Saturday, 19 September 2020


Tinggi Peminat, Balitbangtan Kembangkan Buchepalandra

29 Aug 2020, 14:30 WIBEditor : Gesha

Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufri ketika melihat perbanyakan benih Buchelapandra | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Salah satu tanaman aquascape, Buchepalandra memiliki peminat yang tinggi. Sayangnya, tanaman ini masih sulit dikembangkan langsung. Karena itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian berkolaborasi bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan memperbanyak benihnya secara kultur jaringan.

"Kita perbanyak secara invitro ini di Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen), Bogor," ungkap Kepala Balitbangtan, Dr Fadjry Djufry.

Fadjry menambahkan buchepalandra merupakan tanaman endemi Kalimantan yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Di luar negeri seperti Amerika, para aquascaper harus merogoh kocek sebesar USD 7 untuk satu rumpun kecil.  “Di Indonesia (pemanfaatan untuk akuaskap) masih banyak yang belum tahu, sementara di luar negeri sudah banyak yang memanfaatkannya,” ujar Fadjry saat mengunjungi Laboratorium Biologi, Sel dan Jaringan BB Biogen, Rabu (26/8). 

Melihat tingginya minat terhadap tanaman tersebut, Fadjry menilai perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan merupakan solusi yang tepat dalam memenuhi permintaan. Namun dirinya menegaskan bahwa pendistribusian buchepalandra harus dilakukan sesuai prosedur agar tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. “Buchepalandra harus kita lindungi karena ini merupakan kekayaan plasmanutfah Indonesia,” pungkasnya. 

Peneliti Balitbangtan, Dr Rossa Yunita menjelaskan, buchepalandra memiliki karakter pertumbuhan yang lambat sehingga sulit dibudidayakan oleh petani tanaman air. Untuk itu Balitbangtan bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2016-2018 lalu menerapkan teknologi kultur jaringan dalam perbanyakan komoditas ekspor tersebut.

“Kita sebagai lembaga penelitian memiliki kewajiban untuk menemukan dan mengaplikasikan teknologi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh petani, sehingga mereka tidak lagi mengeksploitasi alam yang dapat merusak keragaman genetik kita,” ungkap Rossa. 

Lebih lanjut Rossa menjelaskan, buchepalandra memiliki variasi yang sangat tinggi. Saat ini yang telah terdeteksi sebanyak 30 spesies yang tersebar di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Untuk itu, tanaman ini perlu segera dilepas sebagai varietas lokal.

“Jadi ke depan kita akan melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah terkait untuk melakukan pelepasan sehingga buchepalandra ini menjadi identitas daerah tersebut,” pungkasnya.

Reporter : Andika Bakti
Sumber : BALITBANGTAN
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018