Tuesday, 07 July 2020


Manfaatkan Biomassa Limbah Organik untuk Urban Farming

03 Jun 2020, 13:36 WIBEditor : Gesha

Biodigester ukuran 1000 liter untuk skala rumah tangga yang bisa digunakan untuk urban farming | Sumber Foto:Kencana Online

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung --- Urban Farming memang menjadi pilihan masyarakat perkotaan untuk mulai memenuhi kebutuhan pangan mereka. Berbagai metode urban farming pun menjadi populer. Namun, pemanfaatan limbah organik rumah tangga seringkali luput untuk digunakan. 

"Limbah perkotaan mencapai 175 ribu ton per hari, organiknya mencapai 55 persen dari jumlah itu dan limbah organik di kota kecil justru semakin banyak. Dan itu menjadi potensial untuk pengadaan sumber biomassa di Indonesia," beber Praktisi Teknologi Tepat Guna sekaligus pengamat dan praktisi persampahan, Sonson Garsoni dalam serial Webinar VII, Sawah Portabel : Model Urban Farming untuk Ketahanan Pangan, Rabu (3/6).

Jika tak dibuang atau diolah, sampah yang sebagian besar merupakan sisa makanan dan pertanian itu akan membusuk dan menimbulkan bau tak sedap.

Menurut Sonson, salah satu cara paling sederhana untuk mengolahnya adalah mengubahnya menjadi kompos. Namun persoalan akan timbul jika warga tak tahu harus menggunakan kompos tersebut untuk apa. "Di sinilah perlunya sinkronisasi dengan pertanian kota (urban farming)," ujarnya.

Menurut Sonson, banyak sekali metode urban farming yang bisa digunakan masyarakat dengan keterbatasan lahan di rumahnya. Bagi yang tak memiliki lahan, pengelola bank sampahlah yang harus berperan menyediakan lahan pertanian bersama.

Teknologi pengolahan limbah organik tersebut bisa dengan berbagai cara, salah satunya dengan reaktor biodigester yang bisa menghasilkan dua jenis keluaran yaitu lumpur probiotik dan biogas. 

"Setiap fermentasi dalam digester bisa menghasilkan gas karbondioksida dan hidrogen sulfida, kemudian dimurnikan dalam tabung bertekanan tinggi sehingga 1 ton sampah organik bisa menghasilkan biogas 40 meter kubik atau setara dengan 20 kg gas LPG," bebernya. 

Untuk pemanfaatan urban farming, penggunaan lumpur probiotik sebagai media tanam sangat dianjurkan denhan menggunakan reaktor biodigester skala rumah tangga yaitu seukuran 1000 liter yang membutuhkan 25 liter air dan 25 kg limbah organik, bisa digunakan. "Sehingga bisa menghasilkan lumpur sebanyak 25 liter dan biogas dengan jumlah yang lebih kecil," tambahnya.

Sawah Portabel

Tak hanya sayur mayur atau tanaman hortikultura saja yang bisa menggunakan lumpur probiotik hasil pengolahan limbah organik, tetapi juga tanaman pangan seperti padi sawah dengan menggunakan media portabel yaitu pot atau polibag.  

"Dengan berbasis biomassa ini, budidaya padi menjadi lebih baik dibandingkan sawah konvensional. Karena dalam setahun bisa 4 kali panen dengan tidak adanya jeda antar penanaman baru. Bahkan bisa dilakukan Milenial," tuturnya.

Sawah Portabel ini pun jika dilakukan bersama-sama penanaman sayur mayur hingga ikan, sehingga memberikan pemenuhan gizi masyarakat yang lebih lengkap. "Lumpur probiotik ini bisa digunakan untuk pertumbuhan ikan dalam kolam kecil sekalipun sebab mendapatkan pakan alami. Varietas padi yang bisa ditanam pun yang toleran kekeringan," tambahnya.

Berdasarkan pengalamannya, dari satu pot atau polibag menjadi 1 rumpun dan menghasilkan rata-rata 115-150 gram padi. "Misalnya rumah sangat sederhana ukuran 60 meter persegi dan dibudidayakan di atap rumah ber-dak atau di halaman rumah, maka bisa membutuhkan 16 polibag ukuran 25 cm, " bebernya.

Sehingga, dalam satu tahun untuk 60 meter persegi bisa menghasilkan beras 360 kg dengan indeks pertanaman 4 kali setahun. "Itu mencukupi untuk pangan pokok 1 keluarga (ayah ibu 2 anak) selama 1 tahun. Dan disaat bersamaan bisa memperoleh sayuran dan ikan dengan menggunakan lumpur probiotik tersebut," jelasnya.

Sonson menegaskan, dengan adanya lumpur probiotik hasil pengolahan limbah organik ini, urban farming menjadi lebih mudah dan murah serta multi produk bahkan multi skala dan semakin menguntungkan secara komersial.

Adanya inovasi dari praktisi lingkungan langsung, Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB University), Arif Satria mengapresiasi. "Inovasi ini menjadi bentuk future practise di bidang pertanian yang penting menjadi lompatan. Bahkan menjadi prinsip zerowaste yang konteksnya bisa lebih nyata dan berskala bisnis. Ini harus dipercepat implementasinya di masyarakat (grass root)," tuturnya.

Lebih lanjut Arif menuturkan, di masa depan urban farming kian menjadi fokus masyarakat untuk menghasilkan dan memperoleh pangan. "Urban farming yang rendah karbon dan mandiri khususnya," tambahnya.

Mantan Menteri Pertanian, Suswono yang ikut hadir dalam Webinar juga menegaskan inovasi ini bisa menjadi solusi ketahanan pangan nasional Indonesia di masa depan. 

Suswono menyebut, stok serealia dunia kian menipis, diramalkan hanya akan ada  495 juta ton serealia dunia. Kondisi ini bisa mengalami masalah volabilitas pangan, karena tuntutan pangan meningkat dan namun produksi stagnan.

"Di Indonesia, konsumsi masih besar orientasi kenyang sama beras. Sementara itu lahan pertanian tergerus terus dan hanya tersisa lahan pekarangan yang bisa dioptimalkan. Bahan pangan semakin mahal, tetapi sebenarnya kita bisa menghasilkannya dari pekarangan sendiri," urainya. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018