Wednesday, 14 April 2021


Rain Shelter, Amankan Tanaman Cabai saat Musim Hujan

05 Apr 2021, 15:40 WIBEditor : Yulianto

Rain shelter melindungi tanaman dari terpaan hujan | Sumber Foto:Dok. Takiron

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Alam menjadi salah satu penentu yang sangat berpengaruh pada budidaya tanaman cabai di lahan terbuka. Cuaca ekstrim dan iklim menjadi tantangan terbesar yang harus disiasati petani.

Budidaya cabai di musim penghujan akan sangat riskan tanpa penerapan teknologi tambahan yang bisa melindungi tanaman. Produktivitas akan terganggu apabila tanaman dibiarkan langsung terkena hujan, karena mengakibatkan bunga cabai rontok, serta resiko busuk cabai menjadi tinggi. Kondisi ini akan merugikan petani cabai karena hasil panen akan turun.

Abdul Hamid, Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) mengatakan, musuh utama tanaman cabai adalah virus sebanyak 48 persen. Berikutnya adalah penyakit 16 persen yang akan mengganggu produktivitas hasil panen. “Karena itu pengolahan tanah menjadi sangat penting untuk mendapatkan tanaman cabai yang sehat dan produktif,” katanya.

Menurutnya, ada tiga langkah penting adalah menyehatkan tanah. Pertama, dengan kapur. Kedua, dilanjutkan dengan menyehatkan tanaman menggunakan pupuk organik dan kimia termasuk perawatan.Ketiga, perlunya teknologi pelindung tambahan.

Rain Shelter

Teknologi rain shelter atau sungkup bisa menjadi solusi untuk menjaga produktivitas cabai di musim penghujan. Arkia Pramudya, Marketing Supervisor PT Takiron Indonesia menjelaskan, fungsi rain shelter ini sama seperti screenhouse, namun lebih mudah diaplikasikan petani.

Rain shelter merupakan atap sungkup dari plastik UV yang dipasang menggunakan kerangka tertentu. Bentuk, ukuran dan bahan yang digunakan bervariasi tergantung kebutuhan lahan,” katanya.

Adapun manfaat utama sungkup ini adalah menahan air hujan secara langsung yang akan mengakibatkan rontoknya bunga dan berpotensi mengakibatkan buah cabai menjadi busuk. Kokohnya kerangka juga akan melindungi tanaman dari terpaan angin kencang yang datang bersama hujan.

Disamping itu teknologi ini juga dapat menjaga kelembaban lingkungan tanaman. Perlindungan jaring atau net ini meminimalisir serangan hama, sehingga membuat petani lebih tenang.

Teknologi rain shelter ini mulai diperkenalkan PT Takiron Indonesia mulai tahun 2017 dan sangat membantu petani tanaman hortikulturs, terutama cabai dan tomat. Banyak petani di Jawa Timur yang sudah menggunakan produk ini,” kata Pramudya.

Rain shelter produksi PT Takiron ini bisa dipergunakan hingga 10 tahun. Kekuatan rangka (Tunnel) produk ini sudah teruji dan sudah dipergunakan dan dipercaya selama 40 tahun oleh konsumen di Jepang, sehingga tidak perlu pergantian rangka setiap tahun. Beda dengan rangka bambu yang hanya kuat 1 hingga 2 tahun saja,” ujarnya.

Selain rain shelter, perusahaan yang memiliki kantor pusat di Jepang ini juga memproduksi teknologi perlindungan tanaman lainnya. Seperti, ajir atau penopang tanaman dengan berbagai ukuran dengan bahan dari pipa baja yang dilapisi dengan plastik poliolefin yang ramah lingkungan.

 

 ==

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/

 

Reporter : Iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018