Sunday, 11 April 2021


Dengan Intervensi Teknologi, Pemerintah Optimis Food Estate Berhasil

05 Apr 2021, 11:35 WIBEditor : Julianto

Hamparan lahan center of excellence Balitbangtan di kawasan food estate | Sumber Foto:Puslitbang Tanaman Pangan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pengelolaan kawasan food estate tak bisa dilakukan dengan cara biasa. Karenanya perlu sentuhan dan intervensi teknologi terbaru yang mampu menggerakkan semangat petani. Dengan intervensi teknologi, Kementerian Pertanian optimistis, kawasan pangan di Kalimantan Tengah akan menuai hasil.

Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang Pertanian) intensif bersama penyuluh pertanian terus mengajak petani di kawasan food estate untuk beralih pada teknologi terbaru dalam memproduksi pangan dan sejahtera secara ekonomi.

Setidaknya ada 3 kawasan dengan tipe lahan yang beragam mendapatkan prioritas pengembangan food estate. Sebut saja, Food Estate Kalimantan Tengah dengan tipe lahan rawa, Food Estate Sumatera Utara yang berada di ketinggian cocok untuk hortikultura dan Food Estate di Nusa Tenggara Timur dengan tipe lahan kering. 

“Kawasan food estate, seperti di Kalimantan Tengah dengan tipe lahan rawa yang menjadi super prioritas, tidak bisa dikelola secara biasa. Perlu adanya terobosan inovasi teknologi," tegas Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Dr. Ir. Priatna Sasmita M.Si.

Priatna mencontohkan, lahan rawa di Food Estate Kalimantan Tengah memiliki segudang kendala fisik dalam pengelolaannya. Pertama, saat musim penghujan, air meluap sehingga membutuhkan tata kelola air yang terpadu mulai dari hulu, jaringan primer, sekunder dan tersier. Termasuk tata kelola kualitas air yaitu pH rendah (asam) di lokasi food estate yang mencapai 4. 

Untuk varietas padi, diakui Priatna varietas padi Irigasi tidak adaptif untuk ditanam di lahan rawa. Karenanya, Balitbangtan telah menyiapkan varietas adaptif untuk lahan rawa yaitu varietas Inbrida Padi Rawa (Inpara). "Balitbangtan sendiri memiliki 12 varietas unggul Inpara yaitu Inpara 1, Inpara 2 dan seterusnya. Varietas ini adaptif dengan cekaman rendaman," jelasnya.

Intervensi selanjutnya adalah pemantauan dan pengendalian OPT dengan aneka ragam perangkap hama yang digunakan. Kemudian rekomendasi pemupukan di lahan rawa juga menjadi bagian penting. Balitbangtan memiliki perangkat uji tanah Rawa (PUTR).

Optimis Berhasil

Keberhasilan mengelola kawasan rawa di Sumatera Selatan dan serangkaian ujicoba akan inovasi teknologi, mampu memupuk kepercayaan diri saat Balitbangtan menerima tantangan mengelola food estate di Kalimantan Tengah.

"Dipadukan dengan kerja keras semua pihak yang terlibat termasuk petani, kami yakin akan keberhasilan menjalankan misi food estate tersebut," tegas Kepala Balitbang Pertanian, Dr. Ir. Fadjry Djufry M.Si.

Dirinya menambahkan, sejak awal dimulainya program food estate, Balitbangtan telah menerjunkan tim terbaiknya dalam melakukan pengkajian, memberikan rekomendasi dan melakukan pendampingan baik kepada pemerintah daerah setempat ataupun langsung kepada petani.

"Di food estate kami juga telah membangun center of excellent yaitu model ideal food estate yang sesuai dengan kondisi petani serta peluang industri. Lokasi tersebut yang akan menjadi pusat percontohan bagi kawasan di sekitarnya," tambahnya.

Tak hanya peluang, pengelolaan hulu hilir dengan basis korporasi menjadi tujuan utama Food Estate yang dicanangkan Presiden RI, Joko Widodo ini.

"Penyediaan cadangan pangan nasional menjadi agenda strategis yang harus dilakukan dalam rangka mengantisipasi kondisi krisis pangan, juga untuk mengantisipasi perubahan iklim, dan juga tidak kalah pentingnya adalah mengurangi ketergantungan kita pada impor pangan,” tegas Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam setiap kesempatan. ***

Reporter : TABLOID SINAR TANI/Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018