Sunday, 28 February 2021


Pengelolaan Lahan Rawa Mutlak Perlu Intervensi Teknologi

22 Feb 2021, 11:41 WIBEditor : Gesha

Hamparan lahan center of excellence Balitbangtan di kawasan food estate | Sumber Foto:Puslitbang Tanaman Pangan

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Lahan rawa memang potensial untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. Karena itu, pengelolaannya mutlak memerlukan intervensi teknologi.

"Rawa tidak bisa dikelola secara konvensional, perlu intervensi teknologi. Apalagi tanpa terobosan teknologi baru," tukas Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Dr. Ir. Priatna Sasmita M.Si kepada tabloidsinartani.com.

Seperti diketahui, lahan rawa untuk dijadikan lahan sawah memiliki segudang kendala fisik dalam pengelolaannya. Pertama terkait rendaman, disaat musim penghujan, air meluap sehingga membutuhkan tata kelola air yang terpadu mulai dari hulu, jaringan primer, sekunder dan tersier. 

Termasuk tata kelola kualitas air yaitu pH rendah (asam) di lokasi food estate yang mencapai 4. Padahal, titik kritis pertumbuhan padi adalah pH sekitar 4-4.5, sehingga dibutuhkan pengolahan tanah dan varietas yang cocok untuk lahan rawa. "Kita berikan dolomit untuk menaikkan sedikit pH agar pertanaman padi bisa sesuai. Dengan penambahan dolomit 1 ton per hektar, pH bisa naik diatas 4.5," ungkapnya. 

Untuk varietas padi, diakui Priatna varietas padi Irigasi tidak adaptif untuk ditanam di lahan rawa, karenanya Balitbangtan telah menyiapkan varietas adaptif untuk lahan rawa yaitu varietas Inbrida Padi Rawa (Inpara).

"Balitbangtan sendiri memiliki 12 varietas unggul Inpara yaitu Inpara 1, Inpara 2 dan seterusnya. Varietas ini adaptif dengan cekaman rendaman. Inpara ini adaptif bisa tergenang 1-2 minggu, adaptif terhadap pH rendah (pH 4,5). Keunggulan lain dari Inpara, tentu saja potensial hasilnya tinggi dibandingkan dengan padi lokal yang selama ini digunakan petani di kawasan food estate," tuturnya. 

Intervensi selanjutnya adalah pemantauan dan pengendalian OPT dengan aneka ragam perangkap hama yang digunakan untuk menangkap hama sekaligus menganalisa jenis hama dan perilakunya untuk pengendalian.

"Hama di lahan padi rawa umumnya adalah tikus dan kita punya teknologi pengendalian tikus yang bisa diadopsi masyarakat. Mulai dari pengemposan dan gropyokan, trap barrier system (TBS) dan Linier Trap Barrier system (LTBS)," ungkapnya.

Kemudian rekomendasi pemupukan di lahan rawa juga menjadi bagian penting. Balitbangtan memiliki perangkat uji tanah Rawa (PUTR)  yang menguji kandungan fosfat, kalium di tanah kurang, cukup atau berlebih. Sehingga jika kurang harus ditambah dan penambahannya sesuai formulasi dosis. 

"Dari hasil uji PUTR kemarin dan analisis tanahnya, kita berikan pemupukan sebanyak 200 kg urea, 250 kg TSP dan 50-100 kg KCl. Tetapi semua tergantung pada tingkat kesuburan tanahnya, terutama di lahan rawa yang sudah digarap intensif atau lahan rawa yang baru ditanam. Lebih sedikit kebutuhan pupuk untuk rawa yang sudah digarap intensif dibandingkan rawa baru tanam," jelasnya. 

Hitung-hitungan Priatna, jika intervensi teknologi pengelolaan rawa ini dilakukan oleh petani sepenuhnya, produksi pangan dari kawasan Food Estate di Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas bisa memenuhi kebutuhan pangan (beras) se-Provinsi Kalimantan Tengah dan menambah produksi Nasional. 

"Dari 164.500 hektar lahan food estate dengan rata-rata 4 ton GKG per hektar saja sudah bisa membukukan 658 ribu ton. Dibandingkan dengan jumlah penduduknya 2,7 juta jiwa dan tingkat konsumsi 110 kg per orangnya yang secara total kebutuhan beras di Kalteng hanya 297 ribu ton saja per tahunnya," jelasnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018