Saturday, 24 October 2020


Gula Tebu Makin Sulit, Gula Cair dari Singkong Bisa Jadi Pilihan

23 Sep 2020, 10:23 WIBEditor : Gesha

Gula cair dari singkong bisa menjadi alternatif | Sumber Foto:istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Ironis memang kondisi gula tebu semakin sulit berkembang dengan adanya kebijakan importasi raw sugar yang kian merajalela di tengah kebutuhan gula yang justru semakin banyak.  Alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan memanfaatkan secara maksimal sumber gula dari bahan non tebu.

“Untuk memproduksi gula, bahan yang bisa dimanfaatkan antara lain tebu, sorgum manis, kelapa, aren dan nipah yang diambil dari niranya. Sumber gula lain adalah bahan berpati seperti sagu, ubi jalar, jagung, kentang,sorgum dan ubi kayu/singkong,” terang peneliti dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen), Agus Budiyanto dalam Bincang Teknologi Produksi Gula Cair Singkong yang digelar secara online pada Selasa (22/9).

Saat ini BB Pascapanen telah mengembangkan teknologi sederhana untuk menghasilkan gula cair dari pati singkong. Untuk menghasilkan gula cair, pati singkong harus mengalami proses likuifikasi, sakarifikasi dan evaporasi.

Lebih lanjut Agus menerangkan, langkah pertama untuk pembuatan gula cair adalah dengan mencampurkan pati singkong dan air dengan perbandingan 1:3 , dengan kata lain 1 kg pati singkong dicampur 3 liter air. Aduk cairan tersebut sampai tidak ada gumpalan. Selanjutnya adalah proses likuifikasi dengan cara memanaskan cairan dan memasukkan enzim alfa amilase. Perbandingannya 1 ml enzim alfa amilase untuk 1 kg pati singkong.

Agus memberi catatan agar pati tidak menggumpal menjadi semacam lem, maka disarankan agar mencampurkan enzim alfa amilase sebelum dipanaskan selanjutnya diaduk hingga merata. Saat proses pemanasan, campuran pati akan terjadi perubahan warna secara bertahap dari putih hingga warna kecoklatan. Apabila  saat mendidih masih terdapat bintik-bintik berwarna putih, pemanasan tetap dilakukan sampai bintik-bintik putih menghilang, hentikan pemanasan saat warnanya coklat jernih.

Cairan didinginkan sampai suhu sekitar 60 derajat Celcius, kemudian dimasukkan enzim amiloglukosidase (perbandingan 1 ml enzim amiloglukosidase untuk 1 kg pati ubikayu) dan diaduk selama 5-10 menit. Selanjutnya didiamkan minimal selama 24 jam. Proses pada tahap ini disebut sakarifikasi.

Setelah proses sakarifikasi, cairan ditambah dengan arang aktif sebanyak 0,5?n dipanaskan pada suhu 100 derajat Celcius selama 5 menit. Cairan selanjutnya disaring dengan kain yang rapat dan tebal seperti kain berbahan jins. Proses penyaringan ini akan menghasilkan gula cair dengan dengan total padatan terlarut sekitar 20-25 derajat Brix. “Karena masih rendah kadar Brix-nya, kita lakukan evaporasi. Dengan proses ini kita akan mendapatkan gula cair singkong dengan kadar 65-70 derajat Brix,” terang Agus.

Diseminasi Teknologi

 

Saat ini, pengembangan ubi kayu di Indonesia cukup tinggi, sehingga teknologi pengolahan gula cair dari ubi kayu ini bisa menjadi alternatif untuk pemenuhan kebutuhan gula di Indonesia. Karenanya, Kepala BB Pascapanen, Prayudi Syamsudi meminta agar  hasil inovasi para peneliti BB Pascapanen ini harus didiseminasikan atau disebarluaskan kepada masyarakat. 

Prayudi mengatakan, dalam mengembangkan suatu inovasi teknologi, BB Pascapanen selalu melihat pohon industri dari komoditas pertanian. Jika kita hanya fokus mengolah singkongnya, maka hanya 20?ri tanaman singkong yang dimanfaatkan. “Dengan pohon industri kita coba sama-sama kembangkan sehingga kita bisa memberi nilai tambah dari suatu komoditas,” terangnya.

Sebelumnya, Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry menyebut bahwa singkong atau ubi kayu merupakan komoditas pangan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, terutama disebabkan karena tingginya permintaan akan tapioka. “Oleh karenanya selain padi, jagung, dan kedelai, ke depan ubi kayu bisa menjadi komoditas strategis nasional,” ujarnya.

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018