Sunday, 24 January 2021


Teknologi Ramah Lingkungan Dukung Pembangunan Rendah Karbon

17 Dec 2020, 11:47 WIBEditor : GESHA

Teknologi ramah lingkungan untuk adaptasi iklim dan pengurangan karbon | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor ---  Perubahan iklim dan emisi karbon merupakan salah satu isu yang cukup ramai dibicarakan belakangan ini. Dampak perubahan iklim sudah sangat dirasakan pada setiap aspek kehidupan manusia, salah satunya sektor pertanian. Untuk mengatasi perubahan iklim, inovasi teknologi di bidang pertanian sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan rendah karbon.

Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Haris Syahbudin mengatakan sektor pertanian mempunyai tiga posisi dalam perubahan iklim. Pertama sektor pertanian sebagai korban perubahan iklim. Kedua, sektor pertanian memiliki peluang dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Ketiga, sektor pertanian sebagai salah satu sumber emisi GRK seperti pemanfaatan pupuk, pengelolaan air, aktivitas peternakan, dan lain-lain.

“Peluang pertanian dalam penurunan emisi gas rumah kaca masih tidak terlalu besar dilihat oleh orang. Kita lebih fokus bagaimana menghindari pertanian dari korban perubahan iklim itu sendiri,” tutur Haris saat menjadi pembicara dalam Ngobrol Asyik Via Online (Brokoli) yang mengangkat tema Kementerian Pertanian Mendukung Pembangunan Rendah Karbon pada Rabu (16/12).

Dampak perubahan iklim bersifat kontinu, diskontinu, dan permanen. Dampak kontinu antara lain kenaikan suhu udara, perubahan hujan, kenaikan salinitas air tanah, menurunkan produktivitas, mengubah pola tanam, dan indeks pertanaman. Dampak diskontinu antara lain meningkatnya gagal panen karena meningkatnya frekuensi dan intensitas iklim ekstrem, serta ledakan hama/penyakit. Dampak permanen diantaranya berkurangnya luas lahan pertanian di pesisir pantai akibat meningkatnya muka air laut.

“Dampak perubahan iklim terhadap tanaman sangat multiplier effect. Peningkatan suhu bisa mengakibatkan penurunan produktivitas, peningkatan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan sebagainya. Ini berdampak pada seluruh tanaman pangan, sayuran dan hortikultura, serta peternakan,” terangnya.

Menurut Haris, strategi antisipasi dan teknologi adaptasi serta penyebarluasan informasi dan implementasi merupakan aspek kunci untuk meningkatkan produktivitas ramah lingkungan dalam menghadapi perubahan iklim. Teknologi tersebut misalnya pemetaan wilayah rawan, penggunaan varietas unggul tanah kekeringan, rendaman, dan salinitas, penyesuaian waktu dan pola tanam, teknologi panen hujan, teknologi irigasi, pengembangan sistem informasi dan smart farming, dan lain-lain.

Beberapa varietas padi adaptif perubahan iklim telah dihasilkan oleh Balitbangtan diantaranya padi toleran rendaman (Inpara 3, Inpara 4, Inpara 29 Rendaman, dan Inpara 30-Ciherang Sub1), padi toleran kekeringan (Inpago 8, Inpago 9, Inpago 10, Inpago 38 Agritan, dan Inpago 39 Agritan), serta padi sawah umur genjah tanah OPT (Inpari 12, Inpari 13, Inpari 18, Inpari 19, dan Inpari 20).

Selain padi, Balitbangtan menghasilkan varietas jagung, kedelai, kentang, sayuran dan buah adaptif perubahan iklim. Balitbangtan juga mengembangkan sistem integrasi ternak tanaman pangan yang ramah lingkungan, teknologi smart farming 4.0, teknologi panen air, teknologi irigasi, pompa radiasi surya, dan lain-lain.

Peran Penyuluh

Haris menekankan pentingnya peran penyuluh dalam mendiseminasikan dan meningkatkan adopsi dari teknologi-teknologi ramah lingkungan tersebut. Sementara, para peneliti berperan mengawal diseminasi tersebut untuk mengenalkan teknologi terbaru yang dimiliki oleh Kementerian Pertanian.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan strategi sektor pertanian dalam menjaga isu lingkungan melalui pendekatan rendah emisi karbon adalah bagaimana cara meningkatkan sekuestrasi (penangkapan dan penyimpanan) karbon sebesar-sebesarnya. "Di saat yang sama kita harus meminimalisir atau menekan serendah-rendahnya emisi karbon. Untuk itu diperlukan implementasi inovasi teknologi dalam pembangunan pertanian yang rendah emisi karbon," tambahnya.

Menurut Dedi, kata kunci untuk mengurangi emisi gas rumah kaca di sektor pertanian adalah peningkatan efisiensi sarana input seperti pupuk, irigasi, dan lain-lain. Pemupukan misalnya, ada kalanya menghasilkan emisi nitrous oxide. “Penggunaan pupuk harus ditingkatkan efisiensinya. Pemanfaat mikroorganisme lokal dan bio fertilizer bisa meningkatkan efisiensi pemupukan baik pupuk organik maupun pupuk kompos. Strategi peningkatan efisiensi ini harus menjadi perhatian kita,” tuturnya.

Sementara itu, Irfan Darliazi Yananto dari Direktorat Lingkungan Hidup, Kementerian PPN/Bapennas mengatakan Indonesia telah mengintegrasikan pembangunan rendah karbon dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Pembangunan Rendah Karbon merupakan kebijakan, rencana, program dan pelaksanaan pembangunan yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi rendah emisi gas rumah kaca sebagai bentuk upaya penanggulangan dampak perubahan iklim, perbaikan kualitas lingkungan dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Irfan menerangkan bahwa isu perubahan iklim merupakan bagian dari isu pembangunan karena tidak hanya berdampak ke lingkungan tetapi juga sosial dan ekonomi. “Karena itu, kebijakan dan upaya untuk melindungi terkait dampak perubahan iklim terhadap manusia dan ekosistem perlu diintegrasikan di dalam perencanaan pembangunan nasional,” kata Irfan.

 

Pembangunan rendah karbon, lanjutnya, dapat meminimalisir trade-off antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Melalui pembangunan rendah karbon, Indonesia harus membangun lebih baik ke arah masa depan yang berketahanan iklim dan berkelanjutan.

Reporter : NATTASYA
Sumber : BALITBANGTAN
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018