Sunday, 09 May 2021


Ini Rekomendasi Teknologi Pemupukan Lahan Sawah, Kering Hingga Gambut

21 Apr 2021, 16:20 WIBEditor : Gesha

Pemupukan berimbang merupakan kunci dalam peningkatan produktivitas | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang Pertanian) telah mengeluarkan rekomendasi teknologi pemupukan di lahan sawah, lahan kering hingga lahan gambut yang bisa diaplikasikan petani. Seperti apa?

Melihat kondisi lahan pertanian yang kian jenuh dan tinggi kadar P dan K, Balitbangtan memiliki paket teknologi pemupukan untuk di berbagai kondisi lahan, mulai dari lahan sawah, lahan kering hingga lahan gambut dan sulfat masam. Paket teknologi ini bisa diaplikasikan oleh penyuluh dan petani di sentra pertanian.

Untuk lahan sawah intensif maupun bukaan baru,  Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Dr. Husnain, M.P., M.Sc, PhD dalam Focus Group Discussion (FGD) Rasionalisasi Aplikasi Pupuk dengan Teknologi Ramah Lingkungan dan 4.0, yang digelar TABLOID SINAR TANI, Rabu (21/4), mengatakan dosis pupuk tunggal N,P,K direkomendasikan berdasarkan Bagan Warna Daun (BWD) dan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Sedangkan untuk pupuk majemuk, dengan formulasi 15-10-12 sebanyak 250-350 kg per hektar. 

Khusus untuk lahan bukaan baru, penggunaan dolomit sangat direkomendasikan pada lahan sawah bukaan baru. Adapun jumlah dolomit yang digunakan adalah 1 ton per hektar. Secara umum, lahan bukaan baru dari lahan masam dan marginal kondisi tingkat keasaman tanah sekitar pH 4,0-5,0. Sedangkan umumnya tanaman membutuhkan kondisi keasaman yang ideal pada pH 6,0-6,5, sehingga dolomit sangat dibutuhkan. 

Untuk unsur organik, lahan sawah intensif maupun bukaan baru menggunakan pupuk organik dari jerami, kohe, sisa tanaman maupun limbah organik. Adapun dosis yang dibutuhkan adalah 2 ton per hektar. Sedangkan pupuk hayati, petani bisa menggunakan Agrimeth/Bionutrien/Smart/Buirhiz sebanyak 200-500 gram per hektar. Untuk pengomposan bisa menggunakan dekomposer Mdec/Bioagrodeco sebanyak 5 kg/hektar. 

Penggunaan air pun berpengaruh penting dalam proses pemupukan. Untuk lahan intensif, gunakan air macak-macak sedangkan untuk bukaan lahan baru bisa menggunakan pengairan berselang atau pencucian. Umumnya pemberian air yang dipraktekkan petani pada padi sawah irigasi adalah dengan digenangi terus menerus sehingga sangat boros, penggunaan air berkisar antara 11.000-14.000 meter kubik/ha pada musim kemarau (MK) dan 8.000-10.000 meter kubik per ha pada musim hujan (MH). Selain tidak efisien, cara ini juga berpotensi mengurangi efisiensi serapan hara nitrogen (N) pada pupuk. 

Lahan Kering dan Gambut

Sementara untuk lahan kering berupa tadah hujan, pemberian pupuk juga diharapkan sesuai rekomendasi Balitbang Pertanian. Mulai dari penggunaan pupuk tunggal N 200-250 kg untuk padi gogo tanah masam, dan 150-200 kg pupuk N plus 50 kg ZA di pertanaman padi gogo tanah non masam. Namun kisaran tersebut kembali disesuaikan dengan kadar pH tanah yang diberikan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK).

Sedangkan untuk dosis P sebanyak 100-200 kg, baik untuk pertanaman padi gogo tanah non masam maupun tanah masam. Untuk pupuk K, direkomendasikan 50-100 kg bagi pertanaman padi gogo tanah non masam maupun tanah masam. Bagi tanah masam, dilakukan penambahan amelioran berupa dolomit sebanyak 1 ton per hektar.

Penggunaan pupuk organik pun jangan sampai lupa, petani bisa menggunakan pupuk organik dari jerami, kohe, sisa tanaman maupun limbah organik. Adapun dosis yang dibutuhkan adalah 2 ton per hektar. Sedangkan pupuk hayati, petani bisa menggunakan Agrimeth/Bionutrien/Smart/Buirhiz sebanyak 200-500 gram per hektar. Untuk pengomposan bisa menggunakan dekomposer Mdec/Bioagrodeco sebanyak 2-5 kg/hektar. 

Sedangkan untuk lahan gambut (gambut biasa maupun sulfat masam), rekomendasi Balitbang Pertanian menggunakan pupuk N sebanyak 200-250 kg/ha, pupuk P dan K 50-100 kg/ha. Besaran dosisnya disesuaikan dengan kadar pH yang diberikan Perangkat Uji Tanah Rawa (PUTR).

Untuk amelioran paa lahan gambut biasa, bisa menggunakan Pugam sebanyak 600 kg/hektar dan amelioran lain sebanyak 2 ton per hektar jika tanah mineral tinggi Fe (besi). Khusus untuk lahan sulfat masam, menggunakan Biosure sebanyak 30 liter per hektar dan pupuk kandang 2 ton per hektar sebagai amelioran.

Untuk pupuk hayati bisa menggunakan Bionutrient maupun Agrimeth sebanyak 200-500 gram per hektar pada padi gambut biasa, dan menggunakan dekomposer berupa Mdec atau Bioagrodeco sebanyak 2kg/hektar. Sedangkan pada lahan gambut sulfat masam bisa menggunakan Biotara sebanyak 25 kg/hektar disamping menggunakan Bionutrient maupun Agrimeth sebanyak 200-500 gram per hektar dan menggunakan menggunakan dekomposer berupa Mdec atau Bioagrodeco sebanyak 2kg/hektar.

Pada lahan gambut biasa, perlu ditambahkan pupuk mikro sebanyak 15 kg/hektar. Pengelolaan air paling penting pada pertanaman padi di lahan gambut. Lahan gambut biasa menggunakan pengelolaan sistem tabat, sedangkan pada lahan gambut sulfat masam menggunakan tabat dengan mempertahankan air 60-70 cm dari permukaan.

 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018