Sunday, 09 August 2020


Teknologi Resapan Biopori: Untuk Konservasi Tanah dan Air, serta Perbaikan Lingkungan Hidup (1)

24 Jul 2020, 08:16 WIBEditor : Ahmad Soim

Penempatan lubang biopori | Sumber Foto: Kamir R Brata

Oleh: Kamir R. Brata Innovator dan Motivator Teknologi  Resapan Biopori (e-mail: kamirbrata@gmail.com; HP: 087872381085)

 

TABLOIDSINARTANI.COM

1. Kenapa Perlu Resapan Biopori? 

Peningkatan jumlah penduduk serta pesatnya pembangunan pemukiman serta sarana dan prasarana fisik kawasan permukiman telah mengakibatkan berkurangnya ruang terbuka. Hal ini menyebabkan berkurangnya permukaan lahan yang dapat digunakan untuk peresapan air hujan serta tempat pembuangan sampah sementara (TPS) maupun tempat pemrosesan akhir (TPA). 

Dilain pihak, peningkatan jumlah penduduk juga mengakibatkan peningkatan kebutuhan air untuk berbagai keperluan, dan volume sampah yang dihasilkan. Pembuangan sampah organik yang tercampur dengan sampah non-organik baik di TPS dan TPA dapat menghambat proses pelapukan sampah organik, serta meningkatkan emisi karbon berupa CO2 dan metan yang dapat mengakibatkan efek rumah kaca penyebab terjadinya pemanasan global. 

Gejala pemanasan global seringkali mengakibatkan perubahan iklim seperti makin tingginya intensitas hujan, munculnya gejala El Nino dan La Nina dengan jumlah hujan yang berkurang dan berlebih. Peningkatan jumlah air hujan yang dibuang karena berkurangnya laju peresapan air ke dalam tanah; akan menyebabkan banjir dan genangan air pada musim hujan, serta kekeringan pada musim kemarau. Banjir dan genangan air diperparah oleh pendangkalan dan penyumbatan saluran drainase akibat pembuangan sampah sembarangan. 

Mengingat kebutuhan air yang terus meningkat dan sumber air utama berasal dari curah hujan; perlu diupayakan rekayasa teknologi tepat guna untuk perbaikan lingkungan hidup yang dapat meresapkan air hujan ke dalam tanah dan berguna untuk pemanfaatan sampah organik. 

Lubang resapan biopori (LRB) dan saluran peresapan biopori (SPB) dikembangkan untuk memperbaiki kondisi ekosistem tanah yang dapat menghidupi keanekaragaman hayati di dalam tanah (biodiversitas tanah).  Biodiversitas tanah dapat hidup dan berkembang biak di dalam tanah bila terdapat cukup air, oksigen, dan makanan sebagai sumber energi dan nutrisi untuk hidup dan perkembang-biakannya. Karena mereka umumnya heterotroph maka makanannya adalah bahan organik yang dihasilkan oleh autotroph dan organisme tanah yang telah mati.  

Sampah organik merupakan sumber bahan organik untuk makanan biodiversitas tanah. Pembuatan lubang/saluran yang relatif kecil ke dalam tanah dapat memperluas permukaan vertikal yang dapat menampung sampah organik dan meresapkan air dalam lubang dengan lancar ke segala arah. Dimensi lubang/saluran yang kecil dapat memudahkan proses pembuatannya pada berbagai tipe penggunaan lahan termasuk yang permukaannya sudah tersumbat oleh pertumbuhan lumut atau tertutup bahan kedap air. 

Aktivitas biodiversitas tanah dalam lubang/saluran yang terisi sampah organik, dapat mempercepat pelapukan sampah organik dan meningkatkan pembentukan biopori yang dapat memperlancar peresapan air dan pertukaran O2 dan CO2 di dalam tanah (perbaikan aerasi). 

Dengan demikian LRB/SPB merupakan teknologi tepat guna ramah lingkungan, yang dapat dilakukan oleh setiap pengguna lahan untuk mengatasi permasalahan makin sempitnya ruang terbuka hijau. Bila setiap rumah tangga dapat memanfaatkan sampah organik ke dalam LRB/SPB yang dibuat di kavling/kebunnya masing-masing, akan tersisa sampah non-organik yang dapat mempermudah pemanfaatannya oleh pemulung; berarti dapat mengurangi timbunan sampah yang menambah emisi Carbon (CO2 dan Metan) dan mencemari lingkungan. 

Bila air hujan dapat diresapkan di setiap kavling/kebun, akan dapat menambah cadangan air tanah, mengurangi limpasan permukaan yang mengakibatkan banjir dan genangan air; serta mencegah terjadinya retakan tanah akibat kekeringan. Untuk kawasan permukiman di wilayah pantai, peresapan air hujan yang efektif sangat penting untuk menambah cadangan air tanah, serta mencegah terjadinya keamblesan tanah (subsidence), banjir rob dan intrusi air laut. 

2. Mengenal Teknologi Resapan Biopori

Pengertian Biopori dan Resapan Biopori

Biopori (biopore) merupakan ruangan atau pori dalam tanah yang dibentuk oleh mahluk hidup seperti fauna tanah dan akar tanaman.  Biopori berbentuk liang  (terowongan kecil), bercabang-cabang yang sangat efektif  dapat menyalurkan air dan udara ke dan di dalam tanah. 

Biopori terbentuk oleh adanya pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman di dalam tanah, serta meningkatnya aktivitas fauna tanah, seperti cacing tanah, rayap, dan semut menggali liang di dalam tanah.  Biopori tidak mungkin dapat dibuat dengan teknologi peralatan secanggih apapun. Biopori akan terus bertambah mengikuti pertumbuhan akar tanaman serta peningkatan populasi dan aktivitas organisme tanah. 

Kelebihan biopori dibandingkan dengan pori makro di antara agregat tanah, yaitu: (1) lebih mantap karena dilapisi oleh senyawa organik yang dikeluarkan oleh tubuh cacing (Lee, 1985 ; Brata, 1990), (2) berbentuk lubang silindris yang bersinambung ke segala arah dan tidak mudah tertutup oleh adanya proses pengembangan karena pembasahan pada tanah yang bersifat vertik (dapat mengembang dan mengerut) sekalipun (Dexter, 1988), (3) dapat menyediakan liang yang mudah ditembus akar tanaman (Wang, Hesketh, dan Woolley, 1986), dan (4) menyediakan saluran bagi peresapan air (infiltrasi) secara horizontal maupun vertikal yang lancar ke dalam tanah (Smettem, 1992 ; Brata, 2004). 

Bahan mineral dan bahan organik yang dimakan cacing kemudian dikeluarkan menjadi kotoran cacing (castings) yang mempunyai bobot isi lebih rendah (1.15 g/cm3) dibandingkan dengan tanah sekitarnya yang berbobot isi 1.5 - 1.6 g/cm3 (McKenzie dan Dexter, 1987). Kotoran cacing tersebut merupakan agregat tanah yang stabil karena dimantapkan oleh senyawa organik berupa senyawa polisakarida yang dihasilkan oleh mikroba dan bahan organik yang dimakan cacing (Shipitalo dan Protz, 1989), serta diikat oleh miselia dan hifa fungi (Marinissen dan Dexter, 1990).

Populasi dan aktivitas organisme tanah dapat ditingkatkan melalui upaya penambahan sampah organik yang cukup ke dalam tanah.  Untuk memudahkan pemanfaatan sampah organik perlu dibuat lubang/saluran vertikal ke dalam tanah, yang dikenal dengan lubang resapan biopori (LRB) / saluran peresapan biopori (SPB). Agar tidak menimbulkan pengumpulan sampah organik dan air yang masuk ke dalam lubang/saluran terlalu banyak, diameter lubang/saluran tidak boleh terlalu besar. 

Lubang resapan biopori (LRB) merupakan lubang berbentuk silindris berdiameter 10 cm yang digali ke dalam tanah. Kedalamannya sekitar 100 cm dari permukaan tanah,atau tidak melebihi kedalaman muka air tanah. Salurah peresapan biopori (SPB) merupakan saluran lebar 20-30 cm, dalam 20-30 cm memanjang mengikuti kontur atau memotong kemiringan lahan. 

Lubang/saluran diisi sampah organik sebagai makanan beraneka-ragam organisme tanah (biodiversitas tanah) untuk hidup dan berkembang-biak.  Fauna tanah bekerja menggali liang (biopori) dan mengunyah memperkecil ukuran sampah organik, sehingga dapat membantu mikro-organisme untuk melapukkan sampah organik menjadi kompos. 

Pembuatan lubang/saluran yang relatif kecil ke dalam tanah dapat memperluas permukaan vertikal seluas dinding lubang/saluran yang dapat menampung sampah organik dan meresapkan air dalam lubang/saluran dengan lancar ke segala arah. Dimensi lubang/saluran yang kecil dapat memudahkan proses pembuatannya. Aktivitas biodiversitas tanah dapat mempercepat pelapukan sampah organik serta meningkatkan pembentukan biopori yang dapat memperlancar peresapan air dan pertukaran O2 dan CO2 di dalam tanah. 

LRB/SPB dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam meresapkan air. Air tersebut meresap ke segala arah melalui biopori yang terbentuk menembus permukaan dinding LRB/SPB ke dalam tanah di sekitar lubang. Dengan demikian, akan menambah cadangan air dalam tanah serta dapat menghindari terjadinya aliran air di permukaan tanah. Pemasukan sampah organik ke dalam tanah dapat memperbaiki kondisi subsoil untuk membantu pertumbuhan akar lebih dalam, serta meningkatkan penyimpanan C (Carbon sink)

(Bersambung)

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018