Thursday, 02 July 2020


Anti Ambyar, Inilah Jenis Usaha Tani Cocok untuk Rawa !

16 Jun 2020, 14:39 WIBEditor : GESHA

Pertanaman di lahan Rawa | Sumber Foto:BALITTRA

TABLOIDSINARTANI.COM, Banjarbaru --- Berusaha tani di lahan rawa sangat potensial jika petani mengetahui beberapa jenis usaha tani yang cocok diterapkan. Berikut ini beberapa jenis usaha taninya, dijamin anti ambyar !

Pemanfaatan rawa kini menjadi salah satu yang mulai diincar oleh Kementerian Pertanian. Berdasarkan catatan dari Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Luas lahan rawa sesuai pertanian 10,87 juta ha. Luas sudah dibuka pemerintah 3,77 juta ha dan dibuka dimanfaatkan masyarakat 3,0 juta ha sehingga 6,77 juta yang dapat dimanfaatkan.

"Namun, pemanfaatan lahan dihadapkan kendala biofisik lahan dan sosial ekonomi seperti deskripsi lokasi, pelaksanaan teknologi hingga evaluasi dampak," beber Peneliti Sosial Ekonomi dari Balai Penelitian Tanaman Rawa (Balittra), Yanti Rina Darsani.

Yanti sendiri mendeskripsikan sistem usaha tani yang bisa diambil petani agar usaha taninya sukses berdasarkan tipe lahan (Lahan Pasang Surut Tipe Luapan A, Tipe, Tipe Luapan B, Tipe Luapan C, gambut dangkal, gambut sedang, lebak dangkal, lebak tengahan hingga lebak dalam).

Untuk tipe luapan A dimana wilayah tersebut diluapi oleh air pasang baik oleh pasang besar maupun oleh pasang kecil, bisa ditanami tanaman hortikultura maupun ternak. Bisa juga  dibuat sawah untuk ditanami Padi + Jeruk, kelapa, rambutan, kueni, sayuran/pisang.

Sedangkan tipe luapan B, wilayah tersebut diluapi oleh air pasang besar saja, sedangkan pasang kecil, air tidak meluap ke petak sawah. Pada lahan ini bisa ditanami Hortikultura, ternak, maupun ikan. Bisa juga dibuat sawah untuk ditanami Padi+Jeruk,Pisang, Sayuran, Padi-Padi+ Jeruk, Padi-Padi-Jagung.

Untuk tipe luapan C, dimana wilayah tersebut tidak terluapi air pasang tetapi air pasang bisa mempengaruhi kedalaman muka air tanah kurang dari 50 cm dari permukaan tanah. Jenis usaha tani yang cocok untuk lahan ini adalah Hortikultura, ternak. Bisa juga ditanami Padi –Jagung, Kacang Tanah, kedelai, jagung, padi-kacang hijau.

Gambut dan Lebak

Jenis rawa lainnya yang cocok untuk usaha tani adalah rawa gambut dan rawa lebak. Jenisnya sendiri tergantung dari kedalaman gambut dan lokasi rawa lebak itu sendiri.

"Penggunaan lahan gambut untuk budidaya tanaman padi memerlukan strategi dan teknik pengelolaan khusus. Seperti misalnya penggunaan teknologi pengairan khusus untuk mengairi lahan dan pemilihan varietas tertentu yang cocok dengan kondisi lahan gambut itu sendiri," tambah Yanti.

Dari semua jenis kedalaman gambut, Yanti merekomendasikan dua jenis kedalaman gambut yang bisa digunakan untuk usaha tani, yaitu gambut dangkal (dengan kedalaman kurang dari 100 cm) dan gambut sedang (kedalaman 100-200 cm).

Untuk gambut dangkal, petani bisa mengusahakan ternak, palawija (kacang hijau, kedelai, singkong, ubi, kentang, jagung, talas, kacang panjang dan lain-lain), maupun sayuran. Sedangkan di lahan sawah pada lahan gambut dangkal ini bisa ditanami Palawija, hortikultura, kelapa sawit, kakao, padi +jeruk.

Untuk gambut sedang dengan kedalaman 100-200 cm, petani bisa bertanam palawija atau sayuran. Bisa juga bertanam Kelapa sawit, Palawija, sayuran.

Khusus untuk lahan rawa lebak, yang memiliki ciri bentuk wilayah berupa cekungan dan merupakan wilayah yang dibatasi oleh satu atau dua tanggul sungai (levee) atau antara dataran tinggi dengan tanggul sungai. Bentang lahan rawa lebak menyerupai mangkok yang bagian tengahnya paling dalam dengan genangan paling tinggi.

Pada lahan ini, semakin ke arah tepi sungai atau tanggul semakin rendah genangannya. Pada musim hujan genangan air dapat mencapai tinggi antara 4-7 meter, tetapi pada musim kemarau lahan dalam keadaan kering, kecuali dasar atau wilayah paling bawah. Pada musim kemarau muka air tanah di lahan rawa lebak dangkal dapat mencapai lebih dari  1 meter sehingga lebih menyerupai lahan kering (upland).

Untuk lebak dangkal dengan wilayah yang mempunyai tinggi genangan 25-50 cm dengan lama genangan minimal 3 bulan dalam setahun. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi nisbi lebih tinggi dan merupakan wilayah paling dekat dengan tanggul. Di lahan ini, petani bisa bertanam hortikultura atau beternak. Sedangkan jika lahan dibentuk menjadi sawah petani bisa bertanam Padi+ sayuran, padi-kedelai, Sayuran, palawija.

Sedangkan untuk lebak tengahan, wilayah yang mempunyai tinggi genangan 50-100 cm dengan lama genangan minimal 3-6 bulan dalam setahun. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi lebih rendah daripada lebak dangkal dan merupakan wilayah antara lebak dangkal dengan lebak dalam. Disini, petani bisa bertanam hortikultura dan beternak. Khusus untuk lahan sawah bisa bertanam Padi-Padi, Padi+sayuran, Padi+jeruk, Sayuran, Palawija.

Khusus untuk lebak dalam yang memiliki wilayah yang mempunyai tinggi genangan > 100 cm dengan lama genangan minimal  lebih dari  6 bulan dalam setahun dan wilayahnya mempunyai hidrotopografi paling rendah, sehingga petani hanya bisa bisa mengusahakan beternak ikan, kerbau dan bebek saja.

Reporter : NATTASYA
Sumber : Balittra
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018