Saturday, 06 March 2021


Sentuhan Teknologi Food Estate Berdampak Signifikan dalam Produksi Padi

09 Feb 2021, 13:10 WIBEditor : Gesha

Food estate di Kalteng | Sumber Foto:Dok Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Pulang Pisau --- Perkembangan positif yang terjadi di lahan  Food Estate Kalimantan Tengah, memberikan dampak signifikan bagi daerah. Bahkan dengan sentuhan teknologi yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang Pertanian), berdampak signifikan dalam produksi padi petani rawa. 

“Fakta di lapangan adanya food estate, infrastuktur yang menunjang ekonomi terbangun. Progresnya dapat dilihat, jalan desa diperbaiki, irigasi, dan aktifitas produksi didukung dengan optimal,” kata Kepala Dinas Hortikultura dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah, Sunarti.

Khusus di lahan sawah, Sunarti mengatakan telah terjadi kenaikan provitas lahan milik petani. Setidaknya terjadi pertambahan hasil panen 1-2 ton per hektar, akibat sentuhan teknologi benih dan mekanisasi.“Petani kami kini merasakan dampak yang positif. Bila ada kekurangan di satu dua titik adalah hal yang wajar. Food estate masih terus berkembang,” tegasnya.

Baca Juga :

Petani Food Estate : Kami Butuh Pengering !

Petani: Program Food Estate Presiden Berhasil, Kami Puas

Kinerja Food Estate Kalteng 2021?

Mengenai isu gagal panen, Sunarti menilai sebagai perhatian masyarakat pada perkembangan food estate di Kalteng. Ia menjadikan ini sebagai kritik perbaikan untuk lebih intensif lagi melihat lapangan. Namun dirinya keberatan bila kejadian tersebut, di generalisir seolah menjadi kegagalan panen secara makro, dan menganggap tidak mewakili luasan pertanaman.

“Yang terjadi adalah panen cepat akibat tanaman rubuh dan terendam. Terpaksa segera dipanen,pantas bila hasilnya belum optimal. Berbeda bila  dilihat pada lahan lain yang pertanamannya sudah tepat,” tegasnya.

Sunarti menambahkan lahan yang dianggap gagal panen pun hanya luasan kecil pada titik tertentu, sehingga tidak fair bila dibandingkan luasan pertanaman yang telah siap panen yang mencapai puluhan ribu hektar. “Kita akan tetap menjadi perhatian, terutama cara bertanamnya harus dirubah. Yang tanaman rubuh itu ditanam dengan sistem tabur, sehingga akarnya tidak cukup kuat menahan angin. Kita terus edukasi petaninya,” tutupnya.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018