Monday, 28 September 2020


Ekonomisasi Keanekaragaman Hayati untuk Industri Pangan yang Beragam

10 Aug 2020, 16:43 WIBEditor : Ahmad Soim

Diversifikasi Pangan | Sumber Foto:Dok Tabloid Sinar Tani

Agus Pakpahan - Natural Resource Economist dan Dirjen Perkebunan 1998-2003

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Keanekaragaman hayati merupakan sifat intrinsik wilayah yang beriklim tropika.  Sifat intrinsik ini hadir sebagai berkah hadirnya sinar matahari setiap hari sepanjang tahun.  Artinya, kehadiran matahari sepanjang tahun ini, tidak seperti di wilayah iklim temperate, memberikan energi kepada seluruh jenis tanaman untuk tumbuh dengan baik. 

Tidak ada seleksi alam yang keras dilakukan oleh faktor iklim seperti sinar matahari.  Sifat ini juga bersinergi dengan faktor sosial budaya masyarakat tropika. Salah satu pola hidup pertanian tropika yang bisa kita lihat dalam bentuk pola tradisionalnya adalah pola pertanian multi-komoditas atau farming systems di mana tanaman, ternak atau ikan menjadi satu bagian integral sistem usahatani yang biasa dilakukan oleh para petani.  

Tulisan ini hanya akan membahas satu aspek dari keanekaragaman hayati yaitu aspek ekonomi yang berkaitan dengan upaya pencapaian skala atau ukuran ekonomi yang besar untuk memenuhi kebutuhan pangan yang makin meningkat agar bisa dipenuhi oleh sumberdaya alam yang tersedia di Indonesia.

Dengan singkat penulis menggunakan istilah keanekaragaman hayati dan keanekaragaman pangan terintegrasi industri. Mengapa hal ini penting?  Pertama, sederhana saja karena selama ini kita banyak tergantung untuk memenuhi kebutuhan pangan kita pada pasokan dari negeri lain; dan kedua, merupakan tantangan kita sendiri sebagai bangsa tropika yang tampak selama ini tertinggal dari bangsa-bangsa yang berada di wilayah iklim temperate. 

Data pendapatan per kapita masyarakat menunjukkan semakin mendekat ke garis khatulistiwa, semakin miskin suatu negara. Pangsa pengeluaran pangan kita masih tinggi. Menurut BPS, pada 2018 pangsa pengeluaran pangan penduduk di perdesaan adalah 56,28 persen,  lebih besar dibandingkan penduduk diperkotaan 45,98 persen.  Artinya, dari 100 persen pengeluaran rumah tangga maka sekitar 45,98 persen hingga 56,28 persen dibelanjakan untuk membeli makanan.  Bandingka dengan pangsa pengeluaran pangan negara-negara maju adalah sekitar 10%. Semakin tinggi pangsa pengeluaran pangan semakin miskin bangsa yang bersangkutan. Karena itu pangan tetap masih menjadi bagian terpenting dalam penyusunan strategi pembangunan nasional. Ketiga, bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME, sebagai bangsa tropika, tentunya kita harus mampu mengoptimalkan sumberdaya alam tropika itu sendiri.  

You are what you eat, merupakan pepatah Barat yang sangat penting untuk kita selami.  Orang Barat membangun dirinya dengan membangun budaya makannya dan hasilnya tergambar dalam perkembangan masyarakat Barat yang bisa kita lihat sekarang. Ciri utama konsumsi masyarakat Barat yang kemudian menjadi penciri utama pula pola konsumsi negara maju baru seperti Jepang dan Korea Selatan, adalah tingginya tingkat konsumsi protein hewani.  Tingginya konsumsi protein hewani ini ternyata juga berlaku pada 17 negara berkembang yang memiliki nilai GHI (Global Hunger Index) lebih kecil dari 5.0, yaitu batas nilai index GHI untuk negara maju (semakin kecil nilai index, semakin rendah tingkat kelaparannya.  Kelaparan di sini digambarkan oleh keadaan suatu negara berdasarkan 4 variabel: stunting, tingkat kematian bayi, kurang gizi, dan child wasting). 

Hal yang bisa disebut mencengangkan adalah ternyata terdapat bukti kasus bahwa di antara 17 negara dengan nilai GHI sama dengan GHI negara maju, terdapat satu kasus yaitu Ukraina memiliki GHI sama dengan GHI negara maju, padahal pendapatan per kapitanya lebih rendah daripada pendapatan per kapita Indonesia.  Pendapatan per kapita Ukraina pada tahun 2019 adalah USD 3.592 sedangkan pendapatan per kapita Indonesia adalah USD 4450.70.  Jadi, walau pendapatan per kapita Indonesia 23.9 lebih tinggi  daripada pendapatan per kapita bangsa Ukraina, nilai GHI Indonesia tertinggal dari Ukraina sekitar 75-80 tahun apabila Indonesia tidak bisa mempercepat penurunan GHI sejak 2000-2017. Nilai GHI Indonesia pada 2019 adalah 20.1.  

Banyak hasil penelitian menyatakan bahwa kunci untuk bisa mengatasi stunting adalah pemenuhan konsumsi makanan yang berasal dari hewan atau ternak, termasuk di dalamnya adalah ikan.  Pola konsumsi protein hewani di negara-negara berkembang yang mampu mencapai nilai GHI kurang dari 5.0 adalah kesuksesan mereka dalam menyediakan konsumsi protein hewani bagi rakyatnya.  Protein hewani menjadi prioritas.

Bangsa Barat atau negara maju mengembangkan ekonomi pangannya berdasarkan atas pola skala usaha yang besar dari suatu komoditas.  Hal ini didukung oleh sifat alam di sana, yang berbeda dengan sifat alam tropika.  Bangsa tropika untuk mencapai skala besar perlu mampu melakukan ekonomisasi keanekaragaman hayati yang tersedia di wilayah tropika yang sifatnya banyak spesies tetapi volume atau bobot masing-masingnya kecil-kecil.  Apa yang harus dikerjakan untuk ekonomisasi komoditas yang sedikit jumlahnya dan banyak macamnya itu?

Pertama, kita perlu masuk ke hal yang lebih mendasar lagi dalam mendefinisikan pangan. Yang dimaksud di sini adalah mendefinisikan pangan dalam kategori substansi yang diperlukan tubuh dan tersedia di alam tropika, yaitu protein, karbohidrat, lemak, serat, vitamin, mineral dan lainnya. Penulis dengan sengaja meletakkan urutan protein pada urutan pertama dengan pertimbangan menurut bahasa Yunani yang mana kata protein berasal dari kata prōteios, yang berarti "the first quality," dari kata prōtos “first” (https://www.etymonline.com/word/protein), perlu juga kita tumbuhkan dalam budaya pangan kita yang selama ini lebih melihat karbohidrat sebagai the first pangan pokok kita.

Dengan menanamkan bahwa pangan itu adalah protein, karbohidrat, lemak dan seterusnya maka kita akan bisa melepaskan diri terhadap ketergantungan akan satu atau dua jenis spesies tanaman atau ternak saja.  Yang kita perhatikan adalah protein, karbohidrat dan lemak serta komponen pangan lainnya itu, tidak memandang darimana asalnya, dengan tetap tidak melanggar dimensi yang digariskan oleh agama.  Dengan demikian kita tidak melihat ikan, ternak, beras, jagung, ubikayu, sagu dan lain-lain sebagai komoditas yang terpisah-pisah, tetapi diintegrasikan sejak awal sebagai pangan.

Kedua, berdasarkan pemaknaan di atas maka untuk selanjutnya adalah pengembangan teknologi pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk membangun skala ekonomi agar tumbuh dan berkembang industri pangan besar berdasarkan keanekaragaman hayati tersebut.  Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan teknologi mencampur (mixing/blending) beragam sumber protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan lain-lain ke dalam satu wujud komoditas pangan baru Nusantara.  Penepungan atau pencairan atau apa saja teknologi yang tersedia di bidang teknologi pangan merupakan potensi besar untuk bisa dimanfaatkan.  Teknologi pangan seperti itulah yang menjadi jembatan dari keanekaragaman hayati, skala ekonomi, diversifikasi pangan modern, dan kesehatan rakyat dan bangsa Indonesia mendatang, plus kelestarian keanekaragaman hayati nusantara juga.  

Model ekonomisasi keanekaragaman hayati yang diuraikan di atas adalah model ekonomi sirkular pangan tropika.  Dengan konsep ini bisa dianalisis mana yang lebih murah, menguntungkan secara ekonomi maupun lingkungan hidup di antara, misalnya, tiga pilihan berikut: 1) Mengalih fungsikan hutan menjadi lahan pertanian dengan mencetak sawah atau diversifikasi pangan dengan cara menjembatani integrasi ikan, daging, sagu, beras, jagung, ubi, talas, dan lain-lain dalam konteks keanekaragaman hayati dengan kriteria utama memenuhi persyaratan terselenggaranya pembangunan yang berkelanjutan.  Dalam hal ini perlu diingat bahwa lahan yang dimiliki Indonesia ini selain terbatas juga jumlahnya konstan; 2) Mengembangkan teknologi dan industri pangan berbasis keanekaragaman hayati sebagaimana diuraikan dimana teknologi bisa terus diperbaiki, manusia terus bertambah, selera bisa berubah, semua di dunia bisa berubah tetapi jumlah lahan di dunia tetap saja, konstan.  Sifat konstan dari luas lahan ini perlu disubstitusi oleh teknologi dan penyesuaian selera atau preferensi masyarakat; 3) Menggantungkan pada impor pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan masa depan. 

Jangan sampai memerlukan waktu 80 tahun lagi agar GHI Indonesia baru bisa menyamai GHI negara maju.  Indonesia perlu belajar dari Ukraina yang telah membuktikan walaupun pendapatan perkapitanya lebih rendah dari Indonesia ternyata bangsa Ukraina bisa mencapai nilai GHI negara maju, dengan nilai indeks stunting yang sangat rendah dibandingkan dengan kita. Keanekaragaman hayati merupakan sumberdaya utama Indonesia, tinggal dibangun industri pangan berbasis kepadanya.

Dirgahayu 75 Tahun NKRI.  Merdeka!

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018