Sunday, 17 January 2021


Teknologi Pascapanen Tepat, Salak Renyah untuk Pasar Ekspor

10 Dec 2020, 14:47 WIBEditor : Gesha

Sortasi salak oleh petani | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Pasar Internasional untuk salak memang masih terbuka lebar dan menjadi peluang yang menggiurkan bagi eksportir dan petani mitra. Karena itu, penanganan (Handling) pascapanen sejak panen wajib diperhatikan.

Salah satu eksportir salak dari Indonesia, PT Agri Bumindo Cakrawala, Edmond mengakui pasar ekspor salak sangat menggiurkan karena salak menjadi buah asli Indonesia dan negara lain di daerah tropis tidak memilikinya. 

"Kami dengan pendampingan teknologi penanganan pascapanen dari BBPascapanen sudah ekspor salak menggunakan Kapal laut ke Thailand sebanyak 6-7 ton sekali kirim," bebernya saat saat Focus Group Discussion (FGD) "Penanganan Segar Buah Salak Tujuan Ekspor", Kamis (10/12) yang diikuti tabloidsinartani.com.

Diakui Edmond, hambatan dalam ekspor dimulai dari kebun yaitu keberadaan lalat buah dan salak menjadi salah satu inangnya. "Awal mulanya berasal dari kebun dan mikroba tanah, sehingga dibutuhkan kebun yang bersih. Dan pengendalian yang ramah lingkungan," tambahnya.

Hambatan kedua adalah masa simpan dari produk buah buahan yang singkat karena petani terbiasa memanen matang dan akhirnya mempercepat pembusukan saat perjalanan.

Peneliti dari BB Pascapanen, Ira Mulyawanti mengatakan ada teknologi transportasi dingin, iradiasi, perlakuan uap panas (VHT), perlakuan air panas (HWT) hingga controlled Atmosphere Storage (CAS) untuk memperpanjang masa simpan buah.

"Namun untuk salak, dengan kadar air yang cukup tinggi penggunaan beberapa teknologi seperti uap panas dan air panas justru menjadi media perkembangbiakan lalat buah dan mikroba lainnya yang akhirnya mempendek masa simpan," jelasnya.

Ira mengatakan dengan perlakuan suhu dingin (10 derajat Celcius), salak bisa disimpan lebih lama yaitu 27 hari. Secara visual, tidak nampak kerusakan dari kulit salak. Namun saat dikupas, daging salak mengalami spot cokelat akibat chilling injury dan kulit buah kusam dan kering.

Sedangkan untuk teknologi CAS, BB Pascapanen pernah mencoba ekspor dengan PT Tulip Bersama untuk pasar Malaysia dengan total 9 ton. Tingkat kerusakannya hanya 1-2 persen dan masa simpan menjadi 26 hari. 

Rekomendasi Teknologi

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) merekomendasikan aneka teknologi yang bisa diadaptasi oleh petani hingga packing house eksportir.

Ira mengatakan petani perlu memahami untuk memanen salak pada tingkat ketuaan 60-70 persen. "Tingkat ketuaan 60-70  persen bisa memperpanjang masa simpan. Jika dipanen diatas 60-70 persen daging buah sudah pecah dan Masir," tambahnya.

Kemudian melakukan sortasi buah yang busuk, berjamur, lecet dan kotor. Petani kemudian bisa mengemasnya menggunakan krat plastik dan pengiriman dengan truk berpendingin (suhu 12 derajat) atau dilakukan pada sore/malam hari.

Sedangkan di packing house, eksportir melakukan penimbangan dan sortasi untuk memisahkan buah yang rusak dan busuk jamur karena perjalanan. Termasuk melakukan penggunaan antimikroba alami (lengkuas) untuk menanggulangi pembusukan buah yang terjadi selama transportasi dan penyimpanan.

"Dikeringkan dengan kipas setelah dicelup 30 detik. Kemudian dikemas dengan plastik MAP 32 lubang dan dikemas lagi dalam krat plastik yang disusun setangkup untuk masuk dalam kontainer berpendingin suhu 12 derajat Celcius," bebernya.

Reporter : Nattasya
Sumber : BB Pascapanen
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018