Friday, 16 April 2021


Lestarikan Varietas Unggul Anggrek dan Pisang dengan Kultur Jaringan

02 Apr 2021, 06:42 WIBEditor : Gesha

Kultur Jaringan menjadi upaya perbanyakan varietas unggul | Sumber Foto:INDRI

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kultur jaringan, sebuah  teknik perbanyakan varietas tanaman yang dapat dilakukan setiap waktu, kini semakin diminati banyak pihak. Bahkan kini menjadi upaya untuk turut melestarikan varietas unggul anggrek dan pisang yang ada di DKI Jakarta.

Seperti yang dilakukan oleh Direktorat Perbenihan Hortikultura Kementerian Pertanian yang melakukan Bimbingan Teknis Kultur Jaringan sejak 23 Maret 2021 hingga 5 April 2021  di Laboratorium Kultur Jaringan, Lebak Bulus Jakarta Selatan. Dengan narasumber dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman (P2BPT) Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta.

“Kegiatan Bimtek Kultur Jaringan dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, yang merupakan salah satu kebun bibit di antara 14 kebun bibit yang dikelola oleh UPT P2BPT . Luasnya 1,436 Hektar. Berbagai fasilitas lengkap tersedia mulai dari Laboratorium Anggrek, Laboratorium Pisang, green house, aneka peralatan serta ruangan pertemuan dan ruangan untuk proses tahapan kultur jaringan,” kata Kepala UPT P2BPT, Ali Nurdin.

Penanggung jawab lab. Kultur Jaringan di Laboratorium Kultur Jaringan, Lebak Bulus Jakarta Selatan, Yendra

 

Ali melanjutkan, Varietas anggrek yang banyak dikembangkan di sini adalah Anggrek Dendrobium Sp, yang cocok dibudidayakan di dataran rendah. Sementara varietas pisang terdiri dari beberapa varietas seperti Cavendis, Barangan, Kepok, Raja Sereh, dan lainnya. 

Kegiatan Bimtek ini diikuti oleh 12 orang perwakilan dari 7 provinsi, yaitu Kalimantan Tengah 3 orang, Sumatera Barat 2 orang, Jawa Barat 2 orang, Maluku Utara 2 orang, Sumatera Utara 1 orang, Sulawesi Tengah 1 orang, Sulawesi Selatan 1 orang. Mereka sebagian besar bertugas di laboratorium pertanian daerah masing-masing.

“Materi Bimtek yang diberikan mulai pengenalan alat dan bahan laboratorium, pembuatan media dengan jenis-jenis anggrek dan pisang yang berbeda-beda, inisiasi, subkultur, aklimatisasi, teknik penyilangan anggrek dan teknik perawatan anggrek. Karena masih situasi Pandemi Covid-19, dari 12 orang dibagi 2 kelompok agar bergantian mempelajari pisang dan anggrek, nantinya sama- sama dapat materi selama 15 hari,” kata Penanggung Jawab Kebun Bibit dan Laboratorium Kultur Jaringan Lebak Bulus, Harjismi Yendra kepada Sinar Tani di kantornya Kamis (1/4).

Yendra berharap para peserta bisa memperkenalkan teknik kultur jaringan yang diperoleh selama Bimtek, kemudian mengembangkan lebih lanjut sehingga mampu memenuhi kebutuhan bibit di daerah mereka masing-masing. 

“Hasil siap sebar kultur jaringan ini memang agak lama, pisang sekitar 1 – 1,5 tahun sedangkan anggrek mencapai 3-4 tahun. Namun dengan teknik kultur jaringan kita bisa memperbanyak hingga ribuan jumlahnya," tambahnya.

Potensi anggrek di Indonesia cukup besar, bahkan di Kalimantan, Papua, Sulawesi, ada anggrek yang tumbuh secara alami di hutan-hutan. Anggrek paling cocok hidup di daerah dengan suhu agak dingin dan asri. Sedangkan tanaman pisang banyak dibudidayakan di luar Jakarta karena lahan yang masih sangat luas.

===

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018