Saturday, 06 March 2021


Gencarkan Pertanian Organik, Bupati Aceh Tamiang Ajak Maporina dan BPTP

09 Feb 2021, 11:40 WIBEditor : Gesha

Bupati Aceh Tamiang menjalin kerjasama dengan Maporina dan BPTP Aceh | Sumber Foto:Abda

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Tamiang -- Bupati Aceh Tamiang H. Mursil SH, M.Kn mengajak Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) Aceh dan BPTP Aceh untuk mendukung dan terlibat langsung dalam pengembangan pertanian organik di daerahnya. 

Di hari liburnya, Bupati Aceh Tamiang H. Mursil SH, M.Kn berkesempatan berkunjung dan silaturahmi ke Posko Maporina di aula BPTP Aceh, Minggu (7/2). Kedatangan Bupati tersebut didampingi Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Penyuluhan Aceh Tamiang yang disambut oleh jajaran pengurus Maporina  dan Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh Ir. M. Ferizal MSc, selaku pembina.

Saat kunjungan, Bupati Mursil mengharapkan adanya kemajuan di bidang teknologi pertanian. Menurutnya sektor pertanian sangat potensial dan tidak pernah berhenti. Apalagi dalam mendukung pertanian  yang berwawasan ramah lingkungan serta berkelanjutan. "Seperti halnya pertanian organik, ini merupakan program strategis yang perlu kita sukseskan bersama dibanding sektor industri," ujarnya. 

Dirinya menambahkan, dalam menyelesaikan persoalan Aceh, tidak ada jalan lain, kecuali membangun ekonomi kerakyatan melalui pertanian dan perkebunan baik tanaman muda maupun tanaman keras. Namun, kenyataan di lapangan terkait komoditi padi, begitu panen langsung diangkut ke Medan. "Untuk mengantisipasi hal ini perlu ada pabrik padi besar di perbatasan Aceh. Jika ini kita olah secara organik, maka beras yang kita hasilkan dikemas dalam bentuk yang menarik dan pasti masyarakat akan membeli," paparnya.

Diakuinya, hingga sekarang program pemanfaatan lahan pekarangan, kebun dan lahan marginal selama ini belum digarap secara maksimal. Padahal kalau lahan-lahan tersebut dikelola secara baik, akan memberikan manfaat dan dampak bagi masyarakat dalam meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani.

Selama ini pihaknya melalui Dinas Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Penyuluhan Aceh Tamiang di beberapa kecamatan dengan dibagikan bibit rambutan, belum dua tahun rambutan tersebut sudah berbuah. "Apalagi kalau hal tersebut dikelola dengan baik melalui pendampingan yang mantap tentu hasilnya akan jauh lebih dahsyat lagi", ungkapnya.

Dirinya meyakini petani di Aceh Tamiang tidak lagi memiliki sifat manja, artinya dengan diberikan bibit dan pemberian pupuk organik serta didampingi penyuluh saja, langsung mereka kerjakan. Namun di sisi lain petani membutuhkan alat mesin pertanian sebagai sarana dalam berusahatani seperti traktor dan berbagai alat alat bidang pertanian lainnya.

Terkait pertanian organik di daerahnya, sudah mulai dilakukan dengan berbagai percobaan demplot skala kecil namun hasilnya luar biasa. Selain memberikan dampak bagi kesehatan tanah juga memberikan keuntungan bagi petani karena biaya input yang dikeluarkan relatif lebih murah dan hemat.

Dia mencontohkan pemberian bioaktivator oleh praktisi organik Admansyah Lubis dapat menghasilkan padi skala demplot dengan hasil yang menakjubkan mencapai 10 ton per hektar. Untuk itu ia berharap kepada jajaran Maporina Aceh untuk bersama sama melakukan gerakan masif sehingga hasilnya nanti bisa dinikmati dan dikonsumsi secara sehat dan aman oleh masyarakat. "Jika Maporina serius untuk berkolaborasi, kami akan menyiapkan anggaran dan mengalokasikan secara khusus untuk pengembangan kawasan pertanian yang berkelanjutan", ucap Bupati. 

Di bidang hortikultura, dinasnya juga telah melakukan demplot bawang merah dan petani sangat antusias dalam membudidayakan ternyata berhasil, apalagi dengan memberikan bantuan dan sentuhan teknologi bidang organik.

Melihat banyak kesuksesan pertanian organik yang sudah dilakukan mandiri maupun dengan bantuan dari Dinas, Bupati menyambut positif dan menginginkan Maporina eksis dan melakukan aksi nyatanya dimulai dari Aceh Tamiang. "Tunjukkan Maporina dan eksistensinya di Aceh Tamiang, saya akan dukung sepenuhnya", ujar Bupati Mursil. 

Kerjasama ini pun disambut baik oleh Kepala BPTP Aceh Ferizal yang menjelaskan pihaknya sebagai perpanjangan tangan Badan Penelitian Pertanian di daerah pihaknya memiliki tugas melaksanakan pengkajian teknologi spesifik lokasi. Selama ini untuk mendukung eksistensi pertanian di Aceh Tamiang pihaknya juga telah menetapkan peneliti BPTP Aceh Abdul Azis sebagai Liaison Officer (LO) untuk Kabupaten Aceh Tamiang.

Sementara itu, Ketua Maporina Aceh A. Rakhman memperkenalkan sejarah profil dan visi misi Maporina dalam menjalankan aksinya. "Kami sebagai lembaga profesi non profit pihaknya dalam menjalankan misinya bersinergi dan berkolaborasi dengan dinas/instansi terkait juga pemerintah daerah yang membutuhkan," tuturnya.

 

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018