Sunday, 29 November 2020


Petani Kaltim dan Kaltara, Waspadai dan Antisipasi Dampak La Nina !

20 Nov 2020, 11:01 WIBEditor : Gesha

Antisipasi dampak La Nina | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Samarinda --- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan terdampak La Nina pada akhir 2020 hingga awal 2021. Pada sektor pertanian, La Nina bisa menyebabkan kerusakan tanaman akibat banjir/terendam dan ledakan organisme pengganggu tanaman (OPT). 

Semua daerah sentra pertanian mulai November ini memang harus mulai mewaspadai dampak dari La Nina ini. La Nina merupakan anomali iklim global yang cukup sering terjadi dengan periode ulang 2-7 tahun. Musim hujan tahun 2020/2021 diwarnai dengan fenomena iklim global La Nina yang terjadi sejak awal Oktober 2020. Berdasarkan update data Dasarian I November diprediksi akan berlangsung hingga Mei 2021 dengan intensitas La Nina moderat.

Salah satu daerah yang perlu diwaspadai adalah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltim dan Kaltara). Kepala Stasiun Meteorologi Samarinda, Riza Arian Noor mengatakan secara umum hampir 80?ri zona musim wilayah Kaltim sudah memasuki musim hujan, dengan puncak musim hujan diprediksi terjadi pada bulan Desember 2020 dan Januari 2021.

"Berdasarkan catatan historis data hujan Indonesia, pengaruh La Nina tidak seragam tergantung pada musim/bulan, daerah dan intensitas La Nina. “Untuk wilayah Kalimantan Timur penambahan jumlah curah hujan bulanan dapat mencapai 20?ri kondisi curah hujan normalnya,” terang Riza.

Untuk itu, perlu langkah antisipasi dampak La Nina berupa bencana hidrometeorologi yang berpotensi mengancam sektor pertanian, perhubungan, kesehatan, dan lain-lain. Menurut Riza, Langkah mitigasi yang perlu dilakukan antara lain optimalisasi tata kelola air secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, pembuatan danau embung sungai dan kanal untuk antisipasi debit air berlebih.

Pendapat serupa juga diungkapkan peneliti Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat) Yayan Apriyana mengatakan fenomena cuaca yang tidak menentu bisa menyebabkan banjir, kekeringan, dan serangan OPT yang mengakibatkan kerusakan tanaman. Selain itu, perubahan iklim  berdampak pada penurunan produktivitas lahan dan dalam jangka pendek mengakibatkan kegagalan produksi pertanian.

Karena itu, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Kalimantan Timur (Kaltim) bekerjasama dengan Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (Perhimpi) menggelar Webinar bertema Atisipasi La Nina Menghadapi Musim Tanam Oktober – Maret (Okt-Mar) pada Rabu (18/11).

Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Haris Syahbuddin mengatakan bahwa Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo sering menyampaikan bahwa dalam perencanaan pembangunan pertanian, kita perlu melihat secara lebih detail karakter-karakter sumber daya pertanian yang ada di sekitar. Misalnya sumber daya yang berkaitan dengan iklim, ketersediaan lahan, karakteristik lahan, ketersediaan SDM, maupun komoditi yang akan dikembangkan di areal pertanian tersebut.

“Karena itu apabila kita mampu mendorong perencanaan pembangunan pertanian dengan memperhatikan karakter-karakter sumber daya pertanian itu sendiri apapun kejadian yang luar biasa seperti perubahan iklim dan lain sebagainya bisa kita antisipasi,” ujar Haris yang juga menjabat sebagai Sekjen Perhimpi. Dengan perencanaan yang detail, bisa mengindentifikasi langkah-langkah apa saja dan teknologi apa saja yang sudah dan perlu kita butuhkan. Misalnya pengelolaan air, pemilihan varietas, dan sebagainya. 

Strategi Taktis

Strategi Kementan untuk mengantisipasi dampak La Nina antara lain dengan melakukan indentifikasi dan pemetaan di seluruh wilayah lahan pertanian serta berkoordinasi dengan BMKG dalam menyiapkan sistem peringatan dini dan memantau semua informasi berupa perkembangan prediksi hujan yang ada di BMKG. Kementan juga membentuk brigade yang terdiri dari brigade La Nina (Satgas OPT-DPI), brigade alsin dan tanam, serta brigade panen dan serap gabah kostraling. 

Strategi lainnya yaitu penggunaan varietas tahan genangan seperti Inpara 1 sampai 10, Inpari 29, Inpari 30, Ciherang sub 1, Inpari 42 Agritan. Serta varietas toleran OPT pada daerah endemik seperti varietas tahan wereng batang coklat, blast, maupun hawar daun bakteri. Strategi lainnya dengan memperbaiki cara pascapanen dan menyiapkan bantuan untuk kegiatan panen dan pascapanen menggunakan pengering (dryer) dan RMU (rice miling unit).

Bupati Bulungan, Kalimantan Utara, Sudjati mengatakan, dalam mengantisipasi dampak La Nina, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan melakukan optimasi manajemen air pada lahan seluas 1.200 hektare (ha). Berkat optimalisasi manajemen air, lahan yang sebelumnya tergenang air sudah bisa ditanami tanaman hortikultura maupun tanaman lain.

“Untuk persiapan La Nina, kita memang sudah mempersiapkan terlebih dahulu. Sehingga, pada waktu La Nina melanda Kabupaten Bulungan dengan curah hujan yang sangat tinggi, kita sudah dapat mengantisipasi dengan manajemen air,” tuturnya.

 

Pada musim tanam kali ini, Pemkab Bulungan mendapat bantuan bibit padi 124 ton dari Kementerian Pertanian. Bibit ditargetkan akan ditanam pada area sawah seluas 3.100 ha. Pemkab Bulungan juga menargetkan 900 ha lahan untuk padi ladang yang biasanya ditanam masyarakat pedalaman. “Jadi kurang lebih ada 4 ribu hektare untuk masa tanam Okt-Mar ini,” terangnya. 

Reporter : NATTASYA
Sumber : Balitbangtan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018