Sunday, 11 April 2021


Pupuk Hayati Berbeda dengan Pupuk Organik

24 Feb 2021, 14:18 WIBEditor : Gesha

Pupuk hayati harus menjadi bagian | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Pemupukan berimbang adalah salah satu kunci meningkatkan produktivitas, pupuk hayati merupakan paket dalam pemupukan berimbang. Dengan menurunnya alokasi subsidi pupuk, efisiensi pemupukan sangat diperlukan dan pupuk hayati menjadi salah satu solusi mengefisienkan penggunakan pupuk kimia.

"Pupuk hayati itu penting dalam kesehatan tanah sebab, mikroba yang dikandung pupuk hayati dianalogikan sebagai “koki/juru masak” di dalam tanah. Sebagai “koki” mikroba tersebut menjalankan berbagai siklus hara di dalam tanah sehingga tanaman dapat menyerap hara lebih efisien dan keberlangsungan tanah sebagai media tumbuh tanaman dapat lestari," ungkap Peneliti Senior Bidang Mikrobiologi Tanah dan Pupuk Hayati di Balai Penelitian Tanah, Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian, Balitbangtan. 

Diungkapkannya, Pupuk hayati memiliki peran tersendiri bagi pertumbuhan dan hasil tanaman. Peran tersebut antara lain sebagai penyedia hara dan membantu mengatasi kelangkaan pupuk anorganik, termasuk memfasilitasi penyediaan hara secara tidak langsung dengan memacu pertumbuhan tanaman dan proteksi tanaman.

Edi Husen menjelaskan pupuk hayati (biofertilizer) seringkali dianggap sebagai pupuk organik. Kekeliruan ini sepertinya sepele, namun bisa berakibat fatal jika terdapat kesalahan dalam menggunakannya. Pupuk hayati atau mikroba telah dikenal sebagai penambat N, pelarut P dan perombak bahan organik. Selain itu, dengan pupuk hayati tanaman juga dapat terjaga dari pathogen. Selain sebagai solusi dalam pengurangan kebutuhan pupuk kimia, pupuk hayati juga mempunyai manfaat lain.

"Pengembangan pupuk hayati dapat mengurangi cekaman salinitas dan mengurangi cekaman kekeringan, namun memang terdapat beberapa tantangan seperti popularitasnya yang masih rendah sehingga fungsi pupuk hayati belum banyak diketahui dan teknik aplikasi pupuk hayati juga terkadang masih tidak di pahami oleh masyarakat," ungkap Edi Husen.

Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, brangkasan, tongkol jagung, bagas tebu, dan sabut kelapa), limbah ternak, limbah industri yang menggunakan bahan pertanian, dan limbah kota. Pupuk organik  sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Definisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan organik daripada kadar haranya; 

Sedangkan istilah pupuk hayati merujuk pada inokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah bagi tanaman. Dan tersedianya hara ini dapat berlangsung melalui peningkatan akses tanaman terhadap hara misalnya oleh cendawan mikoriza arbuskuler, pelarutan oleh mikroba pelarut fosfat, maupun perombakan oleh fungi, aktinomiset atau cacing tanah. 

Tantangan pengembangan pupuk hayati ke depan banyak terkait dengan seberapa besar pengetahuan pengguna tentang manfaat pupuk hayati dan seberapa praktis cara aplikasinya.

Fenomena perubahan iklim memerlukan inovasi baru dalam formulasi pupuk hayati untuk membantu tanaman mengendalikan cekaman biotik (hama dan penyakit) dan cekaman abiotik/lingkungan (salinitas, kekeringan, dll). Apalagi, mikroba asli dari tanah Indonesia memiliki keragaman tinggi dan masih belum banyak dieksplor untuk dikembangkan sebagai pupuk hayati yang mampu membantu tanaman mengendalikan cekaman biotik dan abiotik.

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018