Friday, 10 July 2020


Gunakan Teknologi Ini, Petani Rawa Sambas Untung 4 Kali Lipat

22 Jun 2020, 16:34 WIBEditor : Gesha

Pertanaman di Sambas, Kalbar | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Banjarbaru --- Sejak tahun 2019, petani rawa pasang surut (pasut) di Kabupaten Sambas didampingi Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Badan Litbang Pertanian meningkatkan produksi dengan beragam teknologi unggul. Hasilnya, keuntungan mereka bisa mencapai 4 kali lipat dibandingkan teknologi konvensional yang biasa mereka lakukan.

"Lahan tersebut berada di Desa Matang Danau, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Disana, air pasang tunggal (besar) mampu masuk ke saluran tersier yang membelah area penelitian, baik saat musim hujan maupun musim kemarau. Lahan ini termasuk lahan rawa pasang surut tipe luapan C," tutur Peneliti Sosial Ekonomi dari Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Badan Litbang Pertanian, Yanti Rina Darsani.

Selama ini, air pasang tersebut dijadikan petani sebagai salah satu sumber air irigasi pada pertanaman musim kemarau, karena curah hujan tidsk dapat memenuhi kebutuhan air bagi tanaman. Sehingga para petani hanya bertanam padi sekali setahun dengan memanfaatkan curah hujan, kekurangan air dicukupi melalui pompanisasi.

Padahal, dilihat dari potensi air pertanaman bisa ditingkatkan indeks pertanamannya menjadi dua kali (IP 200), yaitu dengan memanfaatkan sumber air pasang yang masuk ke saluran tersier dan melakukan pompanisasi serta pembenahan jaringan irigasi agar air bisa terdistribusi ke semua petak sawah dalam kawasan tersebut.

Karena itu, Balittra mendampingi dengan bentuk paket teknologi pada MT I dan MT II masing-masing seluas 5 (lima) hektar untuk paket teknologi Balittra (Teknologi introduksi) dan hamparan seluas 45 ha untuk (teknologi petani), dengan demikian luas lahan keseluruhan adalah 100 ha (2 musim tanam, masing-masing 50 ha).

Adapun teknologi model pengelolaan lahan rawa pasang surut yang diintroduksikan dalam unit percontohan adalah: pengolahan tanah, pengelolaan hara berdasarkab DSS pemupukan padi lahan rawa pasang surut, pupuk hayati (Biotara), sistem tanam jajar legowo 2:1, dan pemeliharaan tanaman intensif.

"Kita kelola air dengan sistem Tabat konservasi dan sistem pompanisasi. varietasnya Inpara 1, 3,dan inpari 32, penyiapan lahan dengan hand traktor, sistem tanam jarwo 2:1, pengelolaan hara menggunakan 1 ton dolomit + 100 Urea + 250 NPK/ha, " beber Yanti.

Dibandingkan dengan teknologi konvensional yang selama ini dilakukan petani yaitu menggunakan sistem pompanisasi, varietas padi Cilosari dan Karampai, penyiapan lahan umumnya dilakukan tanpa mengolah lahan. Pertanaman pun dilakukan dengan sistem tegalan. Sedangkan pengelolaan hara menggunakan 50 kg Urea/ha + 150 kg NPK/ha.

Pupuk NPK phonska dan urea dicampur diberikan dua kali yaitu pada saat tanaman berumur tujuh hari setelah tanam dan sisanya diberikan pada umur tanaman empat puluh lima hari setelah tanam. Pemberian pupuk dilakukan secara disebar merata pada lahan sawah yang sedang dalam kondisi air macak-macak.

Lebih Untung

Dari hasil pertanaman, Yanti menuturkan ada perbedaan yang signifikan, baik dari segi produksi maupun penghasilan dibandingkan teknologi petani konvensional yang menggunakan varietas Cilosari.

"Di musim kemarau 2018 misalnya, Inpari 32 bisa dihasilkan sebanyak 5.390 kg alias 5,3 ton/hektar dengan keuntungan Rp 20 jutaan. Sedangkan di musim hujan 2018/2019, Inpari 32 menghasilkan 8 ton/hektar dengan keuntungan mencapai 29 jutaan sehingga total keuntungan bisa mencapai Rp 49 jutaan per hektarnya," jelas Yanti.

Dibandingkan dengan teknologi konvensional petani pada musim penghujan dan menggunakan varietas Cilosari yang hanya bisa menghasilkan 3,6 ton per hektar sehingga hanya bisa mendapatkan keuntungan Rp 9,4 juta per hektar saja.

"Teknologi inovatif hasil penelitian pertanian lahan rawa pasang surut untuk menunjang swasembada pangan telah dilaksanakan dan memberikan hasil yang sangat memuaskan, petani bisa untung 4 kali lipat," jelasnya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa menggunakan teknologi dan varietas yang tepat seperti Inpari 32, secara ekonomis usahatani padi unggul yang diusahakan menguntungkan dan layak untuk dikembangkan.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018