Tuesday, 03 August 2021


Degradasi Lahan, Pemerintah Dorong Pertanian Ramah Lingkungan

14 Apr 2021, 15:04 WIBEditor : Yulianto

alih funsgi lahan pertanian menjadi industri | Sumber Foto:Dok. sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Di tengah isu lingkungan yang terus bergema, Kementerian Pertanian kini mendorong pengembangan budidaya pangan ramah lingkungan. Apalagi selama ini petani sudah terlalu lama mengunakan sarana pertanian anorganik yang berdampak pada degradasi lahan.

Direktur Serealia Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan, Mohamad Ismail Wahab mengakui, orogram revolusi hijau tahun 70-an memang membuat Indonesia menjadi produsen padi nomor 2 di dunia. Indonesia hanya kalah dari Vietnam dan unggul dari Thailand dan Filipina. Namun disisi lain membawa dampak lingkungan.

Lebih mengkhawatirkan, saat ini ada kecenderungan petani semakin banyak menggunakan dosis anorganik dengan takaran lebih besar. Hal ini karena bahan organik di sawah sudah semakin kritis.

“Sudah terlalu lama petani kita menggunakan input anorganik pupuk dan pestisida dan tidak terkontrol. Ini berdampak pada degradasi lahan dan ketahanan tanaman terhadap hama penyakit,” kata Ismail saat FGD Meningkatkan Produksi Pangan Ramah Lingkungan Tabloid Sinar Tani, Rabu (14/4)

Mengutip pemberitaan salah satu media masa Ismail mengatakan, setengah produksi pangan dunia sebabkan kerusakan lingkungan. “Ini menjadi isu yang relevan sekarang ini,” katanya.

Menurut Ismail, pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahanan produktivitas tinggi.  Pertanian ramah lingkungan tersebut dengan memperhatikan pasokan hara dari penggunaan bahan organik, minimalisasi ketergantungan pada pupuk anorganik, perbaikan biota tanah, pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Untuk itu Kementerian Pertanian menginisiasi langkah dan solusi pengelolaan lingkungan pertanian. Caranya dengan membentuk sistem pertanian berkelanjutan untuk mendorong peningkatan produksi namun tetap menjaga kelestarian lingkungan. Salah satunya dengan pengembangan pertanian organik dengan meningkatkan penggunaan bahan berbasis organik (hayati) sebagai inputan.

Input serana produksi itu seperti dolomit dan pupuk organik (hayati) cair untuk pemupukan lahan. Selain itu, membatasi kuantitas input pestisida kimia dan mengganti dengan biopestisida hayati. Proses transformasi ini dilakukan melalui penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dan pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Sementara itu ditempat terpisah, Professor Riset Agus Pakpahan mengatakan, pengolahan lahan pertanian konvensional yang mengandalkan pupuk anorganik terus menerus dengan jumlah tinggi berpengaruh pada kondisi lahan menjadi kritis. Kandungan c-organic lahan menjadi rendah bahkan mendekati seperti tanah gurun dan tekstur tanah menjadi keras.

Penelitian terakhir menemukan realita kadar c-organik sudah dibawah 2 persen alias kritis pada mayoritas lahan pertanian. Bahkan dalam perawatan tanaman, penggunaan pestisida kimia sudah menjadi standar prosedur normal yang lazim dilakukan. Petani bahkan melakukan aplikasi pestisida dosis tinggi untuk melindungi tanaman dari Organisme Pengganggu Tanaman,” katanya.

Pada jangka panjang menurut Agus, dampak negatif yang akan timbul adalah OPT menjadi resisten, terjadinya kerusakan lingkungan dan ketidakseimbangan ekosistem. Lebih mengkhawatirkan menimbulkan keracunan bagi manusia yang berujung pada kematian dan timbulnya berbagai penyakit.

 --

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

Reporter : Iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018