Sunday, 09 May 2021


Pertanian Ramah Lingkungan, Dukungan Besar bagi Kelestarian Bumi

22 Apr 2021, 21:22 WIBEditor : Gesha

Webinar dalam rangka peringatan Hari Bumi bertema “Pertanian Ramah Lingkungan sebagai Upaya Kemandirian Pangan dan Penyelamatan Bumi” pada Selasa (20/4). | Sumber Foto:Dinas KPKP

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Bumi sebagai tempat tinggal manusia dan seluruh makhluk memberikan manfaat yang sangat besar. Kepedulian menjaga bumi dari segala bentuk kerusakan akibat perbuatan manusia, menjadi suatu keharusan.

“Hari Bumi” semakin diapresiasi sebagai momentum penting menjaga kelestarian lingkungan. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta menyelenggarakan Webinar dalam rangka peringatan Hari Bumi bertema “Pertanian Ramah Lingkungan sebagai Upaya Kemandirian Pangan dan Penyelamatan Bumi” pada Selasa (20/4).

Dinas KPKP DKI Jakarta berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (DPEK) DKI Jakarta serta PT Bank DKI. Antusiasme peserta Webinar terlihat dari berbagai wilayah yang mengikuti virtual Zoom sebanyak 240 orang partisipan, dan Channel YouTube Go JakFarm yang sudah ditonton sebanyak 345 kali.

Pemandu Webinar ini adalah kaum muda milenial icon pariwisata Jakarta, yaitu Arrumbinang Adikismo – Abang DKI Jakarta 2019 dan Mutiara Maharini – None DKI Jakarta 2019.

“Memperbaiki ekosistem menjadi peran bersama-sama seluruh masyarakat. Aktivitas pertanian di lingkungan, yaitu dengan memanfaatkan ruang yang kita punya untuk pertanian, sehingga menambah sumber pangan. Kemudian kegiatan daur ulang sampah, dan berkebun menjadi aktivitas fisik yang menyehatkan dan meningkatkan imun atau daya tahan tubuh. Indikasi kualitas udara yang baik juga dapat dilihat dari datangnya satwa misalnya kupu kupu atau burung ke kebun kita,” kata Plt. Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Suharini Eliawati dalam sambutannya.

Peringatan Hari Bumi juga dapat dilakukan dengan cara mematikan lampu selama satu jam sebagai dukungan untuk penghematan energi sekaligus ramah lingkungan. “Tekad bersama untuk memperbaiki bumi yang kita tinggali inilah yang terpenting. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah membuat Grand Design Pertanian Perkotaan hingga tahun 2030, paling pentingnya adalah menciptakan 30 persen Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk tanaman produktif. Kini masyarakat Jakarta sudah memanfaatkan ruang untuk pertanaman hortikultura. Dinas KPKP mendukung dengan penyiapan benih dan pendampingan,” tuturnya.

Sebanyak 417 orang petani milenial Jakarta telah mengembangkan usaha perakitan rak hidroponik dan berbagai peluang pemasaran produk hortikultura sebagai bagian dari program JakPreneur. Warga Jakarta yang hendak bertanam sayuran segar dan sehat pun dapat menghubungi Satlak KPKP di setiap kecamatan untuk dilakukan pendampingan.

Pelayanan bibit tanaman secara gratis juga dapat diakses oleh warga Jakarta baik individu maupun komunitas. Di era waspada pandemic Covid-19 ini, bibit tanaman dapat dikirimkan melalui aplikasi online.

“Berkebun akan membawa perubahan besar pada bumi. Dalam berkebun maka akan terjadi penggunaan karbondioksida (CO 2) oleh tanaman dan tanaman akan melepaskan oksigen ( O2 ) untuk kita hirup, selain itu dapat menghasilkan pangan,” kata Ida Amal – Penggiat Indonesia Berkebun yang menjadi narasumber webinar.

Lebih lanjut Ida mengemukakan bahwa berkebun juga bermanfaat mengurangi pemanasan global, mengurangi lubang ozon yang berdampak pada perubahan iklim. Nilai manfaat berkebun bagi tanah adalah mampu merehabilitasi tanah dengan adanya tanaman, mengurangi polusi udara dan meminimalkan kerusakan lingkungan. Langkah kecil yang berdampak besar, berawal dari berkebun di rumah, bumi terselamatkan, mandiri pangan.

Senada dengan Ida Amal, narasumber penggiat kelestarian lingkungan dari Indonesia Food and Agriculture Council (IFAC), drg. Imam Rulyawan sebagai Direktur Program dan Pengembangan, juga menyampaikan sejumlah solusi untuk pengembangan pertanian.

“Potensi besar pertanian yang kami pahami dari beberapa lokasi, problematikanya bukan sempit atau kurangnya lahan, tetapi masih banyak lahan yang belum produktif. Solusi Pertama adalah Reklamasi lahan, dengan tujuan mengembalikan vitalitas dan nutrisi lahan yang terabaikan dan non produktif. Kedua dengan Talentani Indonesia atau program apresiasi, promosi dan pemberdayaan bagi figure atau tokoh pertanian. Ketiga, Diklat Digital AgroPreneur atau pelatihan kewirausahaan pertanian, Keempat Sehat Pangan Indonesia atau program riset dan pengembangan varietas unggul tanaman pangan, dan Kelima, Zero Waste Management untuk efektivitas dan efisiensi seluruh rantai pasok makanan,” kata Imam.

Penggiat pertanian organic, Fajar Wiryono – Kepala Diklat Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) Petani Kota Jakarta juga aktif mengkampanyekan pangan sehat berbasis pertanian organik.

“Maporina berkomitmen menjaga lingkungan hidup, kesehatan, dan kesejahteraan. Kerusakan lingkungan yang dibahas pada Hari Bumi ini akibat alih fungsi lahan, persawahan, dan industri. Selain itu perusakan hutan yang menjadi paru-paru dunia, pembuangan sampah yang mengakibatkan pencemaran sungai dan pantai, serta penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara berlebihan. Di era tahun 1960-an diperkenalkan, dengan alasan untuk meningkatkan produktifitas, sehingga sebagian petani lupa pada pupuk organic dan tanah pun menjadi rusak. Akibat lainnya yang timbul, yaitu residu atau sisa larutan pestisida dalam sayur dan buah,” kata Fajar yang juga mengelola P4S HSC Urban Farm.

Prinsip dasar budidaya pertanian organik yaitu Pertama, Lingkungan harus bebas dari kontaminasi bahan-bahan sintetik, Kedua, Bahan Tanaman berupa varietas yang telah beradaptasi baik di daerah yang bersangkutan, dan tidak boleh berdampak negative terhadap lingkungan, Ketiga, Pola Tanam yang berdasarkan prinsip-prinsip konservasi tanah dan air, Keempat, Pemupukan berasal dari bahan organic seperti kompos sisa makanan, kotoran ternak, pupuk hijau, jerami, dan sebagainya tanpa cemaran bahan kimia dan zat beracun. Semua zat pengatur tumbuh tidak boleh digunakan. Kelima, Pengelolaan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan memakai pestisida hayati.

Reporter : Indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018