Sunday, 17 January 2021


Sinkronisasi Penelitian dan Bisnis, Tantangan Dunia Penelitian Indonesia

24 Dec 2020, 21:37 WIBEditor : Yulianto

Gedung Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi), Sukamandi | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dalam kunjungan ke Palmerston North, New Zealand tahun 1997, seorang peneliti di satu lembaga penelitian pertanian mengatakan bahwa dana penelitian yang berasal dari perusahan di bidang pertanian sangat besar.

           

Topik penelitian juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan dunia bisnis, walaupun dana penelitian disediakan pemerintah. Misalnya, bagaimana caranya agar menghasilkan buah kiwi yang berwarna kuning, karena yang berwarna hijau kurang diminati di dataran Eropa. Sekarang, mungkin mengubah sifat fisik seperti itu tidak terlalu memerlukan waktu panjang mengingat ilmu di bidang bioteknologi sudah maju pesat.

Di Perguruan Tinggi di Amerika, penelitian yang dilakukan mahasiswa dalam rangka penyusunan tesisnya, biasanya terkait dengan pemecahan masalah tertentu. Seperti, pemberantasan penyakit yang sedang marak, meningkatkan produksi wild rice yang permintaannya sedang tinggi, atau bahkan penelitian tentang tempe yang saat itu mulai dikenal sebagai makanan sehat baru.

Yang terakhir ini yang melakukannya adalah mahasiswa asal Indonesia, tapi yang muncul di TV adalah profesornya. Pernah diberitakan sebuah universitas di Amerika Serikat dipermalukan, karena tamunya yang akan memberikan dana untuk penelitian susu dan sapi perah pulang begitu saja dan membatalkan rencana bantuan dana penelitiannya, gara-gara mereka disuguhi kopi dan non-dairy creamer. Nah!

Yang ekstrim, tentu saja bagi perusahaan yang sudah maju, penelitian menjadi bagian terpenting untuk memperoleh temuan baru agar bisa bersaing. Perusahaan penghasil benih skala multi nasional menggaji sejumlah besar ilmuwan terbaik. Bahkan menyediakan dana dalam jumlah besar untuk penelitian agar tetap di depan dalam persaingan menghasilkan benih terbaik. Kegiatannya ditunjang laboratorium moderen dan didukung penuh oleh kebijakan pemerintahnya.

Tak mengherankan jika negara di daratan Eropa banyak yang menjadi penghasil bibit kurma, kelapa sawit atau kopi walaupun kondisi tanahnya jauh dari cocok untuk menanam komoditas tersebut. Mereka juga tidak mempunyai sebatang pohon pun tanaman tersebut kecuali untuk penelitian.

Sebenarnya, Lembaga Penelitian di Indonesia, khususnya untuk tanaman perkebunan, sudah maju jauh lebih awal. Pada saat itu produksi tanaman perkebunan seperti karet, rempah, kina, teh, tembakau dan gula merajai dunia. Gedung Penelitian berarsitektur Eropa buatan Abad 18 masih tersebar di berbagai kota.

Didukung dengan sumberdaya manusia peneliti yang cukup besar dan mumpuni, hanya masalah arah dan kebijakan yang diperlukan untuk membuat penelitian, yang merupakan tulang punggung pengembangan pertanian Indonesia itu, bergerak cepat mendayagunakan sumberdaya alam yang besar. Kuncinya adalah adanya cetak biru yang jelas, sinkron dan dilaksanakan secara konsisten dan fokus.

Reporter : Memed Gunawan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018