Friday, 10 July 2020


Trik Bertanam Pepaya Merah Delima di Rawa Lebak

17 Jun 2020, 07:46 WIBEditor : Gesha

Pertanaman di pepaya merah delima di lahan rawa lebak | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Siak --- Bertanam hortikultura ternyata potensial dilakukan di lahan rawa lebak. Seperti percobaan yang dilakukan Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Solok selama 2 tahun mengembangkan pepaya merah delima di lahan rawa lebak Desa Muara Klantan, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak Provinsi Riau. 

Lahan rawa lebak merupakan salah satu lahan sub optimal yang pemanfaatannya masih sangat rendah untuk pertanian intensif yaitu hanya sekitar 5 persen.  Padahal luas lahan rawa lebak di Indonesia cukup besar mencapai 13,3 juta hektar yang tersebar di Papua, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. 

Permasalahan utama dalam pemamfaatan lahan rawa lebak yaitu, kemasaman tanah yang tinggi (pH 3,0-4,0), miskin hara makro dan mikro, serta adanya genangan air. Fluktuasi air cukup tinggi, yaitu banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau, terutama pada lahan rawa lebak dangkal yang mengalami genangan selama lebih dari 3 bulan, dengan tingkat genangan antara 25-50 cm. 

Keterbatasan lahan produktif menyebabkan ekstensifikasi pertanian ke lahan sub optimal tidak dapat dihindari, termasuk melirik potensi lahan rawa lebak ini untuk pengembangan komoditas hortikultura, salah satunya pepaya Merah Delima varietas unggul Balitbangtan. Hal ini disebabkan pengembangan pepaya Merah Delima di lahan subur di sentra pengembangan terkendala dengan keterbatasan luas lahan.

Salah satu upaya untuk menjadikan lahan rawa lebak menjadi sesuai untuk pengembangan pepaya Merah Delima adalah memberikan input teknologi, baik dalam  penyediaan hara, menetralkan pH tanah, pengelolaan genangan air dan input teknologi lainnya. Teknologi yang dapat diaplikasikan di lahan rawa lebak adalah pengapuran dan pemupukan untuk memperbaiki kesuburan tanah serta pengelolaan air.

Arahan kepala Balitbangtan Dr. Fadjri Jufry bahwa pengembangan pertanian di lahan sub optimal seperti rawa lebak haruslah memamfaatkan inovasi teknologi yang telah dihasilkan.  Berdasarkan hal tersebut Balitbu Tropika telah melakukan penelitian selama dua tahun dalam upaya pengembangan pepaya Merah Delima di lahan rawa lebak di desa Muara Klantan, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak Provinsi Riau. 

Sistem Surjan

Penanaman menggunakan sistim surjan untuk mengelola genangan air. Lebar bedengan adalah 2,5 m, jarak antar bedengan dipisahkan oleh parit dengan lebar 50 cm dan dalam 50 cm.

Pengapuran dilakukan untuk menaikkan pH tanah menjadi netral (6-7) dengan dosis dolomit 6 ton/ha yang diberikan satu kali sebelum tanam dengan cara disebar rata di atas bedengan.

Pupuk N, P, dan K diberikan setiap bulan dengan  dosis disesuaikan dengan umur tanaman  yaitu;  umur 0-3 bulan  Urea 46 persen 30-40 g, TSP46 persen 40-60g, KCL 46 persen  40-60g.

Saat Umur 4-7 bulan, Urea 46 persen 60-80 g, TSP46 persen 80-120g, KCL 46 persen 80-120 gram. Sedangkan saat umur lebih dari 7 bulan Urea 46 persen 90-120 g, TSP 46 persen 150-200g, KCL 46 persen 120-220g.

Pupuk diaplikasikan dengan cara dibenam secara melingkar di bawah tajuk tanaman pada musim penghujan dan dikocor pada musim kemarau. Selain pemupukan juga dilakukan pemeliharaan lain diantaranya pengendalian OPT dan penyiraman selama musim kemarau.

Penerapan input teknologi ini menunjukkan hasil yang cukup memuaskan, tanaman papaya Merah Delima tumbuh dengan baik walaupun lahan rawa lebak mengalami masa genangan yang berfluktuasi.

Tanaman mampu berproduksi mendekati produksi Merah Delima di lahan optimal yaitu 98 kg/pohon/tahun, jumlah buah rata-rata 95 buah/pohon dengan bobot buah rata-rata satu kilogram, serta tingkat kemanisan TSS 12 derajat Brix. 

Reporter : Purnama, Hendri, Jumjunidang, dan Fatria
Sumber : Puslithorti
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018