasis website terintegrasi dengan website utama Kalender Tanam Terpadu (KATAM) yang bisa di akses melalui halaman http://katam.litbang.pertanian.go.id/main.aspx.

Informasi standing crop yang ditampilkan pada website adalah luas masing-masing fase standing crop, yaitu fase bera, fase air, fase vegetatif, fase generatif dan fase pemasakan serta luas tutupan awan dalam satuan hektar dan persentase.

Selain itu terdapat juga informasi luas prediksi panen padi tiga bulan kedepan. Informasi-informasi tersebut sudah sampai level desa untuk seluruh provinsi di Indonesia dalam bentuk spasial dan tabular.

Standing crop juga dikembangkan berbasis aplikasi android yang bisa diunduh di Play Store https://play.google.com/store/apps/details?id=com.litbang.googlemapsretrofit.

Informasi standing crop yang ditampilkan di aplikasi android juga sama dengan yang ditampilkan di website dimana informasinya juga sudah mencapai level kecamatan yang bisa dicari informasi dengan langsung mengetik nama kecamatan untuk level kecamatan, ketik nama kabupaten untuk level kabupaten dan ketik provinsi untuk level provinsi.

Pengembangan kedua sistem informasi ini terus dilakukan, misalnya dengan perbaruan Metode Verifikasi menggunakan Drone dengan cakupan luas hamparan padi yang lebih besar, sehingga menimalisir error yang mungkin terjadi. Hal ini juga penting untuk validasi hamparan sawah yang sudah dijangkau dengan kendaraan (remote area).

Kemudian, Pemanfaatan lanjut dari aplikasi SI Katam Standing Crop untuk menghitung potensi luas panen dan luas tanam tanaman padi, sehingga perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mendapatkan asumsi yang benar dalam perhitungan produksi padi.

Termasuk akurasi dan mengidentifikasi kondisi bera maupun luas tanam padi yang sebenarnya di lapangan sehingga akan memberikan kepastian penyiapan sarana pertanian di suatu daerah dengan tepat.

Reporter : Anggri Hervani
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018