Monday, 28 September 2020


Petani : Pakai Benih Stek Berakar, Kentang Produksi Maksimal

04 Sep 2020, 16:06 WIBEditor : Gesha

Stek berakar untuk perbanyakan benih kentang | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI. COM, Lembang - - Teknik perbanyakan benih kentang dengan Stek berakar ini sudah diadaptasi oleh petani binaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslitbang Hortikultura), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian. 

Penanaman benih stek berakar telah dipraktekkan oleh petani di beberapa sentra produksi, seperti di Garut dan Pengalengan di Jawa Barat, Purbalingga dan Banjarnegara di Jawa Tengah, Kerinci di Jambi, serta Simalungun dan Berastagi di Sumatera Utara.

Petani menanam benih berupa stek berakar dengan populasi bervariasi, antara 40 ribu dan 60 ribu tanaman per hektar, tergantung dari jarak tanam yang mereka gunakan. Demikian juga dengan produksinya, bervariasi dari 9 ton sampai 30 ton, tergantung dari populasi tanaman per hektar, musim dan teknik budidaya yang mereka gunakan.

"Saya gunakan benih Stek Berakar dari varietas Granola dengan jarak tanam 25 x 40 cm, dan populasi 60.000 stek per hektar, memperoleh hasil umbi 12 ton. Kemudian tahun 2020 menanam varietas Medians dengan populasi yang sama menghasilkan 9 ton per hektar," ungkap petani dari Sahara Agri di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Asep Chandra.

Kondisi serupa juga dialami oleh pemilik Hikmah Farm dari Pangalengan, Kab. Bandung, Bunyan Ismail. "Dengan populasi 40.000 stek tanaman per hektar, diperoleh hasil umbi 20 ton sampai 30 ton pada musim hujan. Adapun varietas yang digunakan adalah Medians dan Nadia. Selain untuk umbi konsumsi, penggunaan bibit stek berakar ini juga digunakan untuk memproduksi benih sebar (G2)," ungkapnya.

Di Jawa Tengah, stek berakar ini juga digunakan oleh petani di Purbalingga dan Banjarnegara. "Pada tahun 2018 menggunakan stek sebagai benih dengan populasi 40.000 tanaman per hektar, dan memperoleh hasil sebanyak 12 ton per hektar. Penanaman tersebut dilakukan saat musim kemarau," ungkap salah satu petani dari Purbalingga, Slamet Rahman.

Tak hanya di pulau Jawa, petani kentang juga menggunakan stek berakar ini sebagai benih. Salah satunya di Kayu Aro, Kerinci, Jambi yang berhasil menanam menanam stek varietas Granola di lapangan dengan populasi 40.000 tanaman per hektar dan produksi umbi yang diperoleh 20 ton per hektar. 

Sedangkan Fransking Lingga menggunakan stek berakar ini untuk pertanaman di Simalungun, Sumatera Utara dengan menanam 7.000 stek tanaman dan memperoleh hasil umbi sebanyak 4 ton (50.000 knol). Untuk di Berastagi, Sumatera Utara, Yunus Sembiring menanam 1.200 stek tanaman dan menghasilkan produksi umbi sebanyak 2.568 kg.

Melihat banyaknya petani binaan Balitsa yang telah sukses menghasilkan kentang dari Stek Berakar ini, teknologi perbanyakan benih ini sudah saatnya bisa diperbanyak untuk petani seluruh Indonesia. 

Reporter : Juniarti P Sahat, Tri Handayani, Kusmana
Sumber : Balitsa-Puslitbang Hortikultura
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018