Saturday, 15 August 2020


Begini Kronologis Viralnya Kementan dengan Kalung Eucalyptus

06 Jul 2020, 16:50 WIBEditor : Gesha

Viralnya kalung eucaliptus Balitbangtan | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Dua hari terakhir, jagat media sosial sempat heboh dengan perdebatan mengenai kalung "antivirus" dari Eucalyptus yang dikeluarkan Kementerian Pertanian. Mengapa sampai viral?

"Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) sebagai salah satu unit eselon 1 di bawah Kementan yang memiliki mandat melakukan penelitian dan pengembangan, termasuk meneliti potensi eucalyptus yang merupakan salah satu jenis tanaman atsiri," ungkap Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufri dalam konferensi pers, Senin (6/7).

Saat awal pandemi, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) yang memiliki mandat melakukan penelitian bidang tanaman rempah, obat dan atsiri, sudah menginventarisir beberapa tanaman potensial sebagai peningkat imunitas dan juga antivirus. 

"Data ini diperoleh baik dari hasil-hasil penelitian selama hampir 40 tahun Balittro berdiri ataupun dari publikasi ilmiah. Ada sekitar 50 tanaman yang diidentifikasi, dan lebih 20 yang sudah diekstraksi dan diketahui bahan aktifnya," tambah Kepala Balitro, Evi Savitri Iriani.

Selanjutnya dilakukan pengujian oleh Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) terhadap kemampuan antivirus pada virus influenza dan virus corona model (beta dan gama corona).  

"Di Indonesia, saat ini belum ada laboratorium yang mampu menumbuhkan virus SARS-CoV-2 pada sel kultur.  Hasil pengujian menunjukkan beberapa ekstrak tanaman potensial sebagai antivirus pada pengujian in vitro pada media tumbuh.  Dengan konsentrasi terukur minyak eucalyptus mampu membunuh hingga 100 persen virus influenza maupun virus corona," beber Kepala BBlitvet, drh. NLP Indi Damayanti.

Penelitian ini kemudian masuk pada pengembangan produk dengan bahan dasar minyak oleh Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) yang memiliki kompetensi termasuk pengembangan produk berbasis nanoteknologi.

"Terdapat lima bentuk sediaan yang dikembangkan, yaitu roll on, inhaler, balsam, minyak aromaterapi dan kalung aromaterapi.  Saat ini paten atas produk eucalyptus sudah didaftarkan ke Ditjen HKI dan sudah dilisensi oleh mitra industri," jelas Kepala BB Pascapanen, Prayudi Syamsuri

Selain itu untuk pemasarannya, ijin edar dari BPOM sebagai obat tradisional sudah keluar.  Untuk bisa mendapat ijin edar tentunya sudah melewati proses evaluasi oleh Tim Pakar dari BPOM terkait kemampuannya.

Netralisir dan Membunuh Virus

Mengapa eucalyptus mampu menetralisir atau membunuh virus? 

Bila kita melakukan penelusuran ilmiah ataupun empiris, banyak informasi yang mendukung hasil inovasi Balitbangtan ini.  Menurut Bakkali et al (2008), Minyak atsiri umumnya memiliki kemampuan sebagai antimikroba, antivirus, antikanker, antiksidan, anti inflamasi, peningkat daya tahan tubuh.   

Minyak eucalyptus dengan kandungan bahan aktifnya yaitu 1,8 cineol atau eucalyptol memiliki kemampuan menghambat replikasi virus influenza (H1N1) menurut Sadatrasuletal (2017).  Selanjutnya beberapa publikasi lain (Sadlon et al., 2010; Singh et al, 2009; Lee et al, 2001; Serafino et al, 2008) menyebutkan tentang potensi eucalyptus untuk penanganan gangguan pernafasan, terutama pada pasien dengan pembengkakan saluran nafas dan paru paru. 

Sebagai antioksidan  bahkan eucalyptus sudah digunakan sebagai bahan aktif pada obat Soledum yang digunakan untuk pengobatan penyakit pernafasan. Kemampuan antimikroba dari Eucalyptus dan Tea Tree Oil yang mengandung 1,8 cineol berpotensi untuk desinfektan mikroba (May et al., 2000). Pengujian ke dua minyak atsiri ini sebagai bahan desinfektan aerosol menunjukkan kemampuan antivirus yang kuat yaitu mampu membunuh lebih dari 95% virus dalam waktu paparan 5-15 Menit (Usachev, 2013).  

Banyaknya publikasi serta fakta empiris terkait minyak eucalyptus sudah digunakan secara turun temurun sebagai pengobatan alternatif untuk flu dan gangguan pernafasan tentunya menjadi pendukung dari inovasi yang dilakukan oleh Balitbangtan.  

Informasi bahwa dari hasil pengujian in vitro,  minyak eucalyptus memiliki potensi menetralisir virus corona seharusnya ditangkap oleh Lembaga lain yang lebih kompeten untuk melakukan pengujian klinis pada manusia atau pasien COVID-19.  

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018