Wednesday, 30 September 2020


Profesor Riset Bertambah, Alasan Pertanian Indonesia Modern dan Mandiri

02 Sep 2020, 10:04 WIBEditor : Gesha

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berbincang dengan Professor Riset | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI. COM, Bogor  - - - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian kembali melantik beberapa Profesor Riset. Kian bertambahnya profesor riset ini pun diharapkan bisa meningkatkan taraf pertanian Indonesia. 

"Professor riset sektor pertanian di Indonesia (dari lembaga penelitian maupun universitas), banyak dimiliki Indonesia, sehingga tidak ada alasan lagi untuk pertanian Indonesia untuk tidak meningkatkan teknologinya agar lebih maju, mandiri dan modern," harap Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo yang datang menghadiri Orasi Profesor Riset Kementerian Pertanian, di Auditorium Sadikin Sumintawikarta, Kampus Penelitian Cimanggu, Bogor, Selasa (1/9).

Untuk diketahui, Orasi Profesor Riset hari ini dilaksanakan oleh tiga orang Peneliti Ahli Utama Badan Litbang Pertanian yaitu Prof. (Riset). Dr. Ir. Saptana, MSi dalam bidang Sosial Ekonomi Pertanian,  Prof. (Riset) Dr. Ir. Amran Muis, MS dalam Bidang Hama dan Penyakit Tanaman dan Prof. (Riset).  Dr. Ir. Mat Syukur, MS dalam bidang Sosial Ekonomi Pertanian.  Orasi ini merupakan kristalisasi hasil pemikiran peneliti selama menjalankan kariernya selama ini.

Mentan SYL menilai jika konsep pemikiran yang dirumuskan oleh Professor riset ini sangat relevan untuk menghasilkan pertanian maju mandiri dan modern. Mentan SYL juga mengharapkan ketiga Profesor Riset yang baru dikukuhkan ini dapat lebih berperan aktif menjadi pembina dan motivator bagi para peneliti yang lebih muda, baik dalam bidang kepakaran, maupun dalam pengembangan jati-diri, integritas serta profesionalisme mereka. 

"Mulai dari rekomendasi penguatan lembaga agribisnis (Prof saptana) untuk mendorong agribisnis lebih komersial dan berdaya saing, pengendalian hama penyakit tanaman terpadu untuk komoditas jagung (Prof Amran Muis) diharapkan mampu memberikan peningkatan produksi jagung nasional). Inovasi keuangan mikro dari Prof Mat Syukur juga diharapkan dapat meningkatkan akses petani kecil terhadap permodalan sehingga usaha pertanian dapat terwujud dan terus dikembangkan, " bebernya. 

Prof. Saptana, Prof. Amran Muis dan Prof. Mat Syukur, masing-masing merupakan Profesor ke 144, 145 dan 146 di Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) dan merupakan Professor riset ke 560, 561 dan 562 secara nasional.  Saat ini Professor Riset Kemtan yang masih aktif sebagai PNS berjumlah 57 orang dari 1633 peneliti dan total 5698 PNS di Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.

Formulasi Kebijakan

Dalam pengukuhan Professor riset kali ini formulasi kebijakan yang disampaikan untuk pertanian terasa lebih menyeluruh dan konkrit. 

Prof.  Saptana, menyampaikan orasi "Reformulasi Kemitraan Usaha Agribisnis sebagai Strategi Peningkatan Nilai Tambah Dan Daya Saing Hortikultura dan Unggas".  Beliau telah berhasil mereformulasikan pola kemitraan yang ada dan mengembangkan inovasi model kemitraan usaha agribisnis terpadu (KUAT) pada komoditas hortikultura dan unggas.

Reformulasi ditujukan untuk melakukan transformasi ke arah kelembagaan kemitraan usaha yang lebih terpadu.  Reformulasi pada komoditas hortikultura dilakukan pada pola pertanian kontrak, pemasaran kontrak, dan pola sub terminal agribisnis (STA). 

Pada komoditas unggas dilakukan reformulasi pada pola kemitraan internal dan pola kemitraaan eksternal. Transformasi terutama dilakukan dari tipe bisnis transaksional ke arah tipe bisnis kemitraan. 

Filosofinya adalah bekerja bersama-sama lebih baik dibandingkan bekerja sendiri-sendiri.  Esensi kemitraan usaha adalah adanya saling berkontribusi baik dalam manfaat maupun risiko usaha. 

Pengembangan inovasi model kemitraan usaha terpadu (KUAT) pada kawasan hortikultura dan unggas dilakukan melalui: (i) Transformasi ke arah kelembagaan ekonomi petani atau peternak berbadan hukum; (ii) mengelola usaha korporasi komoditas hortikultura skala 50 sampai 100 ha, unggas lokal 25.000 ekor dan broiler 100.000 ekor; (iii) membangun divisi kemitraan, bisnis inti, dan penunjang; (iv) menerapkan manajemen rantai pasok secara terpadu; (v) membangun kontrak kerjasama secara berkeadilan; (vi) memiliki tujuan, segmen dan strategi pasar yang tepat; dan (vii) pentingnya membangun Pusat Pelayanan Agribisnis (PPA). 

Dengan memadukan inovasi teknologi baru dan inovasi model KUAT diyakini dapat meningkatkan produktivitas, kualitas, nilai tambah dan dayasaing produk secara berkelanjutan.  Inovasi model KUAT dapat meningkatkan nilai tambah petani hortikutura sebesar 34%, peternak broiler 8?n unggas lokal 23%. 

Inovasi Model KUAT mampu meningkatkan daya saing hortikultura sebesar 28?n unggas 14%.  Pengembangan diprioritaskan pada kawasan pertanian berbasis korporasi petani.  Pentingnya membangun kerja sama antara kelembagaan pemerintah, swasta dan kelembagaan petani serta harmonisasi regulasi kawasan pertanian, kemitraan usaha dan grand design korporasi Petani.

Sedangkan Prof. Amran Muis, menyampaikan orasi  "Teknologi Inovatif Pengendalian Penyakit Utama Tanaman Jagung yang Ramah Lingkungan untuk Meningkatkan Produksi Nasional".  Beliau telah berhasil mengembangkan inovasi teknologi pengendalian penyakit terpadu jagung ramah lingkungan dengan memanfaatkan biopestisida Bacillus subtilis yang diintegrasikan dengan varietas tahan rakitan Balitbangtan yang dapat memperpanjang durabilitas ketahanan varietas dan dapat menyelamatkan produktivitas 27,03%. 

Selain itu dapat menekan perkembangan penyakit bulai sebesar 10%-63.1%, hawar daun maydis sebesar 32,3%, hawar pelepah dan upih daun sebesar 18,5%-20,1?n busuk batang fusarium sebesar 46,3% di lapangan. 

Formulasi B. subtilis yang dihasilkan diberi nama TRIBAS yang merupakan konsorsium dari beberapa isolat B. subtilis yang telah menunjukkan kinerjanya terhadap pengendalian penyakit utama jagung.  Beliau berkontribusi dalam pelepasan sejumlah varietas unggul baru jagung hibrida melalui pengujian galur/calon varietas terhadap penyakit utama

Beliau juga berhasil memetakan spesies-spesies patogen penyebab penyakit bulai pada tanaman jagung di Indonesia. Dengan peta penyebaran spesies penyebab penyakit bulai tersebut memungkinkan bagi pemulia dan peneliti untuk merakit dan menguji ketahanan galur/calon varietas toleran bulai berdasarkan spesiesnya serta perakitan teknologi yang spesifik lokasi. Hasil penelitian beliau telah memberikan kontribusi secara nasional dan dapat diandalkan dalam upaya peningkatan produksi jagung nasional.

Kemudian, Prof. Mat Syukur menyampaikan orasi  “Inovasi Kelembagaan Keuangan Mikro untuk Meningkatkan Akses Petani Kecil pada Sumber Permodalan”.  Beliau berhasil merumuskan gagasan baru untuk meningkatkan akses petani kecil pada sumber permodalan melalui inovasi kelembagaan, berupa tata kelola identifikasi kelayakan petani calon penerima pinjaman, proses penyaluran dan pengembalian pinjaman, serta mitigasi risiko pinjaman pada Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA). 

Melalui serangkaian penelitian yang ditekuni selama ini dan pengalaman kaji tindak tindak yang beliau laksanakan di Kabupaten Bogor dan Tangerang, gagasan tersebut telah berhasil diimplementasikan dengan baik. 

Beliau berkeyakinan bahwa dengan dukungan fasilitasi dari pemerintah dan pemerintah daerah, gagasan inovasi kelembagaan LKMA dapat meningkatkan akses petani petani kecil pada sumber permodalan secara berkelanjutan, meningkatkan budaya menabung petani untuk pemupukan modal, memitigasi risiko gagal bayar pinjaman, dan dapat mempercepat terwujudnya program nasional keuangan inklusif serta penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). 

Dengan akses terhadap permodalan secara berkelanjutan, petani dapat mengadopsi teknologi secara maksimal untuk meningkatkan produksi usahataninya, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatannya.

Reporter : Nattasya
Sumber : Balitbangtan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018