Sunday, 24 January 2021


Yuk Petani Bawang Merah Mulai Gunakan Benih TSS !

22 Oct 2020, 12:01 WIBEditor : Gesha

Penanaman benih TSS bawang merah | Sumber Foto:istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pada umumnya budidaya bawang merah menggunakan umbi sebagai benihnya. Penggunaan benih umbi membutuhkan jumlah umbi yang banyak, biaya distribusi yang tinggi, dan masa simpan terbatas. Untuk itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengembangkan teknologi perbanyakan bawang merah menggunakan biji atau true shallot seeds (TSS) yang lebih efektif dan efisien.

Ketersediaan umbi bermutu sepanjang tahun masih merupakan kendala. Umbi sebagai benih tidak bisa disimpan terlalu lama, hanya sekitar 2,5-3 bulan. Dari nisbah perbanyakannya, 1 umbi yang ditanam paling banyak hanya menghasilkan 10 umbi untuk generasi berikutnya.

“Belum lagi pengangkutan karena untuk menanam bawang merah 1 hektare membutuhkan umbi benih sebanyak 1,2 ton – 2 ton. Bisa kita bayangkan kalau umbi ini harus diangkut dari satu provinsi ke provinsi lain, tentunya memerlukan biaya pengangkutan yang mahal,” kata Peneliti BPTP Jawa Timur (Jatim) Paulina Evy.

Saat ini Balitbangtan melalui Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) telah memiliki komponen teknologi produksi TSS atau biji botani sebagai alternatif yang potensial untuk memecahkan masalah perbenihan bawang. Penggunaan TSS, terang Evy, lebih efisien karena ukurannya hanya sekitar 0,05 gram sehingga kebutuhan benih untuk 1 hektare sekitar 3-7 kg. Hal ini akan memudahkan pengangkutan dari satu kota ke kota lain.

Penyediaan benihnya juga bisa dilakukan secara massal karena nisbah perbanyakan benih tinggi, dari 1 umbi menghasilkan 200-300 biji. Selain itu, masa simpan TSS terbilang lama, lebih dari 1 tahun.

Pada penggunaan benih umbi bisa terjadi akumulasi patogen yang semakin lama semakin banyak. Sedangkan dengan biji, siklus patogen ini bisa diputus. “Memang ada kemungkinan off type dari biji yang dihasilkan, tapi bisa kita atasi dengan pemasangan barrier atau mengatur jarak tanam dari satu lokasi ke lokasi lain,” terang Evy.

Sementara itu, Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry mengakui tantangan saat ini adalah bagaimana mendorong petani untuk menggunakan benih TSS. “Masih banyak petani yang lebih senang menggunakan umbi sebagai bahan tanam atau sumber benih karena dianggap lebih mudah dan cepat. Padahal dengan metode TSS walaupun waktunya lebih lama (kurang lebih 3 pekan dari metode umbi) namun produksinya cukup tinggi sehingga pasti lebih efisien dan menguntungkan”, ujarnya.

“Balitbangtan melalui Unit kerja terkait dibawahnya, seperti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) akan terus mendampingi dan mendorong petani bawang merah untuk beralih menggunakan biji TSS, salah satunya dengan melakukan demplot-demplot percontohan, sehingga petani bisa mengambil pelajaran dari situ”, terangnya lebih lanjut.

Reporter : Nattasya
Sumber : BALITBANGTAN
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018