Wednesday, 21 October 2026


Kembangngkan APH, Jumeno Kampanyekan Pertanian Ramah Lingkungan

01 Jul 2020, 14:43 WIBEditor : Yulianto

Lokasi Gapoktan Sido Makmur, Bantul yang mengembangkan APH untuk mendukung pertanian ramah lingkungan

TABLOIDSINARTANI.COM, Bantul---Penggunaan pestisida kimia sintetik secara masif (berlebihan dan tidak bijaksana) selama ini dianggap sebagai cara ampuh mengendalikan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Tapi ternyata justru berdampak negatif pada kesehatan lingkungan (agroekosistem), hewan/manusia dan menurunnya tingkat kesuburan tanah.

Di tengah serbuan produk pestisida kimia, kini petani mulai sadar bahaya penggunaannya. Misalnya, Jumeno, petani yang tinggal di Dusun Karang Ploso, Desa Siti Mulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta kini mengembangkan Agens Pengendali Hayati (APH) untuk mengendalikan OPT sayuran.

APH bersifat aman, mudah dikembangkan dan ramah lingkungan untuk mengendalikan OPT sasaran. Karena itu Jumeno tanpa mengenal lelah berusaha mengkampanyekan manfaat budidaya hortikuktura ramah lingkungan dan menularkan ilmu kepada petani lainnya. "Mencegah lebih baik daripada mengobati. Kami selalu memprioritaskan pemanfaatan agens pengendali hayati dari awal tanam sampai panen," ujar Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Makmur ini.

Gapoktan Sido Makmur mulai dirintis tahun 2000 sejak mendapatkan pembelanjaran SLPHT dalam budidaya ramah lingkungan. Jumino pun menggandeng beberapa petani merintis pengembangan agens pengendali hayati setelah mendapatkan edukasi dari petugas Dinas dan Balai Proteksi setempat. "Kami merasakan manfaat nyata dari APH," katanya.

Jumeno mengajarkan cara pembuatan pestisida biologi seperti APH dan pestisida nabati ke petani-petani muda dan kelompok tani lainnya. Komoditas andalan yang dibudidayakan petani di daerahnya adalah tanaman sayuran. Diantaranya, cabai, bawang merah, kembang kol, timun, terong dan kacang panjang.

Untuk memperkuat SDM, Jumeno mengatakan, sejak tahun 2000 sampai sekarang Gapoktan Sido Makmur masih aktif di Ikatan Pengendali Hama Terpadu Indonesia dengan anggota alumni-alumni SLPHT. Bahkan pertemuan rutin Gapoktan ini selalu dilakukan setiap Kamis Legi.

Produsen APH

Gapoktan Sido Makmur kini menjadi produsen beragam produk APH, serta berperan aktif menyebarkan semangat pertanian ramah lingkungan kepada kelompok tani lainnya. APH yang sudah dikembangkan antara lain Beauveria bassiana, Paenibacillus polymyxa, Trichoderma sp. dan PGPR. Selain itu diproduksi juga pupuk padat dan cair dari limbah organik.

“Manfaatnya luar biasa, menjadikan tanaman jadi subur dan sehat, tanah sehat, aman konsumsi, dan produksi yang dihasilkan banyak,” kata Jumeno di sela-sela kesibukannya. 

Saat sosialisasi APH, Jumeno mengatakan, Gapoktan Sido Makmur sering menyelenggarakan bakti sosial berupa pendampingan gerakan pengendalian OPT secara massal di seluruh wilayah Kabupaten Bantul. Giat tersebut dilakukan bersama-sama dengan paguyuban petani peduli lingkungan yang dikenal sebagai Regu Perlindungan Tanaman (RPT).

Terpisah, Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto menyatakan bahwa penggunaan APH mendukung program Direktorat Jenderal Hortikultura yaitu untuk meningkatkan produksi, produktivitas dan mutu produk hortikultura yang aman konsumsi, berdaya saing dan berkelanjutan. "Ini sebagaimana arahan Menteri Pertanian Bapak Syahrul Yasin Limpo," jelas dia.

Anton sapaan akrab Dirjen Hortikultura menambahkan, budidaya ramah lingkungan di Kabupaten Bantul begitu pesat. “Ini patut diapresiasi dan perlu dilakukan penguatan kelembagaan untuk menaungi petani organik atau petani yang sudah ramah lingkungan di Kabupaten Bantul,” katanya.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf menekankan agar POPT dan Penyuluh selalu semangat mengkampanyekan pertanian ramah lingkungan ke petani di wilayah binaannya.

“Dalam penerapan di lapangan, pengendalian OPT yang bersifat lokal spesifik seperti aplikasi agens hayati harus terus didukung dan dikembangkan, karena nilai manfaatnya telah dirasakan petani-petani kita,“ tegas Yanti.

Reporter : kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018