Tuesday, 14 July 2020


Cara Menumpas Moler pada Budidaya Bawang Merah dengan Trichoderma

23 Jun 2020, 11:46 WIBEditor : Ahmad Soim

Bawang merah dan Trichoderma yang diperbesar | Sumber Foto:BPTP Kepri

TABLOIDSINARTANI, Kepri -  Budidaya bawang merah (Allium ascalonium L.) menghadapi beberapa risiko, salah satunya adalah serangan hama dan penyakit tanaman. Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kepulauan Riau mengenalkan paket budidaya Bawang Merah dengan menggunakan Trichoderma untuk menangkal hama dan penyakit.

Penyakit tanaman dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun fungi/cendawan. Salah satu contoh fungi yang berbahaya adalah Fusarium. Fusarium merupakan fungi tular tanah yang dikenal menyebabkan penyakit layu.

Jenis tanaman yang rentan terserang Fusharium adalah bawang merah. Pada tanaman bawang merah, penyakit akibat Fusarium biasa disebut sebagai moler dan menyerang tanaman berumur 35-45 hari setelah tanam (HST). Namun waktu serangan dapat menjadi lebih awal apabila kualitas benih yang digunakan adalah rendah.

Tanda penyakit moler pada tanaman bawang merah adalah warna daunnya tampak kuning, tanaman cepat layu, bentuk daun terpelintir atau meliuk, serta tanaman mudah tercabut karena pertumbuhan akar terganggu dan membusuk. Pertanaman yang terserang juga akan mengalami pengurangan hasil yang signifikan.

 Salah satu cara pengendalian penyakit ini adalah dengan menggunakan agens hayati, seperti Trichoderma.   Trichoderma adalah suatu jenis fungi yang menguntungkan dan dapat digunakan untuk mengendalikan fungi penyebab penyakit (patogen) seperti Fusarium.

Trichoderma bekerja dengan cara meliputi Fusarium dan menghancurkan dinding selnya atau disebut proses parasitisme. Kemampuan Trichoderma untuk menghambat perkembangan Fusarium ini telah dibuktikan pada berbagai penelitian. Namun perlu diingat bahwa pengendalian Fusarium dengan Trichoderma baru akan efektif jika aplikasinya dilakukan dengan tepat.

Kepala BPTP Kepri, Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP. mengungkapkan di Kepulauan Riau jarang sekali petani membudidayakan bawang merah, berdasarkan data BPS (2019), produksi tahun 2015 hanya 1 ton pertahun, dan pada tahun 2019 meningkat menjadi 95 ton per tahun, sangat jauh dengan kebutuhan bawang merah di Kepri.

Selama ini bawang merah di Kepri lebih banyak dipasok dari luar Kepri. Pengembangan budidaya bawang merah di Kepri juga mengalami kendala dari sisi ketersediaan benih bermutu yang lebih banyak didatangkan dari luar Kepri. Biaya produksi menjadi tinggi karena ongkos transportasi untuk pengiriman benih sangat mahal. Kendala lainnya adalah teknologi budidaya yang kurang dikuasai oleh petani khususnya dalam pengendalian OPT. 

Hasil identifikasi BPTP Kepri menunjukkan bahwa serangan penyakit Moler menjadi faktor dominan yang menyebabkan kegagalan budidaya bawang merah di Kepulauan Riau. Serangan penyakit Moler yang merusak tanaman telah menyebabkan petani bawang merah di beberapa tempat mengalami kerugian. Apalagi penyebaran penyakit ini begitu cepat di lahan.

Pada tahun 2020, Kepala BPTP Kepri Dr. Sugeng meminta tim penelitinya untuk mengenalkan paket teknologi budidaya bawang merah dengan penggunaan aplikasi Trichoderma untuk mengendalian penyakit Moler dalam bentuk demplot di Kabupaten Bintan.

Aplikasi Trichoderma dalam budidaya bawang merah dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

1. Aplikasi pada benih atau bahan tanam: Trichoderma diaplikasikan pada media persemaian (untuk tanaman bawang merah yang berasal dari biji (True Shallot Seed/TSS) agar dapat berkembang di sistem perakaran bawang merah seiring pertumbuhan tanaman.

2. Dicampurkan dengan pupuk kandang: pupuk kandang dicampur dengan Trichoderma secara merata dan didiamkan beberapa hari agar menjadi kompos sebelum disebar ke lahan sebagai pupuk dasar. Pada proses pengomposan ini, timbul panas yang mematikan biji-biji gulma, patogen, dan mengurangi bau. Selain untuk pengendalian patogen, penambahan Trichoderma juga berfungsi untuk membantu proses dekomposisi pupuk kandang.

3. Aplikasi pada bedengan tanam: Trichoderma disiramkan atau ditabur dan dicampur ke bedengan yang telah dipersiapkan paling tidak 2 minggu sebelum tanam. Hal ini memberi Trichoderma waktu untuk berkembang sehingga dapat mengendalikan pathogen sejak awal.

Dengan cara aplikasi tersebut, diharapkan Trichoderma memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang lebih dulu di tanah area pertanaman sehingga memiliki keuntungan dalam kompetisi dengan fungi patogen lain, terutama Fusarium. 

 

 

 

 

Reporter : A.D. Alifia dan S.Widodo
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018