Wednesday, 30 September 2020


Poktan di Jakpus, Gunakan Tenaga Surya untuk Pompa Hidroponik

28 Aug 2020, 07:02 WIBEditor : Gesha

Petani hidroponik Jakarta Pusat | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta Pusat --- Penggiat Urban Farming di Jakarta selain semakin banyak jumlahnya, juga semakin banyak inovasinya untuk memaksimalkan profit dan mengurangi biaya produksi. Salah satu contohnya Kelompok Tani (Poktan) di Jakarta Pusat, berinovasi dengan system tenaga surya untuk irigasi hidroponik.

Kelompok Petani Kota (KPK) Hidroponik di RW 06 Kelurahan Cempaka Putih Timur, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat ini berhasil “menyulap” lingkungan yang tadinya kumuh, banyak sampah, menjadi kawasan yang sejuk dan asri.

Setidaknya ada 16 rak hidroponik yang ditanami berbagai sayuran tampak berderet rapi saat tim Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta berkunjung pada Rabu (19/8). 

Hadir Kepala Bidang Pertanian, Mujiati, Kepala Seksi Pertanian Perkotaan, Taufik Yulianto, Suku Dinas (Sudin) KPKP Jakarta Pusat, Lurah Cempaka Putih Timur, Shinta Purnama Sari, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan KPKP Jakarta Pusat, Satuan Pelaksana KPKP Kecamatan Cempaka Putih.

“Di sini kami mempunyai 16 rak hidroponik dengan 4000 lubang tanam. Potensi ekonomi besar sekali, setiap lubang tanam menghasilkan Rp 5.000,- rupiah, per bulan mencapai Rp 20 juta, kalau setahun bisa Rp 240 juta omzet perputaran uang. Mengelola hidroponik ini kalau ingin berkelanjutan, motivasinya harus ekonomi,” kata Nick Nurrahman, salah satu pembina manajemen Poktan.

Lebih lanjut Nick memaparkan bahwa setiap rak hidroponik ada penanggung jawabnya masing-masing yang punya hak dan kewajiban.Kewajiban menanggung biaya produksi, kalau haknya berupa hasil panen dinikmati sendiri. Namun setelah panen ada kewajiban menyetor 5 persen ke kas Poktan untuk membayar air dan listrik bersama –sama. Per bulan iuran Rp 10.000,- per penanggung jawab rak. Air beli di PDAM karena kalau air tanah pH terlalu tinggi. 

“Keunikan pertanian perkotaan yaitu dapat dilakukan oleh siapa pun, pegawai kantoran, pedagang, sedangkan kalau di pedesaan benar-benar orang tersebut profesinya petani. Keterbatasan lahan di kota besar justru membuat orang semakin kreatif, misalnya Poktan ini yang mengembangkan solar system (tenaga surya) untuk menghemat listrik. Potensi bisnis juga besar, karena warga sekitar akan lebih mudah mendapat sayuran yang bersih dan sehat, “ beber Kepala Bidang Pertanian Dinas KPKP Jakarta, Mujiati.

Semangat dan inovasi anggota Poktan ini juga diapresiasi oleh Lurah Cempaka Putih Timur. “Saya merasa bangga dan bersyukur sekali karena di masa pandemic ini bukan menjadi kendala bagi beberapa warga untuk tetap produktif dan inovatif. Tentunya tetap mengedepankan protocol kesehatan. Kegiatan Poktan ini dapat membentuk ketahanan pangan mandiri, menata lingkungan, dan memberdayakan masyarakat,” kata Lurah Cempaka Putih Timur, Shinta Purnama Sari. 

Hemat Biaya Produksi

Biaya produksi system hidroponik meliputi rock wool, benih, air, listrik, dan nutrisi. Saat ini sedang diujicoba penggunaan tenaga surya untuk menghidupkan pompa air irigasi rak hidroponik demi menghemat listrik. Sistem tenaga surya berkapasitas 600 Watt (tanpa baterai) dapat menghidupkan pompa sebanyak 15 unit, dengan rata-rata 6 jam per hari, mulai jam 9 pagi hingga 3 sore.

Poktan ini menanam aneka sayuran kebutuhan masyarakat sehari-hari seperti sawi samhong, pakchoy, selada merah, selada hijau, caisim, sawi air dan kangkung.

Selain itu mereka juga mempunyai 8 rak hidroponik di sepanjang jalan luar kompleks perumahan yang diberi nama Kebun Hidroponik Taman Solo (KHITAS) yang juga ditanami berbagai jenis sayuran.

Berkat ketekunan dan kreatifitasnya, Poktan ini berhasil mendapatkan bantuan Corporate Sosial Responsibility (CSR) dari berbagai perusahaan swasta dan BUMN. 

Reporter : Indri
Sumber : Dinas KPKP DKI Jakarta
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018