Thursday, 02 July 2020


Jagung Lebih Berisi dengan Biomol Limbah Sayuran di Lahan Eks Tambang Bauksit Bintan

22 Jun 2020, 16:17 WIBEditor : Ahmad Soim

Jagung yang ditanam di lahan eks tambang bauksit di Bintan | Sumber Foto:BPTP Kepri

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bintan - Pemberian bahan organik biomol dari limbah sayuran pada budidaya tanaman jagung Sukmaraga pada lahan kering marginal di Bintan bisa meningkatkan produktivitas jagung. “Tongkol jagung lebih besar dan lebih berisi, yakni naik hamper 90 persen,” kata Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kepulauan Riau Sugeng Widodo.

 Pengkajian teknologi terapan ini lanjut Sugeng Widodo dilakukan sebagai pelayanan teknis BPTP Kepri dalam mencarikan teknologi yang tepat guna untuk budidaya tanaman jagung di lahan bekas tambang bauksit di Bintan.

 Kabupaten Bintan memiliki kondisi geologi agak unik, terdapat bauksit cukup luas, dimana dilihat dari sisi ekonomi dalam jangka pendek berdampak positif, namun juga dalam jangka panjang menimbulkan dampak negatif  khususnya untuk lahan pertanian, dimana lahan bekas tambang bauksit menimbulkan kerusakan lahan lapisan atas/top soils hilang dan menjadi sulit untuk digunakan sebagai lahan produktif, oleh sebab itu diperlukan rekasaya inovasi perbaikan lahan.

 Lokasi penelitian teknologi terapan ini dilakukan di kabupaten Bintan yang sebagian besar merupakan lahan kering marginal yang digarap oleh petani di Desa Lancang Kuning, Kecamatan Bintan Utara. Desa ini terletak pada ketinggian < 200>oC – 34 0C,  termasuk tipe iklim A, dan bulan basah 5 (lima) bulan, pada saat ini terjadi pergeseran bulan basah dan kering, dimana hujan masih berlangsung sampaidengan bulan juni 2020.

 Di lokasi tersebut  air cukup untuk 50 ha tanaman jagung. Saat ini tanaman pada fase pertumbuhan vegetatif seluas 25 ha. Masih ada surplus air sebesar 25 ha (Sentinal-2, pada 3 juni 2020)..

 Berdasarkan data BPS (2017) terdapat lahan kering eks bekas tambang bauksit seluas 72.840 ha. Lahan bekas tambang ini masih berpotensi untuk dikembangkan pertaniannya namun memiliki tantangan karena kandungan unsur hara (N, P, K) rendah, pH masam (4,5 – 5,5) dan kandungan bahan organik yang rendah 0,85-1,20 persen di bawah batas ambang 2 persen.

 Masih terbatasnya ketersediaan bahan organik yang berasal dari limbah kotoran ternak sapi di Kabupaten Bintan sampai saat ini juga menjadi kendala dalam pengembangan pertanian di Kabupaten Bintan, Kepri. Berdasarkan permasalah ini dilakukan kajian khusus untuk meningkatkan bahan organik dengan memanfaatkan limbah sayuran yang cukup banyak ditemui di kabupaten Bintan.

 

 Benih Jagung Khusus

 Pada tahap awal pemilihan varietas dari jagung mutlak harus disesuaikan dengan kondisi lahan yang ada. Sebelum dilakukan penanaman jagung, dilakukan pengujian pH tanah untuk mengetahui tingkat keasaman tanah, hasil uji pH tanah 4,5 (PUTK Litbang) dan pH air 4-5 (pH lakmus dan pH meter merk Hana). Varietas Sukmaraga menjadi pilihan saat itu karena merupakan varietas Balitbangtan Kementerian Pertanian dan memiliki keunggulan adaptif di lahan masam. Lokasi penelitian dilakukan di desa Lancang Kuning Kabupaten Bintan dengan memanfaatkan biomol dari limbah sayuran sebagai sumber bahan organik.

 Penanaman jagung pada saat itu dilakukan dengan jarak tanam 75 x 25 cm dengan pemupukan dasar menggunakan kapur dolomit sebanyak 1 ton/ha, pupuk kandang 1 ton/ha dan pupuk NPK (16-16-16) sebanyak 450 Kg. Perlakuan menggunakan bahan organik biomol yang diberikan pada pertanaman dengan dosis 6-8 ton/ha (di bawah ukuran standar penggunaan bahan organik lahan kering masam) dan diaplikasikan pada perakaran tanaman pada 4 minggu setelah tanam (MST). Hasil tanaman jagung disajikan pada gambar 2.

Pemberian bahan organik biomol dari limbah sayuran memberikan hasil yang positif pada pertumbuhan dan hasil tanaman jagung Sukmaraga. Hal ini terlihat pada bobot tongkol basah,  bobot  junggel, bobot biji per tongkol, bobot tongkol per ubi bobot junggel per ubin, rasio biji/tongkol dan rasio biji/tongkol yang mengalami kenaikan sebesar 89,48?ri jagung tanpa pemberian biomol limbah sayur ini sehingga biomol dari limbah sayuran ini dapat digunakan sebagai alternatif bahan organik pengganti pupuk kandang di Kepulauan Riau dengan dosis 6-8 ton/ha sebagai standar pemberian bahan organik dilahan kering sub optimal Kepulauan Riau. Rekomendasi teknologi yang diperlukan adalah mulai sekarang lakukan pemanfaatkan limbah sayuran sebagai biomol yang terbuang dengan percuma di Kabupaten Bintan.

 

Cara Pembuatan biomol limbah sayuran:

 1.Limbah sayuran dicacah dengan batang pohon pisang yang tengahnya berwarna putih dan empon-empon kemudian diblender.

 2. Hasil campuran kemudian di tambahkan bio aktivator EM4 sebanyak 5 ml, gula merah 200 gr, biourine sebanyak 1 liter dan ditambahkan air

 3.Seluruh bahan dimasukkan dalam tong tertutup yang diberi saluran pembuangan gas dan difermentasikan. Campuran disimpan beberapa hari sampai limbah tidak mengeluarkan bau lagi dan matang untuk siap digunakan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Reporter : Nurdin/Fitriani/Fransisca/Suhendra
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018