Saturday, 19 September 2020


Diberi Pakan Lamtoro, Sapi Cepat Gemuk dan Daging Lebih Empuk

05 Aug 2020, 07:58 WIBEditor : Gesha

Penampakan kualitas daging dari sapi penggemukan yang diberi pakan lamtoro | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Sinjai --- Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) telah membuktikan tanaman lamtoro bisa digunakan untuk meningkatkan bobot ternak sekaligus meningkatkan kualitasnya pada fase penggemukan.

Berbagai daerah di Indonesia, lamtoro lebih dikenal dengan nama petai cina. Tanaman yang berasal dari semenanjung Yucatan di Meksiko mempunyai nama latin Leucaena leucocephala merupakan salah satu dari sekian banyak hijauan pakan ternak (HPT) yang ada di Indonesia. 

Lamtoro mempunyai pertumbuhan yang cepat dan dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan tahunan 650 mm sampai 3000 mm. Tanaman ini toleran terhadap iklim kering atau yang memiliki curah hujan 300 mm dengan periode kekeringan 6 sampai 7 bulan sehingga sangat cocok dikembangkan di daerah kering beriklim kering.

Daun lamtoro ini sangat disukai ternak ruminansia dan mempunyai nilai nutrisi yang tinggi sebagai pakan. Kandungan nutrisi dari lamtoro antara lain Protein Kasar (PK) lebih dari 20 persen, Neutral Detergent Fibre (NDF) berkisar 40 persen, Acid Detergent Fibre (ADF) berkisar 25 persen kecernaan lebih dari 65 persen dan energi termetabolisme (ME) sebesar 11 MJ/kg.

Hijauan ini sangat cocok dipakai untuk pakan penggemukan karena kandungan nutrisinya yang tinggi sehingga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi penggemukan. Penggunaan lamtoro sebagai pakan sangat ramah lingkungan karena dapat menurunkan produksi gas metan didalam rumen. 

Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry menyebutkan bahwa penelitian dan pengembangan lamtoro khususnya kultivar Tarramba untuk pakan sapi penggemukan sudah dilakukan di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak tahun 2010. 

“Bahkan, jumlah peternak yang mengembangkan tanaman lamtoro sebagai pakan utama untuk sapi penggemukan di NTB khususnya di pulau Sumbawa sudah mencapai sekitar 2000 peternak. Jenis sapi yang dipelihara pada umumnya adalah sapi Bali," ujarnya.

Sapi penggemukan diberi pakan yang mengandung 70-100 persen lamtoro dengan lama penggemukan berkisar antara 4 sampai 12 bulan. Kenaikan berat badan yang dicapai berkisar 0,4-0,6 kg/hari.

“Dengan tingkat pertumbuhan tersebut peternak dapat menghasilkan sapi penggemukan dengan berat jual atau berat potong lebih dari 250 kg pada umur yang lebih muda. Persentase karkas diperoleh lebih dari 50% sehingga kualitas daging yang dihasilkan meningkat,” lanjut Fadjry.

Peneliti sapi dari BPTP NTB, Tanda Panjaitan menyatakan bahwa kualitas daging  ditentukan oleh pemeliharaan, umur potong dan penangan daging paska potong. "Pelayuan daging sapi Bali yang diberi pakan lamtoro pada suhu 2 derajat Celcius selama tujuh hari dihasilkan nilai shear force kurang dari 5 kg/cm2 yang artinya daging sapi Bali yang diberi pakan lamtoro tergolong empuk," bebernya.

Keistimewaan lain dari daging sapi yang diberi pakan Lamtoro adalah lebih sehat karena rendah kandungan asam lemak jenuh, tinggi kandungan asam linoleat, empuk/lembut, juicy dan segar.

Strategi Peningkatan Produksi

Pakan lamtoro ini menjadi salah satu alternatif hijauan pakan ternak (HPT) yang bisa digunakan untuk meningkatkan hasil produksi ternak. 

Untuk diketahui, Kementerian Pertanian (Kementan) terus menggencadkan peningkatan produksi protein khususnya daging sapi terus digencarkan oleh pemerintah. Program inseminasi buatan (IB) sebagai salah satu cara mendorong peningkatan populasi sapi pun terus digalakkan. 

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat melakukan panen pedet di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Kamis (30/7) mengungkapkan optimistismenya, bahwa dengan model peternakan melalui inseminasi buatan serta dukungan kepada para peternak akan mampu memperkecil nilai ekspor dan berdampak signifikan pada perekonomian peternak.

“Dengan keberhasilan (program) tersebut, terjadi lompatan populasi sapi maupun kerbau yang cukup signifikan selama lima tahun terakhir, yaitu sebesar 3,37 juta ekor, sehingga populasi saat ini berjumlah 18,82 ekor,” ungkap Mentan SYL.

 

Reporter : REP/TP
Sumber : BALITBANGTAN
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018