Sunday, 09 May 2021


Regulasi Lengkap, Peluang Pengembangan Tanaman Bioteknologi Kian Terbuka

21 Apr 2021, 09:02 WIBEditor : Gesha

Kultur jaringan merupakan salah satu bagian dari bioteknologi | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Saat ini perangkat regulasi sebagai payung hukum sudah lengkap tersedia. Karenanya peluang pengembangan tanaman produk rekayasa genetika (PRG) di dalam negeri kian terbuka lebar.

Dalam acara webinar yang berlangsung Selasa (20/04) Direktur SEAMEO Biotrop Dr Zulhamsyah Imran  mengemukakan, dengan kian terbatasnya lahan pertanian, adopsi bioteknologi bisa menjadi solusi untuk dapat meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman sehingga kebutuhan bahan pangan bagi masyarakat dapat terpenuhi.

Fakta menunjukkan, melalui aktivitas rekayasa genetika sebagai bagian dari aplikasi bioteknologi telah dihasilkan tanaman yang memiliki ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit serta lebih tahan genangan, kekeringan bahkan stres akibat perubahan iklim. 

Kegiatan bioteknologi lain seperti pengaplikasian teknologi kultur jaringan terbukti telah bisa membuat perbanyakan tanaman menjadi lebih cepat dan masal . Adopsi bioteknologi juga bisa mendukung upaya menghasilkan varietas unggul tanaman serta pupuk hayati yang ramah lingkungan.

"Meski sempat terkendala kurangya dukungan regulasi, produk pangan berasal dari benih tanaman hasil rekayasa genetik saat ini nyatanya terus berkembang,' kata Dirut Biotrop.

Kini dengan telah lengkapnya regulasi terkait pengembangan tanaman hasil rekayasa genetika , menurut Zulhamsyah Imran, yang menjadi pekerjaan rumah (PR) adalah bagaimana bisa mengedukasi masyarakat agar persepsi negatif terhadap produk pangan hasil teknologi rekayasa lambat laun dapat dihilangkan. 

"Pandangan negatif memang kini masih ada padahal selama ini tahu dan tempe yang dikonsumsi masyarakat kita diproduksi menggunakan kedelai impor produk rekayasa genetika,' jelasnya.

Catatan Sejarah 

Ketua Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetika (KKH-PRG), Bambang Prasetya menilai hadirnya regulasi terbaru terkait pengembangan tanaman PRG merupakan catatan sejarah di dunia bioteknologi pertanian Indonesia .

Regulasi dimaksud adalah berupa Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 50 tahun 2020 tentang Pengawasan dan Pengendalian Varietas Tanaman PRG Pertanian yang Beredar di Wilayah Republik Indonesia.

"Diterbitkannya Permentan pada 30 Desember 2020 itu merupakan angin segar bagi peneliti dan selama ini sangat ditunggu petani kita," tutur Bambang.

Keberadaan Permentan 50 dinilainya penting karena sebagai dasar hukum tim Kementan untuk mengkaji dan meloloskan varietas tanaman PRG setelah memperoleh rekomendasi aman lingkungan dari Komisi keamanan Hayati.

Bambang berharap keberadaan landasan hukum tersebut nantinya akan mendorong lebih banyak dihasilkan benih tanaman PRG di dalam negeri yang dirasakan kian besar kebutuhannya di kalangan pelaku usaha pertanian. 

Penggunaan benih tanaman PRG dapat dijadikan solusi untuk menggenjot peningkatan produksi bahan pangan yang ketergantungannya terhadap produk impor masih besar. Salah satunya benih tanaman kedelai.

Sebagai gambaran disebutkan, volume impor kedelai PRG Indonesia selama tiga tahun terakhir mencapai sekitar 2,5 juta ton. Sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu ton.

"Tantangan ke depan bukan hanya peningkatan produksi pangan tetapi juga tanaman PRG diharapkan bisa berkontribusi dalam perbaikan gizi sehingga dapat menekan kejadian stunting di masyarakat caranya dengan menambahkan zat besi,zinc dan vitamin A ,"jelas Bambang.

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018